Suara.com - Pasar logam mulia global mengalami aksi jual (sell-off) paling masif dalam beberapa tahun terakhir, memicu pembalikan arah yang dramatis setelah reli panjang yang sempat membawa harga ke level tertinggi sepanjang masa.
Emas tercatat anjlok hingga 8 persen, menembus batas psikologis ke bawah level US$ 5.000 per ons. Tren serupa melanda perak yang merosot hingga di bawah level US$ 100 per ons.
Tidak hanya logam mulia, tembaga di bursa London juga terkoreksi lebih dari 3 persen, padahal baru saja mencatatkan lonjakan harian terbesar sejak 2008 pada Kamis lalu.
Pemicu utama keruntuhan harga ini adalah penguatan kembali mata uang dolar AS. Sentimen pasar berubah drastis setelah muncul laporan bahwa pemerintahan Donald Trump tengah bersiap mencalonkan mantan Gubernur Bank Sentral AS (The Fed), Kevin Warsh, sebagai Ketua The Fed yang baru.
Langkah ini mengejutkan investor yang sebelumnya bertaruh pada pelemahan dolar setelah sinyal awal dari Presiden Trump.
Meskipun Warsh dikenal sebagai "elang inflasi" (inflation hawk), belakangan ia menyelaraskan diri dengan pandangan Trump untuk mendukung suku bunga rendah. Pengumuman resmi nominasi ini dijadwalkan dilakukan pada Jumat pagi waktu Amerika Serikat.
Volatilitas Ekstrem dan Indikator "Overbought"
Koreksi tajam ini sebenarnya telah diprediksi oleh sejumlah analis teknikal. Strategis dari Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC), Christopher Wong, menyebutkan bahwa pasar memang sedang menunggu alasan untuk melepaskan posisi beli yang sudah terlalu jenuh (overbought).
"Emas memvalidasi pepatah 'cepat naik, cepat turun'. Laporan nominasi Warsh hanyalah pemicu bagi koreksi yang memang sudah seharusnya terjadi," ungkap Wong, dilansir via Bloomberg.
Baca Juga: Profil Peter Sondakh: Konglomerat Rajawali Corpora, 'Penguasa' Tambang Emas ARCI
Beberapa poin penting terkait volatilitas pasar saat ini meliputi:
- Indikator RSI: Indeks Kekuatan Relatif (RSI) emas sempat menyentuh angka 90, level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir, yang menandakan harga sudah terlalu mahal.
- Kejatuhan Perak: Harga perak anjlok lebih dari 17 persen menuju level US$ 95 per ons.
- Logam Lain: Platinum juga terhempas dengan penurunan lebih dari 10 persen.
Meskipun terjadi penurunan tajam hari ini, emas sebenarnya masih mencatatkan performa luar biasa dengan kenaikan sekitar 17 persen sepanjang Januari 2026—kenaikan bulanan tertajam sejak 1980. Sementara itu, perak telah melonjak hampir 40 persen sejak awal tahun.
Lonjakan harga logam mulia sebelumnya dipicu oleh kebijakan luar negeri Donald Trump yang kontroversial, termasuk ancaman serangan terhadap Iran, pengenaan tarif terhadap sekutu, hingga ketidakpastian status Greenland.
Di sisi lain, risiko penutupan pemerintahan (government shutdown) di AS berhasil dihindari setelah Trump mencapai kesepakatan sementara dengan Demokrat di Senat terkait pembatasan penggerebekan imigrasi.
Di Asia, investor China sempat memimpin perburuan emas dalam jumlah besar, hingga memaksa Bursa Berjangka Shanghai (Shanghai Futures Exchange) mengeluarkan kebijakan khusus untuk mendinginkan lonjakan harga di pasar logam mulia dan industri.
Kontributor : Rizqi Amalia
Berita Terkait
-
Geger Temuan PPATK, Rp992 Triliun Perputaran Duit Tambang Emas Ilegal, Siapa 'King Maker'-nya?
-
Untung Rugi Investasi Emas Digital, Opsi Menarik di Tengah Harga Fisik yang Terus Melonjak
-
Prabowo Buka Rakornas Pemerintah 2026, Bahas Evaluasi 2025 hingga Target Ekonomi
-
MUI Minta Indonesia Keluar dari Board of Peace, Mensesneg: Kami Akan Berikan Penjelasan
-
WNI Bisa Tenang, Harga Emas Lokal Stabil saat Emas Dunia Terkoreksi Parah
Terpopuler
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
Pilihan
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
Terkini
-
Dimulai dari Reservasi, Hotel di Gading Serpong Ini Andalkan Pengalaman Serba Digital
-
Kronologi Dugaan Guru SD Hukum Murid Pakai Mistar di Lubuklinggau, Polisi Periksa TKP
-
Daftar Brand yang Paling Sering Masuk Keranjang Belanja Warga Indonesia
-
Kenapa Harga Pemain EA FC 26 Naik-Turun Setiap Pekan? Ini Polanya
-
Flu Singapura Merebak di Sumsel, Mengapa Palembang Jadi Daerah dengan Kasus Terbanyak?
-
Statistik Apik Youri Tielemans, Pengganti Casemiro yang Lebih Efisien untuk MU
-
Purbaya Jamin Kopdes Merah Putih Pasti Untung, Asal Tak Dikorupsi
-
Jembatan Musi V Segera Dibuka, Perjalanan Palembang-Betung Bakal Cuma 1 Jam
-
Demi Selamatkan Hukum, Mahfud MD dan Busyro Muqoddas Diusulkan Masuk Kabinet Prabowo
-
Aisyah Aqilah 'Siksa' Emosi demi Sajen Satu Suro: Lebih Melelahkan dari Teror Horor