Bisnis / Makro
Jum'at, 06 Februari 2026 | 18:27 WIB
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso dalam kegiatan Capaian Kinerja 2025 dan Program Kerja 2026 di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Jumat (6/2/2026). [Suara.com/Fakhri Fuadi Muflih].
Baca 10 detik
  • Harga komoditas utama Indonesia seperti CPO dan batu bara turun signifikan sepanjang tahun 2025.
  • Mendag Budi Santoso menyampaikan penurunan harga energi lain, namun emas naik 61,6 persen pada 2025.
  • Ekspor Indonesia 2025 tumbuh 6,15 persen dan mencatat surplus neraca perdagangan senilai 41,05 miliar USD.

Suara.com - Harga sejumlah komoditas utama Indonesia tercatat mengalami tekanan sepanjang 2025. Penurunan harga tersebut terjadi pada komoditas energi maupun komoditas unggulan yang selama ini menjadi penopang ekspor nasional.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyebutkan, penurunan harga terlihat pada minyak mentah kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) serta batu bara. Dua komoditas tersebut selama ini memiliki kontribusi besar terhadap kinerja ekspor Indonesia.

"CPO tahun 2025 itu harganya turun 16,2 persen. Kemudian batu bara, ini sumber dari Bloomberg ya, batu bara turun 19,7 persen," ujarnya dalam kegiatan Capaian Kinerja 2025 dan Program Kerja 2026 di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Jumat (6/2/2026).

Antrean truk TBS kelapa sawit [Antara]

Selain CPO dan batu bara, Mendag mengungkapkan penurunan harga juga terjadi pada komoditas energi lainnya. Brent crude oil tercatat turun 16,8 persen, sementara WTI crude oil mengalami penurunan sebesar 18 persen.

Tak hanya itu, harga nikel juga mengalami koreksi dengan penurunan mencapai 9,4 persen sepanjang 2025. Di sisi lain, harga emas justru bergerak berlawanan arah.

Budi menyebutkan, harga emas mengalami kenaikan signifikan pada 2025. Komoditas logam mulia tersebut tercatat melonjak hingga 61,6 persen.

Menurut Mendag, penurunan harga sejumlah komoditas utama tersebut turut memengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Pasalnya, komoditas-komoditas tersebut memiliki porsi ekspor yang cukup besar.

"Ini tentu akan memengaruhi kinerja ekspor utama untuk komoditas ini karena komunitas ini ekspornya cukup tinggi," urainya.

Meski dihadapkan pada tekanan harga komoditas global, Budi menyampaikan kinerja ekspor Indonesia secara keseluruhan masih mencatatkan pertumbuhan positif. Nilai ekspor Indonesia selama Januari–Desember 2025 mencapai 282,91 miliar dolar Amerika Serikat.

Baca Juga: Pemerintah Catat Belanja Nasional Capai Rp 393,78 T Sepanjang 2025

Capaian tersebut naik 6,15 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang tercatat sebesar 266,53 miliar dolar AS. Kinerja tersebut dinilai tetap solid di tengah tantangan global.

"Dengan tantangan global yang ada dengan harga komoditas yang seperti saya sampaikan tadi, kita tetap tumbuh 6,15 persen dan kalau kita lihat ekspor non-migas kita mencapai 7,66 persen," sambungnya.

Di sisi lain, Mendag juga menyoroti kinerja neraca perdagangan Indonesia yang masih mencatatkan surplus. Neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2025 tercatat surplus sebesar 41,05 miliar dolar AS.

Surplus tersebut meningkat 31,03 persen dan telah berlangsung selama 68 bulan berturut-turut. Capaian ini disebut mencerminkan ketahanan sektor perdagangan Indonesia di tengah dinamika pasar global.

"Mudah-mudahan dalam kondisi apapun di pasar global kita tetap terus meningkatkan ekspor kita," pungkas Mendag.

Load More