Suara.com - Kondisi pasar investasi di Indonesia (dan mungkin seluruh dunia) saat ini terkadang membuat khawatir. Inilah yang bisa Anda lakukan jika Reksadana turun.
Tak dapat dipungkiri, ketika pasar sedang turun, banyak investor menjadi cemas dan tergoda untuk menjual investasi mereka untuk menghindari kerugian lebih lanjut.
Namun, keputusan seperti ini sering kali kontraproduktif, terutama bagi investor jangka panjang.
Menjual saat pasar sedang lemah dapat mengunci kerugian dan membuat Anda kehilangan potensi pemulihan pasar di masa depan.
Sebaliknya, penurunan pasar juga bisa menjadi peluang untuk membeli lebih banyak reksa dana dengan harga lebih rendah.
Strategi ini, dikenal sebagai averaging down, memungkinkan investor untuk menurunkan biaya rata-rata investasi mereka dan berpotensi meningkatkan keuntungan ketika pasar pulih.
Mengapa Tidak Boleh Gegabah Menjual Reksadana saat pasar Turun?
Sebab hal terpenting dalam investasi adalah tetap fokus pada tujuan investasi jangka panjang Anda, alih-alih bereaksi terhadap fluktuasi pasar jangka pendek.
Mempertahankan disiplin dan strategi yang telah direncanakan membantu menghindari keputusan emosional yang dapat merugikan portofolio Anda.
Baca Juga: Ide Bisnis Tanpa Modal untuk Mahasiswa, Mengasah Skill Sambil Menambah Penghasilan
Selain itu, diversifikasi portofolio dan memahami profil risiko Anda sendiri adalah kunci untuk menghadapi volatilitas pasar.
Investor yang memiliki portofolio terdiversifikasi dan berpegang pada rencana investasi mereka cenderung lebih mampu bertahan selama periode pasar turun.
Singkatnya, alih-alih panik dan menjual, investor sebaiknya mengevaluasi tujuan keuangan mereka, menjaga ketenangan, dan memanfaatkan penurunan pasar sebagai kesempatan untuk membeli aset berkualitas dengan harga lebih rendah.
Skenario Kapan Anda Harus Mempertimbangkan Menjual Reksa Dana
1. Perubahan mendasar
Jika skema reksa dana mengalami perubahan signifikan, misalnya tujuan, jenis aset, atau tingkat risikonya, pertimbangkan untuk meninjau ulang investasi Anda.
Contohnya, reksa dana hibrida yang mulai fokus lebih banyak pada saham daripada toleransi risiko Anda.
2. Perubahan manajer dana
Manajer dana baru bisa memiliki gaya investasi berbeda yang mungkin tidak sesuai dengan tujuan Anda. Perhatikan kinerja dana setelah pergantian manajer, dan evaluasi apakah masih nyaman untuk berinvestasi.
3. Kinerja dana yang buruk secara konsisten
Kinerja jangka pendek mungkin tidak masalah, tetapi jika dana terus-menerus kalah dibanding tolok ukur atau reksa dana sejenis selama beberapa tahun, ini bisa menjadi alasan untuk menjual.
4. Penyeimbangan ulang portofolio
Jika aset tertentu tumbuh lebih cepat dan membuat portofolio tidak seimbang, menjual sebagian reksa dana dan mengalokasikan kembali ke instrumen lebih stabil dapat menjaga risiko tetap sesuai strategi investasi.
5. Pencapaian tujuan keuangan
Jika tujuan investasi tercapai, misalnya menabung untuk rumah, pernikahan, atau pendidikan anak, masuk akal untuk menjual reksa dana.
Anda juga bisa beralih ke dana berisiko lebih rendah saat mendekati tujuan.
6. Keadaan darurat
Kebutuhan mendesak seperti biaya medis, kehilangan pekerjaan, atau krisis finansial dapat memaksa Anda menjual reksa dana. Usahakan menjual yang paling sedikit berdampak pada tujuan jangka panjang.
7. Kondisi pasar
Perubahan ekonomi atau sektor tertentu bisa mempengaruhi nilai reksa dana. Jangan bereaksi emosional terhadap fluktuasi jangka pendek, tetapi buat keputusan berdasarkan tren jangka panjang dan riset.
8. Perubahan preferensi investasi
Seiring waktu, toleransi risiko atau strategi investasi Anda bisa berubah, misalnya menjadi lebih konservatif menjelang pensiun. Jika reksa dana tidak lagi sesuai, menjual bisa menjadi langkah bijak.
Itulah beberapa hal yang bisa Anda lakukan saat reksadana sedang turun. Namun perlu diketahui, belakangan ini kondisi pasar memang sedang bergejolak.
Kontributor : Damai Lestari
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Apa yang Tahan Lama? Ini 5 Produk yang Bisa Awet hingga 12 Jam
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
- 4 Pilihan Smart TV 32 Inci Rp1 Jutaan, Kualitas HD dan Hemat Daya
- BPJS PBI Tiba-Tiba Nonaktif di 2026? Cek Cara Memperbarui Data Desil DTSEN untuk Reaktivasi
Pilihan
-
Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
-
Selamat Jalan 'Babeh' Romi Jahat: Ikon Rock N Roll Kotor Indonesia Tutup Usia
-
Sidang Adat Pandji Pragiwaksono di Toraja Dijaga Ketat
-
Ziarah Telepon Selular: HP Sultan Motorola Aura Sampai Nokia Bunglon
-
Ucap Sumpah di atas Alkitab, Keponakan Prabowo Sah Jabat Deputi Gubernur BI
Terkini
-
Wamenkeu Juda Agung Optimistis Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen di Kuartal I 2026
-
Pemerintah Siapkan Rp 11,92 Triliun untuk Bantuan Pangan Beras dan Minyak Goreng
-
IHSG Hari Ini Lagi Semringah, Naik 1,24% dan 578 Saham Melesat
-
Danantara Setiap Hari Guyur Pasar Modal, Ke Saham Apa?
-
Rupiah Terperosok Jatuh ke Level Rp 16.811/USD
-
Pemerintah Gelontorkan Rp 911,16 Miliar buat Diskon Tarif Transportasi Lebaran 2026
-
Wamenkeu Juda Agung: Batas Defisit APBN 3 Persen Harga Mati
-
Ekonomi RI Tembus 5,39 Persen, Wamenkeu Juda Agung: Saya Belum Puas!
-
Moodys Geser Outlook ke Negatif, OJK: Perbankan Nasional Tetap Kokoh!
-
Sengketa Hotel Sultan: Jejak PT Indobuildco dan Kontroversi Dinasti Bisnis Sutowo