- Rupiah mengalami pelemahan signifikan terhadap dolar AS, mencapai Rp16.839 per dolar berdasarkan data Bloomberg hari ini.
- Pelemahan kurs memicu kenaikan harga jual dolar AS di beberapa bank besar per Rabu, 25 Februari 2026.
- Kurs jual dolar di bank seperti Mandiri, BNI, BRI, dan BCA berkisar antara Rp16.832 hingga Rp16.845 (E-Rate).
Suara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tren pelemahan pada hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda kini tertekan ke level Rp16.839 per dolar AS.
Kondisi ini memicu kenaikan harga jual dolar AS di sejumlah perbankan besar di Indonesia. Bagi Anda yang berencana melakukan transaksi valas hari ini, Rabu (25/2/2026), penting untuk memantau pergerakan kurs yang fluktuatif:
Berikut daftar harga kurs di Bank Mandiri, BNI, BRI dan BCA hari ini :
1. PT Bank Mandiri Tbk (Persero)
Mengacu pada data terbaru, kurs beli USD (E-Rate) berada di level Rp16.815 dengan kurs jual Rp16.845. Sementara untuk kategori TT Counter/Bank Notes, dipatok pada kisaran Rp16.640 (beli) dan Rp16.940 (jual).
2. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI)
BNI menetapkan kurs beli USD (E-Rate) di level Rp16.815dan kurs jual Rp16.835. Untuk transaksi melalui TT Counter/Bank Notes, harga beli berada di Rp16.685 dan harga jual menyentuh Rp16.985
3.PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI)
BRI mematok kurs beli USD (E-Rate) sebesar Rp16.808 dengan kurs jual Rp16.835. Sedangkan pada posisi TT Counter/Bank Notes, angkanya berada di level Rp16.740 (beli) dan Rp16.940 (jual).
Baca Juga: Rupiah Masih Belum Punya Tenaga, Dolar AS Masih di Level Rp16.839
4.PT Bank Central Asia Tbk (BCA)
BCA menetapkan kurs beli USD (E-Rate) di posisi Rp16.812 dan kurs jual Rp16.832. Untuk layanan TT Counter/Bank Notes, nasabah dikenakan kurs beli Rp16.670 dam kurs jual Rp16.970.
Berita Terkait
-
Gegara Intervensi BI, Rupiah Berjaya di Jumat Sore ke Level Rp 16.888/USD
-
BRI Optimistis 2026: 3 Program Dorong Kredit Produktif
-
Rupiah Masih Meriang, Dolar AS Sentuh Level Rp16.908
-
Kurs Rupiah Melemah Terhadap Dolar, Gubernur BI Ungkap Strategi Ekonomi
-
Rupiah Loyo ke Rp16.894, Ketegangan Iran dan Spekulasi BI Rate Jadi Beban
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Debut Berujung Duka, Pemain Senegal Meninggal Dunia Usai Kolaps di Lapangan
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
-
Massa Aksi di Depan Polda DIY Dibubarkan Paksa oleh Sekelompok Orang Berpakaian Sipil
-
5 Fakta Mencekam Demo di Mapolda DIY: Gerbang Roboh hingga Ledakan Misterius
-
Suasana Mencekam di Depan Polda DIY, Massa Berhamburan Usai Terdengar Ledakan
Terkini
-
Timur Tengah Membara, Harga Minyak 'Terbang' Dekati Level Tertinggi 7 Bulan
-
Harga Emas Bisa Cetak Rekor Tertinggi, Analis Ungkap Faktor Penyebabnya
-
Emas Antam Tiba-tiba Anjlok Tajam, Tapi Masih Dibanderol Rp 3 Juta/Gram
-
Petani Terancam, Wacana Pembatasan Tar-Nikotin Dinilai Bisa Ganggu Serapan Hasil Panen
-
Cetak Laba Rp68,11 Miliar, Emiten CASH Fokus di Sistem Pembayaran Digital
-
Rupiah Masih Belum Punya Tenaga, Dolar AS Masih di Level Rp16.839
-
Produsen Mie Sedaap PHK Massal Jelang Lebaran 2026 Demi Hindari Bayar THR
-
IHSG Bangkit dari Koreksi, Kembali ke Level 8.300
-
McDonald's RI Mulai Ekspansif Lagi
-
Impor Pikap India Lebih Murah, Agrinas Klaim Efisiensi Rp 46,5 Triliun