- Gubernur BI Perry Warjiyo melaporkan Rupiah melemah 0,04% menjadi Rp16.894 per USD akibat dinamika eksternal dan internal.
- Pelemahan Rupiah dipicu ketidakpastian global dan lonjakan permintaan valas dari korporasi domestik saat ekonomi meningkat.
- BI intensifkan stabilisasi melalui intervensi multi-pasar, operasi pasar sekunder, dan ekspansi likuiditas demi penguatan Rupiah.
Suara.com - Kurs Rupiah (IDR) melemah tipis pada perdagangan hari ini. Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, melaporkan bahwa Rupiah mengalami depresiasi sebesar 0,04 persen dan kini bertengger di level Rp16.894 per Dolar (USD) Amerika Serikat (AS).
Meski demikian, bank sentral menegaskan komitmennya untuk tetap berada di pasar guna mengawal stabilitas nilai tukar.
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar secara virtual pada Kamis (19/2/2026), Perry menjelaskan bahwa tekanan terhadap Rupiah tidak lepas dari dinamika eksternal dan internal yang terjadi secara simultan.
Perry mengidentifikasi dua faktor utama yang membebani otot Rupiah saat ini. Pertama, masih tingginya tensi ketidakpastian di pasar keuangan global yang memicu investor cenderung beralih ke aset safe haven.
Kedua, adanya lonjakan permintaan valuta asing (valas) dari korporasi di dalam negeri.
"Pelemahan nilai tukar tersebut terutama dipengaruhi oleh tingginya ketidakpastian pasar keuangan global di tengah meningkatnya permintaan valas korporasi domestik sejalan kenaikan kegiatan ekonomi," ungkap Perry.
Menyikapi kondisi ini, Bank Indonesia tidak tinggal diam. Perry menegaskan bahwa BI terus meningkatkan intensitas stabilisasi melalui berbagai instrumen moneter, baik di pasar domestik maupun luar negeri (off-shore). Strategi ini mencakup:
- Intervensi Multi-Pasar: Melakukan transaksi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
- Operasi Pasar Sekunder: Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga keseimbangan suplai dan permintaan.
- Ekspansi Likuiditas: BI menempuh langkah ekspansif dengan menurunkan posisi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Tercatat, posisi SRBI menyusut dari Rp916,97 triliun pada awal 2025 menjadi Rp819,50 triliun per 18 Februari 2026.
Meskipun saat ini Rupiah terlihat melemah, BI menilai angka tersebut sudah berada di bawah nilai fundamentalnya atau undervalued.
Perry berargumen bahwa kondisi ekonomi riil Indonesia sebenarnya jauh lebih kuat dibandingkan cerminan harga Rupiah saat ini di pasar.
Baca Juga: Rupiah Keok Lawan Dolar AS ke Level Rp16.823
Hal ini didukung oleh konsistensi pengendalian inflasi yang tetap terjaga pada sasaran 2,5±1 persen untuk tahun 2026 dan 2027. Selain itu, imbal hasil aset keuangan domestik tetap kompetitif bagi investor asing.
"Ke depan, Bank Indonesia memandang nilai tukar Rupiah akan stabil dan cenderung menguat dengan langkah-langkah stabilisasi yang terus dilakukan serta didukung oleh kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Hal ini tecermin pada imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat," tegas Perry optimistis.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- Banyak Banget, Intip Hampers Tedak Siten Anak Erika Carlina
Pilihan
-
Hizbullah Klaim Hancurkan Kapal Militer Israel Sebelum Serang Lebanon
-
Jusuf Kalla Mau Laporkan Rismon Sianipar ke Polisi! Ini Masalahnya
-
Di Balik Lahan Hindoli, Seperti Apa Perkebunan yang Jadi Lokasi 11 Sumur Minyak Ilegal?
-
Traumatik Mendalam Jemaat POUK Tesalonika Tangerang: Kebebasan Beribadah Belum Terjamin?
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
Terkini
-
Impor Barang Modal RI Melonjak 34 Persen
-
Laba Bersih Melonjak 79 Persen, Seabank Bakal Luncurkan Debit Card Tahun Ini
-
Neraca Dagang Indonesia Surplus USD 1,27 Miliar, Apa Saja Faktor Pendukungnya
-
Harga Cabai Rawit dan Beras Naik, Daging Sapi Turun Harga
-
Pembatasan BBM Berpotensi Bikin Harga Kebutuhan Pokok Naik
-
Penyebab Iran Tak Jalin Kerjasama Kilang Minyak dengan Indonesia Meski Kaya SDA
-
Harga Emas Pegadaian Minggu 5 April 2026: Antam, UBS, dan Galeri24 Bakal Naik?
-
Profil PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE), Emiten Fasilitas Batu Bara Milik Haji Isam
-
Pasokan Sulfur Macet: Konflik Timur Tengah Ancam Naikkan Harga Baterai EV Hingga Pupuk RI
-
Mengurai Efek Domino Perang AS-Israel Vs Iran terhadap Perdagangan RI