- Rupiah dibuka melemah pada Jumat (20/2/2026) menjadi Rp16.908 per dolar AS, turun 0,08% dari hari sebelumnya.
- Pelemahan rupiah dipicu penguatan dolar AS didukung data ekonomi kuat dan pernyataan hawkish The Fed.
- Faktor geopolitik Timur Tengah dan Iran turut menekan rupiah karena meningkatkan ketidakpastian pasar mata uang berisiko.
Suara.com - Pergerakan nilai tukar rupiah terus melemah pada pembukaan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar Jumat (20/2/2026) dibuka Rp16.908 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pelemahan ini membuat mata uang garuda masuk di zona merah dan turun 0,08 persen dibanding penutupan pada Kamis (19/2/2026) yang berada di level Rp16.894 dolar AS.
Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp16.925 per dolar AS. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan rupiah karena dolar AS mengalami penguatan.
"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS yang melanjutkan penguatan oleh data-data ekonomi yang lebih kuat dan pejabat-pejabat the Fed yang kembali memberikan pernyataan hawkish," katanya saat dihubungi Suara.com.
Dia mengatakan, faktor lain yang membuat rupiah tertekan dikarenakan faktor geopoltik. Salah satunya mengenak perang di Timur Tengah dan Iran.
" Ketidakpastian geopolitik di Timteng - Iran juga menekan mata uang beresiko seperti rupiah. Range 16.850-17.000," jelasnya.
Di awal perdagangan Asia, dolar mempertahankan penguatannya dan menekan poundsterling ke dekat level terendah satu bulan di 1,3457 dolar AS. Sterling menuju pelemahan mingguan hampir 1,5 persen.
Euro juga turun tipis 0,02 persen dan berpotensi melemah 0,8 persen sepanjang pekan ini, terbebani ketidakpastian terkait masa jabatan Presiden European Central Bank, Christine Lagarde.
Sedangkan, Greenback berada di jalur kenaikan mingguan lebih dari 1 persen, yang akan menjadi performa terbaik dalam lebih dari empat bulan.
Baca Juga: Gubernur BI: Rupiah Undervalue, Tidak Cerminkan Ekonomi Indonesia
Berita Terkait
-
Rupiah Amblas Imbas Moody's Kasih Rating Negatif ke Indonesia
-
Pertumbuhan Ekonomi 5,11 Persen, Rupiah Malah Amblas ke Level Rp16.842!
-
Dolar AS Perkasa, Rupiah Turun ke Level Rp16.805
-
Bank Indonesia Selidiki Cacahan Uang Rupiah yang Dibuang di TPS Liar Bekasi
-
Rupiah Terpeleset Jatuh Setelah Ada Kabar Misbakhun Jadi Calon Ketua OJK
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
Pilihan
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
Terkini
-
Bersama Danantara, Pegadaian Akselerasi Ekosistem Bank Emas Menuju Kancah Internasional
-
Bulog Gerak Cepat Tindaklanjuti Masukan Masyarakat, Direktur Operasi Tinjau Gudang Karawang
-
UU P2SK Dinilai Mampu Perkuat Daya Saing dan Kedaulatan Industri Kripto Nasional
-
Investor Asing Masih Jual Saham Rp365 Miliar di Sesi I, Tapi BBCA Tetap Diserok
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
Usai IPO, Saham JELI Langsung ARA
-
BI Tak Agresif Stabilkan Rupiah, Cadangan Devisa Naik Hingga Akhir Juni Jadi Rp2.606 T
-
Jangan Terburu-buru Beli BBCA, Analis Wanti-wanti Taking Profit
-
Produksi Listrik PLN Nusantara Power Capai 66.919 GWh pada 2025
-
Resmi IPO, Saham JECX Langsung Terbang 24,8%