- Rupiah melemah tipis 0,06% ke level Rp16.894 per dolar AS pada Kamis (19/2).
- Tekanan berasal dari penguatan dolar AS dan ketidakpastian konflik AS-Iran.
- Suku bunga BI ditahan, namun opsi pemangkasan ke depan hambat penguatan rupiah.
Suara.com - Nilai tukar rupiah gagal mempertahankan posisinya dan berakhir melemah tipis pada perdagangan Kamis (19/2/2026). Sentimen global terkait konflik di Timur Tengah dan spekulasi kebijakan moneter domestik menjadi penahan laju mata uang Garuda.
Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp16.894 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,06 persen atau merosot 10 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp16.884 per dolar AS.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) mematok posisi rupiah di angka Rp16.925 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebutkan bahwa keperkasaan greenback menjadi faktor utama yang menekan rupiah. Namun, langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas cukup membantu meredam kejatuhan yang lebih dalam.
"Rupiah melemah di tengah penguatan dolar AS, namun langkah BI yang menahan suku bunga berhasil membalikkan sebagian pelemahan," ujar Lukman kepada media.
Meski demikian, Lukman mewanti-wanti bahwa ruang bagi rupiah untuk rebound masih cukup sempit. Pasar mulai mencermati adanya opsi pemangkasan suku bunga oleh BI di masa mendatang. Selain itu, faktor geopolitik, khususnya eskalasi konflik antara AS dan Iran, terus menghantui pasar aset berisiko.
"Terlebih situasi yang tidak menentu di Iran tidak mendukung rupiah. Sehingga rupiah masih berpotensi melemah," tambahnya.
Pelemahan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga terkapar di zona merah:
- Dolar Taiwan: Anjlok paling dalam sebesar 0,41%.
- Ringgit Malaysia: Melemah 0,31%.
- Peso Filipina: Turun 0,25%.
- Yen Jepang: Terkoreksi 0,12%.
- Yuan China & Dolar Singapura: Masing-masing turun tipis 0,05% dan 0,02%.
Di sisi lain, Baht Thailand dan Won Korea Selatan tampil melawan arus dengan penguatan masing-masing sebesar 0,46% dan 0,11%. Di pasar global, Indeks Dolar AS (DXY) terpantau sedikit melandai ke level 97,62 dari posisi sebelumnya di 97,70.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
- Bawa Energi Positif, Ini 7 Warna Cat Tembok yang Mendatangkan Hoki Menurut Feng Shui
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- 6 Sunscreen Moisturizer Terbaik untuk Anti Aging, Kulit Kencang dan Bebas Kerutan
Pilihan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
Terkini
-
Pertamina Bagikan Strategi Jaga Ketahanan Energi di Hadapan Mahasiswa
-
Danantara Sumberdaya Jadi Biang Kerok, IHSG Masuk Level 6.000
-
Status Danantara Sumberdaya Indonesia Bukan BUMN
-
Hormati Kontrak, Pemerintah Pastikan Tidak Ada Pemotongan Kuota Ekspor Gas pada 2026
-
Rupiah Rp17.674 per Dolar, Pasien di Desa Hingga Penderita Kanker Ikut Terancam
-
Rupiah Anjlok Lagi, Danantara Sumberdaya Indonesia Jadi Biang Kerok
-
Rosan Akui Kontrak Eksportir Bisa Dievaluasi lewat BUMN Ekspor Baru PT DSI
-
Saham TPIA Terjun ke Level Terendah Hingga Isu Margin Call, Manajemen Buka Suara
-
ESDM Siapkan Gas CNG 3 Kg Pengganti LPG, Begini Skemanya
-
Mendag Siapkan Aturan Baru usai BUMN Ekspor PT DSI Dibentuk Danantara