- Disiplin fiskal adalah fondasi utama cegah krisis, namun bukan jaminan negara jadi maju.
- Selain jaga APBN, negara butuh reformasi hukum dan pasar kerja untuk tumbuh berkelanjutan.
- Kebijakan berbasis data jadi kunci menteri keuangan bangun kepercayaan di mata politik.
Suara.com - Mantan Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati, kembali melontarkan "warning" sekaligus catatan penting bagi stabilitas ekonomi nasional. Baginya, disiplin fiskal bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan fondasi utama agar sebuah negara tidak karam diterjang krisis.
Dalam sebuah perbincangan di Oxford Policy Pod beberapa waktu lalu, perempuan yang akrab disapa Ani ini menekankan bahwa stabilitas dan keberlanjutan keuangan adalah syarat mutlak (necessary condition). Tanpa itu, mimpi menjadi negara maju bisa buyar seketika.
"Banyak negara sudah meninggalkan batasan tersebut. Tetapi sejarah menunjukkan, negara yang tidak memiliki disiplin fiskal pada akhirnya akan menghadapi kesulitan," tegas Sri Mulyani.
Indonesia, menurutnya, masih memegang teguh aturan fiskal yang cukup ketat. Hal ini terlihat dari komitmen menjaga defisit anggaran di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) serta rasio utang yang dipatok maksimal 60 persen dari PDB.
Namun, Sri Mulyani mengingatkan bahwa disiplin fiskal hanyalah pintu masuk, bukan jaminan sukses. Ia meluruskan persepsi publik yang sering keliru.
"Syarat yang diperlukan, tetapi belum cukup. Punya stabilitas fiskal saja tidak otomatis membuat negara maju," jelasnya. Untuk benar-benar "naik kelas", negara wajib melakukan reformasi struktural, mulai dari sistem peradilan, ketenagakerjaan, hingga daya saing investasi.
Menjadi bendahara negara bukanlah perkara mudah. Sri Mulyani mengakui adanya benturan antara keinginan politik untuk membangun infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan dengan keterbatasan sumber daya yang ada. Kebijakan ketat sering kali tidak populer di mata politisi.
Kuncinya, kata dia, adalah kredibilitas dan kebijakan berbasis data (evidence-based policy).
"Kalau desain kebijakannya kredibel dan kuat secara teknokratis, itu menjadi platform untuk membangun kepercayaan lintas spektrum politik," tambahnya.
Baca Juga: Menuju Solar Based Economy: Tantangan Regulasi dan Pendanaan Program PLTS 100 GW Presiden Prabowo
Pada akhirnya, menjaga kesehatan dompet negara membutuhkan kerja sama semua pihak. Stabilitas fiskal memang penting, namun kemauan politik (political will) yang kuat tetap menjadi penentu apakah sebuah negara mampu bertahan atau justru terperosok ke dalam jurang krisis.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Menkeu Purbaya Heran Rupiah Melemah Terus: Enggak Masuk Akal
-
Luhut Sebut Bea dan Cukai Tak Diperlukan Lagi, Purbaya Beri Jawaban
-
Harga BBM Subsidi Tak Naik, Kepercayaan Industri RI Langsung Melesat
-
Di Tengah Lemahnya Rupiah, Kepercayaan Industri Naik ke Level 53,56
-
Infrastruktur Kompleks di Balik Layar: Mengapa Gangguan Platform Trading Sering Bikin Trader Panik?
-
Investasi Digital China di RI Makin Marak, Apa Untung dan Ruginya?
-
Begini Cara Ubah Data Karyawan Jadi Mesin Pertumbuhan Bisnis
-
Peruri Tegaskan Keberlanjutan Bukan Sekadar Kepatuhan, Tapi Strategi Ciptakan Nilai Bersama
-
Tokopedia Perkuat Bisnis Kesehatan Digital
-
Konflik di Selat Hormuz Bikin Ekspor Perhiasan Indonesia Terancam Rontok