- Mendag Budi Santoso menjamin pakaian impor cacahan dari AS tidak akan beredar sebagai pakaian bekas di dalam negeri.
- Pemerintah menggunakan Laporan Surveyor (LS) sebagai mekanisme pengawasan utama sebelum barang baku industri tiba di Indonesia.
- Impor ini sesuai kesepakatan ART, yaitu hanya mengizinkan pakaian yang sudah dihancurkan untuk bahan baku daur ulang.
Suara.com - Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso menyatakan cacahan pakaian impor dari Amerika Serikat (AS) tidak akan beredar kembali di dalam negeri.
Pemerintah, kata dia, memastikan barang yang masuk benar-benar berupa bahan baku industri dan diawasi ketat sebelum tiba di Indonesia.
Hal itu disampaikan Budi merespons kekhawatiran pelaku usaha terkait impor tekstil cacahan yang dikhawatirkan akan dijual ulang sebagai pakaian bekas.
"Kan gini, kan sebelum impor kan ada LS-nya, Laporan Surveyor. Jadi dipastikan barangnya memang barang untuk bahan baku industri,” ujar Budi di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (26/2/2026).
Ia menjelaskan, mekanisme Laporan Surveyor (LS) menjadi instrumen pengawasan utama untuk memastikan kesesuaian barang impor dengan ketentuan. Dengan adanya LS, pemerintah dapat memverifikasi spesifikasi barang sebelum masuk ke dalam negeri.
"Jadi dipastikan nggak ada masalah. Karena sebelum ke sini ada LS, ya. Laporan Surveyor selama ini kan ada. Ya," kata dia.
Diketahui, Indonesia resmi membuka keran impor pakaian bekas yang telah dihancurkan (shredded worn clothing/SWC) asal Amerika Serikat.
Kebijakan itu merupakan bagian dari kesepakatan dalam Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang diteken Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump di Washington DC pada 19 Februari 2026.
Pemerintah menegaskan kebijakan tersebut bukan legalisasi impor pakaian bekas utuh. Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto menyatakan SWC adalah pakaian yang telah dihancurkan dan hanya dapat digunakan sebagai bahan baku industri daur ulang.
Baca Juga: Narasi Swasembada Pangan di Balik Bayang-Bayang Impor Beras Amerika
Mendag memastikan komoditas tersebut tidak memiliki nilai ekonomi sebagai pakaian siap pakai dan tidak akan merembes ke pasar thrifting. Industri dalam negeri juga disebut telah disiapkan untuk menampung seluruh impor SWC sebagai bahan baku produksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 Pilihan Motor Anti Low Back Pain, Cocok Buat Touring di Akhir Pekan
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
Terkini
-
BNI Kuatkan Tata Kelola Penyaluran KUR
-
Purbaya Akui Penerimaan Bea Cukai 2026 Bisa Meleset dari Target
-
Shortfall Pajak 2026 Bisa Tembus Rp 46,9 Triliun, Purbaya Ancam Rumahkan Pegawai DJP
-
Bisnis Kopi UMKM Moncer 60% Berkat Jualan Online
-
Riset: 66,8% Anak Indonesia Sarapan dengan Kualitas Gizi Rendah
-
Kapan WIKA, WSKT, dan INAF Delisting? Ini Penjelasan BEI
-
Impor Garam Naik 13,1%, Target Swasembada 2027 Terancam
-
Emiten TUGU Andalkan GCG untuk Dongkrak Daya Saing Bisnis
-
IHSG Tembus Level 6.000, BBCA dan BRI Jadi Jagoannya
-
Sosok 'Pemilik' ENHYPEN, Punya Harta Tiga Kali Lipat LHKPN Menteri Terkaya RI