Bisnis / Energi
Selasa, 03 Maret 2026 | 08:11 WIB
Ilustrasi kilang minyak milik Saudi Aramco. [Shutterstock]
Baca 10 detik
  • Konfrontasi AS-Israel melawan Iran mengancam pasar komoditas global, memicu prediksi lonjakan harga minyak mentah dunia.
  • Gangguan di Selat Hormuz, jalur vital seperlima konsumsi minyak global, berpotensi mendorong harga melewati ambang psikologis $100.
  • OPEC+ sepakat meningkatkan kuota produksi mulai April untuk meredam kepanikan pasar, meskipun dampaknya diragukan jika terjadi pemblokiran fisik.

Langkah ini diambil sebagai upaya "pendinginan" agar harga tidak melambung liar yang dapat merusak pertumbuhan ekonomi global.

Namun, William Jackson, Kepala Ekonom Pasar Negara Berkembang di Capital Economics, menilai bahwa intervensi produksi mungkin tidak akan cukup jika gangguan fisik terjadi di Selat Hormuz.

"Jika konflik memengaruhi pasokan secara nyata, terutama melalui pemblokiran Selat Hormuz, hal itu dapat menyebabkan harga minyak melonjak hingga sekitar US$100 per barel," tegas Jackson dalam catatannya kepada klien.

Jika harga minyak menetap di level tinggi dalam waktu lama, dunia akan menghadapi tantangan inflasi yang berat.

Load More