Bisnis / Energi
Selasa, 03 Maret 2026 | 20:40 WIB
PT Chandra Asri Pacific pada Selasa (3/3/2026) menyatakan status force majeure setelah terdampak konflik di Teluk antara Israel, AS dan Iran. [Dokumentasi TPIA].
Baca 10 detik
  • PT Chandra Asri Pacific menyatakan force majeure pada 3 Maret 2026 karena gangguan suplai bahan baku dari Selat Hormuz akibat konflik.
  • Chandra Asri menyesuaikan tingkat operasional pabrik sebagai langkah pencegahan terhadap ketidakpastian pasokan bahan baku global tersebut.
  • Perusahaan ini menandatangani kesepakatan investasi $200 juta dengan Danantara dan INA untuk proyek CA-EDC di Cilegon yang ditargetkan beroperasi 2027.

"Selain itu, pembangunan dan operasional fasilitas juga akan membuka peluang kerja baru sebanyak 3.000 pada masa konstruksi, dan 250 pada saat operasional serta memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat dan industri di Cilegon dan sekitarnya," ujar Erwin.

Perjanjian ketiga pihak menandai fase komitmen modal dalam mendukung pembangunan pabrik Chlor Alkali - Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon, Banten, yang dikembangkan dan dioperasikan oleh Chandra Asri Group.

Proyek itu bertujuan untuk mengurangi ketergantungan impor terhadap bahan baku krusial dalam berbagai industri, sekaligus mendorong agenda hilirisasi sebagai bagian dari transformasi ekonomi jangka panjang, lanjutnya.

Kehadiran kapasitas produksi Caustic Soda di dalam negeri diharapkan dapat secara signifikan memperkuat substitusi impor dan ketahanan pasokan domestik.

Sementara itu, ia mengatakan produksi EDC tidak hanya mendukung kebutuhan industri dalam negeri, namun juga memiliki potensi untuk meningkatkan ekspor, memberikan kontribusi pada devisa, seiring dengan penguatan daya saing industri kimia nasional.

Pembangunan pabrik CA-EDC memiliki nilai proyek sebesar 800 juta dolar AS, dan merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) yang berfokus pada produksi bahan baku esensial bagi industri hulu dan hilir.

Caustic Soda digunakan sebagai bahan baku yang digunakan dalam proses produksi sabun dan deterjen, pemurnian alumina, hingga proses pembuatan kertas. Sedangkan, EDC merupakan bahan baku utama yang mendorong industri konstruksi dan pengemasan.

Dalam struktur investasi yang disepakati, Danantara dan INA akan bersama-sama menanamkan modal dengan total investasi sebesar 200 juta dolar AS.

Pendanaan ini akan digunakan untuk membangun fasilitas industri strategis CA-EDC yang dikelola oleh PT Chandra Asri Alkali (CAA), anak Perusahaan Chandra Asri Group, dan direncanakan mulai beroperasi pada 2027.

Baca Juga: Kisah Para Sopir Pejabat Iran dan Bagaimana Mossad Melacak Ayatollah Ali Khamenei

Pada fase pertama, pembangunan pabrik CA-EDC akan memiliki kapasitas produksi tahunan sebesar 400.000 ton Caustic Soda kering per tahun, dan 500.000 ton Ethylene Dichloride.

Load More