Bisnis / Energi
Minggu, 01 Maret 2026 | 00:37 WIB
Pasukan Garda Nasional Iran dilaporkan telah menutup akses di Selat Hormuz, jalur ekspor minyak dunia yang sangat penting tidak saja bagi negara-negara penghasil minyak sepert Arab Saudi, Qatar dan Iran tetapi juga bagi negara industri seperti China, Korsel dan Jepang. [Google Maps]
Baca 10 detik
  • Garda Nasional Iran dilaporkan menutup Selat Hormuz, jalur vital ekspor minyak global, meski Iran membantah perintah blokade tersebut.
  • Sekitar 20 juta barel minyak dan 20 persen LNG dunia melewati selat ini, mayoritas menuju negara-negara Asia seperti Tiongkok.
  • Gangguan di Selat Hormuz berpotensi menyebabkan kenaikan signifikan harga minyak dunia, berdampak parah pada ekonomi negara pengimpor utama.

Suara.com - Pasukan Garda Revolusi Iran dilaporkan telah menutup akses di Selat Hormuz, salah satu jalur perairan paling penting di dunia karena merupakan rute utama ekspor minyak global.

Dilansir dari Reuters, seorang perwira yang bertugas di misi Aspides - sebuah misi Uni Eropa untu menjaga jalur perdagangan Laut Merah - mengaku menerima transmisi radio dari Garda Reformasi Iran yang isinya berbunyi "semua kapal dilarang melewat Selat Hormuz."

Sementara badan operasi perdagangan maritim Inggris juga mengaku telah menerima sejumlah laporan dari kapal-kapal yang sedang berlayar di Teluk, bahwa mereka menerima pesan yang berisi penutupan Selat Hormuz.

Meski demikian disebutkan juga bahwa Teheran membantah telah memerintahkan penutupan atau blokade Selat Hormuz, setelah Israel dan Amerika Serikat melancarakan serangan militer ke Iran pada Sabtu (28/2/2026). Iran telah membalas serangan tersebut, termasuk ke negara-negara tetangganya di kawasan Teluk. 

Penutupan Selat Hormuz bisa jadi bencana bagi dunia. Negara seperti China, Jepang dan Korea Selatan bisa kehilangan sumber energi untuk industrinya. Sementara Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab dan juga Iran akan kehilangan pendapatan yang signifikan.

Di mana Selat Hormuz?

Selat Hormuz adalah jalur ekspor minyak paling penting di dunia. Ia menyambungkan para produsen minyak terbesar di Teluk seperti Arab Saudi, Iran, Irak dan Uni Emirat Arab dengan negara-negara lain yang menjadi pembeli minyak dunia.

Iran berada di utara Selat Hormuz, sementara di bagian selatannya ada Oman dan Uni Emirat Arab. Lebarnya di pintu masuknya sekitar 50 km, sementara di titik paling sempit hanya sekitar 33 km.

Karenanya blokade terhadap Selat Hormuz bisa berarti petaka bagi negara-negara industri dunia yang membutuhkan bahan bakar dari Teluk untuk menjalankan roda ekonomi mereka.

Baca Juga: AS dan Israel Bom Sekolah Khusus Putri di Iran, 36 Siswi Tewas

Berapa banyak minyak dan gas yang melewati Selat Hormuz per hari?

Menurut badan informasi energi Amerika Serikat (EIA), sekitar 20 juta barel minyak melewati Selat Hormuz setiap hari pada 2024 lalu. Itu setara dengan 500 miliar dolar AS nilai perdagangan energi dunia.

Selain minyak, selat Hormuz juga jalur ekspor gas alam atau LNG. Pada 2024, sekitar 20 persen LNG diangkut melewat jalur tersebut. Produsen utama gas yang menggunakan jalur itu adalah Qatar.

Ke mana minyak dan gas itu dibawa?

Pada 2024, menurut EIA, 84 persen minyak mentan yang melewati Selat Hormuz diangkut ke negara-negara Asia. Demikian juga LNG yang melewati jalur itu sekitar 83 persen tujuannya ke Asia.

Negara apa saja yang membelinya? China, Jepang dan Korea Selatan - tiga negara industri terbesar di Asia - adalah pembeli terbesar minyak yang berasal dari Teluk. Sebanyak 60 persen minyak dan gas yang melewat Selat Hormuz bermuara di tiga negara itu.

Apa dampaknya ke ekonomi dunia?

Blokade Selat Hormuz atau bahkan penutupan sebagian jalur strategis itu akan membuat harga minyak dunia melonjak dalam jangka pendek.

"Tidak ada sumber lain yang bisa menggantikan minyak yang datang dari Teluk," kata Colby Connelly, analis wilayah Timur Tengah pada Energy Intelligence kepada Al Jazeera belum lama ini.

Ia mengingatkan sekitar 70 persen kapasitas produksi OPEC+ berada di Teluk.

Menurut data EIA, Arab Saudi adalah negara yang paling bergantung pada Selat Hormuz untuk urusan ekspor minyak. Sebanyak 5,5 juta barel minyak Saudi diangkut via Selat Hormuz setiap hari. Jumlah ini tak ada tandingannya di Teluk.

Iran mengekspor sekitar 1,7 juta barel minyak lewat Selat Hormuz per hari pada 2025. Sekitar 90 persen di antaranya dijual e China.

Meski demikian Arab Saudi dan Uni Emirat Arab untungnya masih memiliki jalur ekspor lain, yakni melewati Laut Merah dan Fujairah di Teluk Oman. Tapi jumlahnya sangat kecil.

Connely memperingatkan harga minyak bisa melonjak di atas 100 dolar AS per barel jika ada gangguan signifikan di Selat Hormuz. Hingga 27 Februari, harga minyak dunia masih di kisaran 63 dolar per barel.

Naiknya harga minyak artinya membuat harga bahan bakar melonjak.

China diperkirakan sebagai negara yang terdampak cukup parah, karena ekonominya sangat bergantung pada manufaktur dan ekspor. Jika harga minyak naik, maka produk ekspornya tak lagi bisa dijual dengan harga murah karena ongkos produksi yang naik.

India juga akan menjerit. Karena 60 persen pasokan gas alamnya diangkut via Selat Hormuz. Korea Selatan juga akan tercekik, 60 persen minyak mentah yang diimpor juga melewati Selat Hormuz. Sementara tiga perempat minyak Jepang juga diangkut lewat jalur yang sama.

Load More