Bisnis / Makro
Senin, 09 Maret 2026 | 08:50 WIB
Ilustrasi Bank Indonesia (Unsplash/nimbostratus)
Baca 10 detik
  • Uang Primer (M0) Adjusted Februari 2026 mencapai Rp2.228 triliun, tumbuh 18,3% secara tahunan (yoy).
  • Peningkatan M0 dipicu oleh pertumbuhan giro bank umum dan uang kartal yang beredar di masyarakat.
  • Pertumbuhan ini mencerminkan kondisi likuiditas akurat karena telah memperhitungkan insentif likuiditas BI.

Suara.com - Bank Indonesia mencatat Uang Primer (M0) Adjusted pada Februari 2026 tumbuh 18,3 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp2.228 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Januari 2026 yang tercatat 14,7 persen (yoy).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan peningkatan tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia serta meningkatnya uang kartal yang beredar di masyarakat.

“Perkembangan ini didorong oleh meningkatnya pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 33,6 persen (yoy) dan uang kartal yang diedarkan sebesar 15,8 persen (yoy),” kata Ramdan dalam keterangannya di Jakarta, Senin (9/3/2026).

Menurutnya, pertumbuhan uang primer tersebut juga telah memperhitungkan dampak kebijakan insentif likuiditas yang diberikan bank sentral sebagai bagian dari kebijakan pengendalian moneter.

Ramdan menjelaskan, dalam perhitungannya, pertumbuhan M0 Adjusted telah mempertimbangkan dampak pemberian insentif likuiditas sehingga mencerminkan kondisi likuiditas perbankan yang lebih akurat dalam sistem keuangan.

Uang primer atau M0 merupakan komponen likuiditas paling dasar dalam perekonomian yang terdiri dari uang kartal yang beredar di masyarakat serta saldo giro bank umum di bank sentral.

Pergerakan indikator ini kerap digunakan untuk memantau kondisi likuiditas dan efektivitas transmisi kebijakan moneter.

Sebagai informasi, Uang Primer (M0) Adjusted adalah indikator yang disesuaikan dengan berbagai kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia, termasuk pemberian insentif likuiditas kepada perbankan.

Penyesuaian ini bertujuan memberikan gambaran yang lebih tepat mengenai kondisi likuiditas riil di sistem keuangan, sekaligus mendukung stabilitas moneter dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca Juga: Purbaya Pastikan BI Independen, Tak Lagi Pakai Skema Burden Sharing

Load More