- Transformasi Bisnis: TBS mempercepat pergeseran dari batu bara ke bisnis hijau (pengelolaan limbah, energi terbarukan, kendaraan listrik
- Kinerja 2025: EBITDA positif US$47,2 juta dan kas naik 15%, meski rugi bersih US$162 juta akibat turunnya harga batu bara dan divestasi PLTU.
- Langkah Strategis: Akuisisi Sembcorp Environment (Cora Environment) dan pengurangan emisi untuk mendukung target netral karbon 2030.
Suara.com - PT TBS Energi Utama Tbk (“TBS” atau “Perseroan”, BEI: TOBA) hari ini mengumumkan laporan keuangan untuk tahun buku 2025, yang mencerminkan fase penting dalam perjalanan transformasi Perseroan menuju bisnis hijau yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing internasional.
Sepanjang 2025, TBS menata ulang portofolio secara menyeluruh sebagai bagian dari langkah “strategic repositioning” untuk memperkuat fondasi keuangan dan membangun struktur bisnis yang lebih resilien.
Langkah ini dilakukan secara terukur dan proaktif untuk memperkuat kualitas neraca serta mengarahkan portofolio Perseroan ke sektor dengan profil pertumbuhan pendapatan yang lebih stabil dan potensi valuasi yang lebih tinggi dalam jangka panjang.
Tahun 2025 mencatat fundamental operasional TBS menunjukkan ketahanan yang kuat. Perseroan tetap mencatat EBITDA Disesuaikan positif US$47,2 juta, menjaga posisi saldo kas pada level yang sehat sebesar US$102,3 juta - meningkat 15% dibanding tahun 2024.
Hal ini menegaskan bahwa bisnis inti Perseroan terus menghasilkan nilai ekonomi nyata, sekaligus mencerminkan disiplin eksekusi di tengah perubahan komposisi portofolio.
Tonggak strategis lainnya di tahun 2025 adalah penyelesaian akuisisi Sembcorp Environment, yang kini beroperasi dengan nama Cora Environment.
Akuisisi ini secara instan memperkuat posisi TBS sebagai salah satu pemimpin pangsa pasar dalam pengelolaan limbah di Singapura, sekaligus meningkatkan kapasitas aset Perseroan untuk mendukung pertumbuhan pendapatan jangka panjang.
Di tahun 2025, TBS mencatat US$155,4 juta kontribusi pendapatan dari pengelolaan limbah, yang merupakan 41% dari total pendapatan Perseroan.
Dengan komposisi bisnis yang semakin terdiversifikasi, eksposur terhadap volatilitas harga batu bara global pun semakin berkurang, sejalan dengan arah transformasi Perseroan.
Segmen pertambangan dan perdagangan batu bara membukukan pendapatan sebesar US$194,6 juta, setara dengan 51% dari total pendapatan Perseroan, turun signifikan dibandingkan kontribusi 81% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan proporsi ini mencerminkan arah strategis TBS untuk secara bertahap menurunkan eksposur terhadap batu bara sekaligus mempercepat pergeseran menuju portofolio yang lebih berkelanjutan.
Meski menghadapi tantangan pasar komoditas batu bara, namun Perseroan berhasil mencatatkan EBITDA Disesuaikan positif sebesar US$47,2 juta, yang menunjukkan kinerja keuangan tetap berjalan solid.
Perseroan juga membukukan rugi bersih sebesar US$162 juta yang disebabkan oleh merosotnya harga batu bara dunia di sepanjang tahun 2025 dan kerugian non-kas dan tidak berulang yang berasal dari dampak divestasi aset Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebesar US$97 juta sebagai bagian dari transformasi Perseroan ke sektor rendah karbon.
TBS memandang bahwa realisasi rugi akuntansi di tahap ini merupakan bagian dari proses transisi satu kali yang diperlukan untuk membuka potensi arus kas jangka yang lebih berkualitas serta aset yang dapat menghasilkan pendapatan yang lebih berkelanjutan.
Tahun 2025 menjadi tonggak penting dalam perjalanan transformasi TBS.
Berita Terkait
-
Pertamina Trans Kontinental Bersama Galangan Nasional Resmi Mulai Pembangunan Utility Boat 22 Pax
-
Indef: Realisasi Mobil Listrik Baru 104.000 Unit, Transisi Energi Jauh dari Target
-
Di Tengah Krisis Energi Global, Bisakah Model Hidup Berbagi Jadi Alternatif Baru?
-
Desak Transisi Energi Adil, Massa Gelar Aksi di Depan Kantor ESDM
-
Pelindo Ikut dalam Pembangunan PSEL untuk Solusi Sampah Berkelanjutan
Terpopuler
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- 5 Pilihan Jam Tangan Casio Anti Air Mulai Rp100 Ribuan, Stylish dan Awet
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
- 5 HP Infinix Rp3 Jutaan Spek Dewa untuk Gaming Lancar
Pilihan
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
Terkini
-
Suku Bunga Tinggi, Milenial-Gen Z Kini Lebih Percaya Medsos Ketimbang Brosur Properti
-
Laba PNM Tembus Rp1,14 triliun, Dirut BRI: Pertumbuhan Sehat dan Berkelanjutan
-
Panen Padi Biosalin Tembus Rp1,23 Miliar di Tengah Cuaca Ekstrem
-
Harapan Konsumen Properti: Bunga KPR Jangan Tinggi-Tinggi!
-
Genjot Produktivitas Sapi Nasional, DPD RI Dorong Revitalisasi Vokasi Peternakan
-
Pelaku Industri Dorong Pendekatan Pengurangan Risiko Tembakau di RI
-
Menkeu Purbaya Masih Optimistis IHSG Tembus 10.000 Tahun Ini
-
Mau Jual Emas dan Untung Besar? Ya di Raja Emas Indonesia Saja!
-
Menkeu Bantah Hoaks Uang Negara Tinggal Rp120 Triliun
-
Celios Dukung Pemerintah Beri Insentif Fiskal Berbasis Penyerapan Tenaga Kerja