Bisnis / Keuangan
Rabu, 11 Maret 2026 | 09:52 WIB
Mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat. [Antara]
Baca 10 detik
  • Rupiah menguat 0,01 persen pada Rabu (11/3/2026), dibuka di Rp16.863 per dolar AS.
  • Penguatan rupiah dipicu pasokan minyak aman di Selat Hormuz dan potensi penurunan harga minyak.
  • Perang antara Iran, Amerika, dan Israel diprediksi masih membebani pelemahan rupiah ke depan.

Suara.com - Pergerakan nilai tukar rupiah melanjutkan penguatan pada pembukaan hari ini. Kondisi ini membuat mata uang Garuda terus bangkit setelah beberapa waktu lalu melemah terus.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar Rabu (11/3/2026) dibuka ke level Rp16.863 per dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Indonesia pun menguat 0,01 persen dibanding penutupan pada Selasa (10/3/2026) yang berada di level Rp16.863 per dolar AS.

Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp16.879 per dolar AS. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan penguatan rupiah disebabkan pasokan cadangan minyak yang aman di Selat Hormuz.

"Rupiah diperkirakan akan berkonsolidasi dengan potensi menguat terbatas didukung oleh penurunan yang cukup besar pada harga minyak," katanya saat dihubungi Suara.com.

Namun, rupiah masih diprediksi akan melemah dikarenakan perang antara Iran vs Amerika dan Israel yang masih terjadi.

"Namun perang AS-Israel-Iran yang masih intense masih akan terus membebani rupiah. Range 16.800-16.950," jelasnya.

Sementara itu, mata uang di Asia bervariasi dengan dolar Singapura menjadi mata uang dengan penguatan terbesar setelah menanjak 0,08 persen.

Sedangkan, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah terkoreksi 0,17 persen. Lalu ada, yen Jepang yang tertekan 0,13 persen dan baht Thailand terdepresiasi 0,12 persen. Lalu ada ringgit Malaysia yang tergelincir 0,09 persen.

Kemudian ada peso Filipina yang turun 0,03 persen dan dolar Hongkong melemah tipis 0,004 persen pada pagi ini.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Beberkan Strategi Pemerintah Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah

Load More