- Konflik Iran-AS dan Israel berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi Indonesia melalui pasar keuangan dan energi global.
- Ketidakpastian geopolitik memicu arus modal keluar dari Indonesia, menyebabkan pelemahan Rupiah dan kenaikan SBN.
- Skenario terburuk adalah pemblokiran Selat Hormuz yang meningkatkan harga minyak, memicu inflasi dan menekan fiskal pemerintah.
Suara.com - Eskalasi konflik bersenjata antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) serta Israel yang meletus belakangan ini dipastikan bakal memberikan guncangan hebat bagi stabilitas ekonomi nasional.
Meski secara geografis Indonesia berada jauh dari pusat pertempuran, dampak rambatan (spillover effect) melalui jalur pasar keuangan global dan jalur energi diprediksi akan menekan dompet masyarakat serta ruang fiskal pemerintah secara signifikan.
Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rizal Taufiqurrahman, memperingatkan bahwa sentimen negatif dari Timur Tengah akan membuat pasar keuangan dunia, termasuk Indonesia, berada dalam kondisi tertekan.
Menurutnya, fokus perhatian bukan lagi pada hubungan dagang bilateral, melainkan pada bagaimana modal asing bereaksi terhadap ketidakpastian global yang meningkat.
Dalam kancah ekonomi global, setiap kali terjadi ketegangan geopolitik berskala besar di wilayah strategis, para investor cenderung menarik aset mereka dari negara berkembang untuk mengamankan modal di instrumen yang lebih stabil.
Rizal menjelaskan bahwa fenomena ini akan memicu arus modal keluar (capital outflow) yang cukup masif dari pasar keuangan domestik.
"Setiap eskalasi konflik di Timur Tengah biasanya menaikkan ketidakpastian global sehingga investor mengalihkan dana dari negara berkembang ke aset aman," ujar Rizal saat dihubungi Suara.com pada Senin (2/3/2026).
Kondisi ini menciptakan tekanan berantai pada pasar keuangan di Indonesia. Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS menjadi ancaman paling nyata, disusul oleh kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) serta koreksi pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Menariknya, Rizal meluruskan anggapan bahwa krisis akan melemahkan mata uang adidaya. Sebaliknya, Dolar AS justru akan semakin perkasa karena statusnya sebagai instrumen lindung nilai.
Baca Juga: Anwar Abbas Dorong Rusia dan China Bersatu Bela Iran Hadapi Agresi AS-Israel
"Konflik geopolitik umumnya tidak membuat dolar melemah, justru sebaliknya. Dalam kondisi krisis, dolar berfungsi sebagai mata uang safe haven sehingga permintaannya meningkat," tegasnya.
Melihat potensi pelemahan Rupiah yang kian dalam, Bank Indonesia (BI) diharapkan tidak tinggal diam di pasar valuta asing.
Rizal menekankan perlunya langkah intervensi yang terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak terjun bebas akibat kepanikan pasar.
Tanpa langkah taktis dari otoritas moneter, volatilitas Rupiah akan semakin liar karena peluang penguatan mata uang Garuda di tengah perang Iran-Israel dan AS hampir mustahil terjadi.
"Karena itu, peluang rupiah menguat akibat perang Iran–Israel & AS relatif kecil, yang lebih mungkin terjadi adalah capital outflow dan kebutuhan intervensi valas oleh Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar," jelas Rizal lebih lanjut.
Skenario Terburuk: Penutupan Jalur Nadi Energi Dunia
Berita Terkait
-
Gubernur NTB Koordinasi dengan Dubes Timur Tengah Pastikan Keselamatan Warga
-
Profil Ayatollah Alireza Arafi, Pemimpin Tertinggi Iran Pengganti Ali Khamenei
-
Ali Khamenei Apakah Syiah? Pemimpin Tertinggi Iran Dikenal Sederhana dan Tidak Boleh Kaya
-
Terungkap! Begini Cara CIA Melacak dan Mengetahui Posisi Ayatollah Ali Khamenei
-
Perusahaan Maritim dan Kapal Tanker Dunia Umumkan Stop Operasi di Selat Hormuz
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
Terkini
-
Tak Cuma AS, Pemerintah RI Siapkan 'Karpet Merah' DHE SDA Eksportir Asing
-
Perkuat GCG dan Efisiensi, Pengamat Apresiasi Tata Kelola BUMN
-
Danantara Sumberdaya Indonesia Beroperasi, Pemerintah Masih "Buta" Soal Target Kinerja
-
DSI Resmi Kelola Ekspor Mulai 1 Juni, Ada Bocoran Peran Dirjen Bea Cukai
-
Belajar dari 'TikTok', Rugi di Pasar Modal: Bahaya Investasi Berbasis Tren Media Sosial
-
Bisnis Gerai Minuman di Tengah Tekanan Ekonomi, Ada yang Tutup dan Berkembang
-
IHSG Ambles Tapi Aset Emiten Melesat Rp94 Triliun, Ini Penyebabnya
-
Harga CPO Anjlok Pertengahan Tahun 2026, Kemendag Ungkap Penyebabnya
-
Rincian Aturan Baru Pajak UMKM: CV, Firma, dan PT Baru Kehilangan Fasilitas PPh
-
Harga Pangan Kian Meroket: Cabai Merah Besar Tembus Rp107 Ribu, Beras Ikut Naik