- Iran bersumpah membalas agresi AS dan mengancam memblokade Selat Hormuz, jalur krusial perdagangan minyak dunia.
- Eskalasi konflik menyebabkan harga minyak mentah dunia melonjak drastis, mengancam pertumbuhan ekonomi global secara signifikan.
- Konflik berdampak langsung, seperti krisis di Iran, serangan di Teluk, dan operasi militer Israel di Lebanon terhadap Hezbollah.
Suara.com - Eskalasi militer di Timur Tengah memasuki babak baru yang semakin mengkhawatirkan. Pada Kamis (12/3), Iran secara resmi bersumpah akan membuat Amerika Serikat menyesali agresinya terhadap Republik Islam tersebut.
Teheran menegaskan komitmennya untuk tetap memblokade Selat Hormuz, sebuah langkah yang telah memicu lonjakan tajam harga minyak mentah di pasar global.
Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, dalam pernyataan perdananya pasca penunjukan dirinya, menyerukan perlawanan total.
Meski belum muncul di publik karena dikabarkan terluka dalam serangan yang menewaskan ayahnya, Ali Khamenei, pesannya dibacakan dengan lantang melalui televisi negara.
"Tuas pemblokiran Selat Hormuz harus benar-benar digunakan," tegas Khamenei. Selat sempit sepanjang 54 kilometer ini merupakan jalur krusial bagi seperempat perdagangan minyak dunia dan seperlima pasokan gas alam cair (LNG) global.
Kepala Keamanan Iran, Ali Larijani, melalui platform X, turut memperingatkan Washington: "Memulai perang itu mudah, tapi tidak bisa dimenangkan hanya dengan beberapa cuitan. Kami tidak akan berhenti sampai kalian menyesali kalkulasi yang salah ini."
Harga Minyak Meroket, Trump Bergeming
Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa konflik ini berpotensi menjadi "gangguan pasokan terbesar" dalam sejarah industri minyak.
Bahkan, pihak Iran meminta negara-negara di dunia untuk mempersiapkan diri harga minyak mencapai rekor USD 200.
Baca Juga: AS Diduga Kuat Dalangi Pengeboman Sekolah Dasar Perempuan Iran tapi Trump Berkilah, Ini 5 Faktanya
Namun, Presiden AS Donald Trump bersikap menantang. Melalui media sosial, ia menyatakan bahwa menumbangkan "kekaisaran jahat" Iran jauh lebih penting daripada persoalan harga minyak mentah.
Saat ini, harga minyak acuan dunia telah melonjak 40 hingga 50 persen sejak serangan awal pada 28 Februari lalu. Kondisi ini mulai mengancam pertumbuhan ekonomi global dan memicu lonjakan inflasi di berbagai negara.
Perang ini telah mengubah wajah kehidupan sehari-hari di kawasan tersebut:
- Krisis di Iran: Di kota Kermanshah, 90% toko tutup. Kepercayaan masyarakat terhadap perbankan runtuh, memicu aksi tarik tunai massal. Bahan pokok seperti roti kini mulai dijatah, sementara PBB mencatat sekitar 3 juta warga Iran telah mengungsi.
- Serangan di Kawasan Teluk: Iran mengancam akan "membakar minyak dan gas kawasan" jika infrastruktur energinya terus dihantam. Bahrain melaporkan kepulan asap hitam akibat serangan pada tangki bahan bakar di Muharraq. Bandara Kuwait dan pusat kota Dubai juga kembali menjadi sasaran drone.
- Front Lebanon: Israel melaporkan telah menghantam markas komando Hezbollah di Beirut melalui gelombang serangan udara. Otoritas Lebanon mencatat 687 orang tewas, termasuk warga sipil yang mengungsi di pinggir pantai.
- Kerugian Militer AS: Sebuah pesawat tanker KC-135 jatuh di Irak Barat, menambah daftar kerugian armada udara AS dalam konflik ini.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Majid Takht-Ravanchi, mengungkapkan kepada AFP bahwa pihaknya bertindak semata-mata demi pertahanan diri.
Ia mengonfirmasi adanya pendekatan dari beberapa "negara sahabat" untuk mengakhiri konflik.
Iran menyatakan siap melakukan gencatan senjata, namun hanya jika hal itu menjadi bagian dari kesepakatan menyeluruh untuk mengakhiri perang secara permanen.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer bersama AS bertujuan untuk menghancurkan kekuatan nuklir dan rudal Iran, sekaligus menciptakan kondisi bagi rakyat Iran untuk meruntuhkan rezim yang berkuasa.
Berita Terkait
-
Kapal Tanker Meledak Kena Serangan Iran, Harga Minyak Kembali 'Mendidih'
-
Rudal-rudal Iran Masih Menghantui, Trump dan Netanyahu Terpojok Skandal Dalam Negeri
-
Diancam Trump untuk Mundur dari Piala Dunia 2026, Timnas Iran Lawan Balik: Lo Siape?
-
Trump Ancam Timnas Iran: Mundur dari Piala Dunia 2026 Kalau Tak Mau Celaka
-
Eksklusif! PowerPoint yang Dibuang Trump Sebabkan Tentara AS Mati
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Agustiar Sabran Resmi Pimpin PB Percasi 2026-2030, Ini Targetnya
-
Usut Etik Kasat Narkoba Tangsel, Polda Metro Tegaskan AKP Pardiman Tak Terkait Kasus Etomidate
-
Bukan Sekadar Angkat Beban, Ini Wajah Baru Tren Gym Modern yang Wajib Kamu Tahu!
-
Komplotan Buzzer Diciduk Polda Metro Jaya, Rp220 Juta Hasil Pembayaran Disita
-
Hasil Babak Pertama: Mitchell Baker Gemilang, Timnas Indonesia Unggul 3-0
-
Kronologi CR-V Terguling di Depan Kejari Palembang, Tabrak Dua Mobil Parkir Usai Hindari Motor
-
Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI, Airlangga Tak Ambil Pusing: Yang Penting Institusi Berjalan
-
Kronologi Komplotan Curanmor Bersenpi di Gandus Terbongkar, Satu Ditangkap dan Dua Masih Buron
-
Kenapa John Herdman Tak Berada di Bench Timnas Indonesia? Disamakan dengan Luis Enrique
-
Napi Pekanbaru Kabur Dikejar ke Jakarta, Isu Iming-imingi Petugas Rp30 Juta Mencuat