- Rupiah melemah ke Rp16.958, dekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS.
- Konflik Iran picu lonjakan harga minyak dan perkuat sentimen risk-off global.
- Seluruh mata uang Asia kompak memerah; dolar Taiwan pimpin pelemahan regional.
Suara.com - Pergerakan nilai tukar rupiah belum menunjukkan tanda-tanda kebangkitan pada penutupan perdagangan hari ini. Mata uang Garuda justru kian terperosok dan mulai mendekati level psikologis baru di angka Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Mengutip data Bloomberg, Jumat (13/3/2026), rupiah parkir di level Rp16.958 per dolar AS. Posisi ini mencerminkan pelemahan sebesar 0,10 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya, Kamis (12/3/2026), yang berada di level Rp16.893.
Kondisi serupa tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia yang mematok posisi Rp16.934 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong menyebutkan bahwa rontoknya rupiah sejalan dengan tren mata uang Asia lainnya. Meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah menjadi motor utama penguatan greenback.
"Rupiah dan semua mata uang regional serta utama dunia melemah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya sentimen risk-off global yang kuat," ujar Lukman saat dihubungi, Jumat (13/3/2026).
Menurut Lukman, kekhawatiran seputar konflik di Iran memicu lonjakan harga minyak dunia. Imbasnya, investor memilih aset aman (safe haven), sehingga indeks dolar AS meroket ke level tertinggi sejak November 2025. "Rupiah akan terus tertekan selama sentimen ini masih bertahan," imbuhnya.
Nasib apes rupiah menular ke hampir seluruh mata uang di kawasan Asia. Sore ini, dolar Taiwan memimpin kejatuhan dengan koreksi 0,67 persen, disusul won Korea sebesar 0,58 persen, dan peso Filipina yang turun 0,57 persen.
Mata uang lainnya seperti baht Thailand (-0,51%), rupee India (-0,28%), ringgit Malaysia (-0,27%), serta yuan China (-0,26%) juga tak berdaya. Sementara dolar Singapura dan yen Jepang masing-masing melemah 0,18 persen dan 0,04 persen.
Di sisi lain, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau perkasa di posisi 100,12, naik signifikan dibandingkan posisi kemarin di level 99,73.
Baca Juga: Rupiah Masih Tertekan, Dolar AS Mulai Naik ke Level Rp16.910
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan
-
Terungkap Penyebab Kematian Dokter PPDS di RSUD Tengku Rafian Siak
-
Profil Direktur PO ALS yang Jadi Tersangka Kasus Kecelakaan Bus Tewaskan 19 Orang
-
Pertamina Marine Solutions Resmi Jalin Kerjasama dengan Perusahaan China, Ini Rinciannya
-
Tak Cukup Alim, Cak Imin Minta Santri Melek Literasi Keuangan Agar Tak Terjebak Judol dan Pinjol
-
Berdayakan Puluhan Kelompok Usaha, Klaster Unggulan BRI Sukses Dongkrak Potensi Peternak