Bisnis / Keuangan
Jum'at, 13 Maret 2026 | 09:49 WIB
Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dolar AS, Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Rupiah dibuka melemah 0,10 persen menjadi Rp16.910 per dolar AS pada Jumat, 13 Maret 2026.
  • Pelemahan rupiah dipicu kenaikan harga minyak serta pernyataan Iran tentang penutupan Selat Hormuz.
  • Mata uang Asia mayoritas melemah, meskipun baht Thailand justru menunjukkan penguatan terbesar di kawasan tersebut.

Suara.com - Pergerakan nilai tukar rupiah masih melanjutkan pelemahan pada pembukaan hari ini. Mata uang Garuda pun belum bisa bangkit dari keterpurukan.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar Jumat (13/3/2026) dibuka ke level Rp16.910 per dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Indonesia pun melemah 0,10 persen dibanding penutupan pada Kamis (12/3/2026) yang berada di level Rp16.893 per dolar AS.

Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp16.899 per dolar AS. Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah disebabkan kenaikan harga minyak.

"Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS di tengah kembalinya sentimen risk-off dari kenaikan harga minyak," katanya saat dihubungi Suara.com.

Dia mengatakan mata uang garuda masih akan tertekan karena pernyataan Iran yang akan segera menutup selat Hormuz.

"Dolar AS menguat karena merespon pernyataan Khamenei yang mengatakan bahwa selat Hormuz masih akan tetap tertutup. Range rupiah 16.850-16.950," jelasnya.

Sementara itu, pergerakan mata uang Asia bervariasi dengan kecenderungan melemah. Di mana, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah anjlok 0,35 persen.

Berikutnya, ada peso Filipina yang ambles 0,15 persen dan ringgit Malaysia yang terkoreksi 0,06 persen Disusul, yuan China yang melemah 0,03 persen.

Sedangkan, baht Thailand menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah terkerek 0,09 persen.

Baca Juga: Purbaya Curhat Dimaki Warga TikTok Imbas Rupiah Anjlok

Load More