- Bank Indonesia menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar Rupiah saat libur panjang Lebaran 2026.
- BI memantau pergerakan Rupiah 24 jam melalui pasar NDF akibat potensi dampak konflik global.
- BI memperkuat transaksi mata uang lokal (LCT) dengan mitra seperti Tiongkok untuk kurangi permintaan dolar.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) memastikan akan menjaga pasar keuangan saat libur panjang. Termasuk, menstabilkan rupiah agar tidak terus melemah.
Pasalnya, rupiah ditutup melemah ke level Rp16.997 pada Selasa. Untuk itu, Deputi Gubernur BI, Destry Damayanti, mengatakan akan terus memperkuat berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang Timur Tengah.
"Langkah yang kami lakukan pada saat liburan panjang ini adalah memang pasar domestik kan tutup, tapi pasar di luar itu tidak tutup. Nah ini yang kami terus berjaga-jaga 24 jam,” tutur Deputi Gubernur BI Destry Damayanti dalam RDG secara virtual yang dikutip Rabu (18/3/2026).
Kata dia, pemantauan 24 jam tersebut terutama difokuskan pada pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang dapat terlihat melalui pasar Non Deliverable Forward (NDF). Dengan demikian, meskipun di dalam negeri sedang libur Lebaran, tim BI tetap bekerja untuk memantau dinamika pasar global.
Selain itu, BI akan terus memperkuat penggunaan local currency transaction (LCT). Salah satu pasar yang terus diperdalam yaitu yuan China, baik CNH maupun CNY.
“Ini yang terus kita lakukan sehingga bagi mereka yang akan melakukan transaksi, mereka tidak perlu lagi membeli dolar dulu, tapi mereka bisa (langsung) melakukannya di pasar domestik,” bebernya.
Langkah menggunakan mata uang lokal untuk transaksi lintas negara, berpengaruh untuk mengurangi permintaan dolar di pasar domestik.
Hingga Februari 2026, transaksi LCT mencapai 4,1 miliar dolar AS. Transaksi terbesar LCT terjadi dengan China yang sebesar 3 miliar dolar AS per bulan.
“Artinya kebutuhan terhadap mata uang lain selain dolar AS itu semakin meningkat di Indonesia,” tandasnya.
Baca Juga: BI: Bukan Dibatasi, Transaksi di Atas 50 Ribu Dolar AS Wajib Dokumen
Berita Terkait
-
Rupiah Menguat Tips, Dolar AS Sentuh ke Level Rp16.861
-
Waspada! Kewajiban Neto Luar Negeri RI Bengkak Jadi 272,6 Miliar Dolar AS
-
Menkeu Purbaya Beberkan Strategi Pemerintah Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah
-
Nilai Tukar Rupiah Menguat Seiring Turunnya Harga Minyak Dunia
-
Efek Ramadan, Penjualan Eceran Februari 2026 Diproyeksi Naik 4,4 Persen
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Milk Cleanser Viva untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan dan 5 Pilihan Variannya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- 4 Cushion Terbaik untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Anti Crack Samarkan Garis Halus Seharian
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
Pilihan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Link Live Streaming Portugal vs Kongo: Panggung Sesungguhnya CR7?
-
Demo Pakai Daster ke Istana, Aliansi Perempuan Tuntut Prabowo Turunkan Harga BBM dan Setop MBG
-
BREAKING NEWS: Kantor Dinas Pendidikan Sulsel Digeledah Kejati
-
Prediksi Argentina vs Aljazair: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
Terkini
-
DJP Klaim Anggaran Pajak Indonesia Lebih Murah dari China
-
Banyak yang Mundur dari Manajer Kopdes Merah Putih, Ada Denda Rp100 Juta hingga Penempatan Diacak?
-
B50 Resmi Meluncur Juli 2026, ESDM Pastikan Stok Minyak Goreng Tetap Aman
-
Bos Baru Danantara dari WNA Tuai Polemik, Pakar: Yang Penting Kompeten, Bukan Paspor
-
Harga Pertamax Cs Berpotensi Turun, ESDM Beri Kabar Baik untuk Kantong Masyarakat
-
Bea Cukai Ungkap BYD & Wuling Biang Kerok 10.000 Kontainer Menumpuk di Tanjung Priok
-
90 Juta Produk UMKM RI Laku di Luar Negeri, Ternyata Ini Rahasianya
-
Danantara Pegang Kendali Ekspor Sawit, Pemerintah Ubah Total Tata Kelola CPO Nasional
-
Rupiah Terkapar ke Rp17.762 per Dolar AS, Investor Tunggu Putusan The Fed dan BI
-
Purbaya Bongkar Masalah Era Sri Mulyani, Pegawai Pajak dan Bea Cukai Sulit Kerja Sama