- Kewajiban neto PII RI triwulan IV 2025 naik jadi 272,6 miliar dolar AS akibat KFLN melonjak.
- Modal asing masuk deras, cermin persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi domestik.
- BI: Ketahanan eksternal aman, rasio PII terhadap PDB 18,8% didominasi investasi jangka panjang.
Suara.com - Ketahanan eksternal Indonesia tengah diuji. Bank Indonesia (BI) melaporkan Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia pada triwulan IV 2025 mencatat kenaikan kewajiban neto yang cukup signifikan.
Hingga akhir Desember 2025, angka kewajiban neto Indonesia bertengger di level 272,6 miliar dolar AS. Posisi ini melonjak dibandingkan akhir triwulan III 2025 yang tercatat sebesar 261,8 miliar dolar AS.
"Kenaikan kewajiban neto tersebut dipengaruhi oleh peningkatan posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan posisi Aset Finansial Luar Negeri (AFLN)," ujar Direktur Eksekutif Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya, Rabu (11/3/2026).
Data BI menunjukkan KFLN Indonesia meroket menjadi 831,1 miliar dolar AS. Meski mencerminkan kepercayaan investor yang tetap tinggi terhadap ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global, derasnya aliran modal masuk ini otomatis mempertebal rapor kewajiban finansial kita ke luar negeri.
Di sisi lain, Aset Finansial Luar Negeri (AFLN) memang naik menjadi 558,5 miliar dolar AS berkat moncernya cadangan devisa dan harga emas. Namun, pertumbuhannya belum mampu mengimbangi laju KFLN.
Secara tahunan, sepanjang 2025 kewajiban neto RI naik dari 245,7 miliar dolar AS menjadi 272,6 miliar dolar AS. Kendati angka nominalnya membengkak, Bank Indonesia tetap optimistis.
BI menilai struktur PII Indonesia masih terjaga dengan rasio terhadap PDB di level 18,8 persen. Menariknya, 93,2 persen dari total kewajiban tersebut merupakan instrumen jangka panjang, terutama dalam bentuk investasi langsung (FDI).
"Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati dinamika global dan memperkuat sinergi dengan pemerintah guna menjaga ketahanan sektor eksternal," pungkas Ramdan.
Baca Juga: Efek Ramadan, Penjualan Eceran Februari 2026 Diproyeksi Naik 4,4 Persen
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Beda Cushion Wardah Colorfit Hijau dan Krem: Intip Harga, Kandungan, dan Manfaatnya
Pilihan
-
Haji Bolot Dikabarkan Terkena Serangan Jantung, Posisi Masih di Rumah Sakit
-
Derita Masyarakat RI Bertambah Kini Harga Pertamax Naik, Apa yang Harus Dilakukan?
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
Terkini
-
Pipa Cisem II Beroperasi Penuh, KITB Dapat Suntikan Energi Baru
-
Borok Investasi Asing Mencuat, Sering Terlantarkan Hak Pekerja
-
Purbaya Pede Rupiah Bisa Menguat hingga Rp 16.800 per Dolar AS Tahun Depan
-
Investasi AI di Indonesia Tetap Jalan Meski Rupiah Lemah
-
Kereta 12 Rangkaian Akan Layani Green Line Tanah Abang - Rangkasbitung
-
Pemerintah Tepat Naikkan Harga Pertamax
-
Ekonom UGM Bongkar Stress Test APBN, Rupiah Rp18.200 Jadi Ambang Kritis
-
Purbaya Klaim Harga BBM Naik Berefek Minim ke Inflasi
-
Kenaikan Pertamax Bikin Kaget, Pengguna Xpander Menjerit: Rp480 Ribu Pun Belum Bisa Full Tank!
-
Terungkap, Harga Pertamax Aslinya Rp21.000 per Liter