- APINDO menolak rencana batas maksimal nikotin dan tar produk tembakau karena berpotensi menekan industri padat karya strategis.
- Pelaku usaha menyoroti bahwa karakteristik tembakau Indonesia secara alami memiliki kadar nikotin lebih tinggi dibanding negara lain.
- APINDO menganggap masa transisi lima tahun tidak realistis dan meminta kajian komprehensif demi keberlanjutan ekonomi dan tenaga kerja.
Suara.com - Rencana pemerintah menetapkan batas maksimal kadar nikotin dan tar dalam produk hasil tembakau menuai penolakan dari kalangan pelaku usaha. Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) meminta kebijakan tersebut dikaji ulang agar tidak menekan industri padat karya.
Wakil Sekretaris Umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Anggana Bunawan, mengatakan pihaknya menghormati forum kajian yang diselenggarakan pemerintah, namun tetap menyampaikan sejumlah keberatan terhadap rencana kebijakan tersebut.
"Kita perlu mempertimbangkan faktor yang tidak bisa dihindari, salah satunya adalah karakteristik tembakau Indonesia, yang secara alami memiliki kadar nikotin lebih tinggi dibandingkan beberapa negara lain," ujarnya seperti dikutip, Jumat (27/3/2026).
Menurut APINDO, industri hasil tembakau (IHT) merupakan sektor padat karya strategis yang perlu dilindungi. Industri ini disebut mampu menyerap sekitar 6 juta tenaga kerja, mulai dari petani, pekerja pabrik, hingga sektor distribusi dan logistik.
Selain itu, sektor IHT juga memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan negara melalui cukai hasil tembakau (CHT), yang disebut menyumbang sekitar 10 hingga 30 persen dari total penerimaan negara.
Anggana menilai, di tengah kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, industri justru membutuhkan kebijakan yang lebih akomodatif, bukan sebaliknya.
Ia juga menyoroti perbedaan karakteristik tembakau Indonesia dengan negara lain, seperti Brasil, yang kerap dijadikan acuan dalam penentuan standar.
Menurutnya, perbedaan tersebut membuat penerapan batas maksimal nikotin dan tar tidak bisa disamaratakan begitu saja.
APINDO turut menilai masa transisi selama lima tahun yang direncanakan pemerintah masih belum realistis bagi kesiapan industri nasional.
Baca Juga: Industri Kretek RI Terancam Punah Gegara Kebijakan Ini
Oleh karena itu, diperlukan koordinasi yang lebih mendalam antar kementerian dan lembaga, agar kebijakan yang dihasilkan tidak hanya mempertimbangkan aspek kesehatan, tetapi juga keberlanjutan industri dan tenaga kerja.
Selain itu, APINDO juga mendorong adanya dialog konstruktif antara pemerintah dan pelaku usaha, agar proses transisi kebijakan dapat berjalan lebih optimal.
Dengan kajian yang lebih komprehensif, diharapkan kebijakan yang diambil mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan kesehatan dan ekonomi nasional.
Berita Terkait
Terpopuler
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- 6 Rekomendasi Sepeda 1 Jutaan Terbaru yang Cocok untuk Bapak-Bapak
- 5 Bedak Tabur Translucent Lokal yang Bikin Makeup Tampak Halus dan Tahan Lama
Pilihan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
Terkini
-
Rupiah Bisa Tembus Rp18.000
-
Purbaya Akhirnya Turun Tangan Bantu BI Setelah Rupiah Tembus Rp 17.500
-
Alarm Bahaya dari MSCI: Pasar Modal RI Terancam Kehilangan Taji di Mata Global
-
BPNT Tahap 2 Bulan Mei 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal, Nominal Bantuan, dan Cara Pencairannya
-
Awas Dana Asing Kabur! Bobot Saham Indonesia di MSCI Terancam Turun
-
Pegadaian Raih Predikat 'Best of the Best' di BUMN Entrepreneurial Marketing Awards 2026
-
Rupiah Tembus Rekor Terburuk Rp17.501, Beban Rakyat Kian Berat Akibat Harga Pangan yang Naik
-
Rp9,1 Triliun Duit Masyarakat Hilang Akibat Ditipu Lewat Scam Digital
-
Indri Wahyuni Juri LCC MPR Viral, Gaji dan Kekayaannya Bikin Publik Melongo
-
Harga Minyak Brent dan WTI Bergerak Tipis, Damai ASIran Kembali Gagal