- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi penerimaan Bea dan Cukai negatif di dua bulan awal 2026.
- Penerimaan Bea Cukai Februari 2026 adalah Rp 44,9 triliun, turun 14,7% dibandingkan tahun sebelumnya.
- Kemenkeu berencana mengintensifkan operasi rokok ilegal dan menambah lapisan perizinan untuk meningkatkan penerimaan.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara soal penerimaan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang negatif di dua bulan pertama tahun 2026.
Adapun penerimaan Bea Cukai per Februari 2026 mencapai Rp 44,9 triliun, turun 14,7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu dengan angka Rp 52,6 triliun. Rincinya, penerimaan BC mencapai Rp 22,6 triliun di Januari 2026 dan Rp 22,3 di Februari 2026.
Menkeu Purbaya beralasan kalau turunnya penerimaan negara dari Bea Cukai di dua bulan pertama adalah hal biasa. Namun khusus Cukai, penerimaan sudah tumbuh 7 persen.
"Itu biasanya gitu, dua bulan pertama gitu, habis itu naik lagi. Kalau Cukai, data tadi sudah tumbuh 7 persen. Januari-Februari kan masih negatif, Maret tuh yang tadi sudah tumbuh 7 persen," katanya di Kantor Kemenkeu, Jakarta, dikutip Kamis (28/3/2026).
Untuk menambah penerimaan negara, Purbaya akan lebih gencar melakukan operasi ke rokok ilegal. Saat ini Kemenkeu sudah menambah satu layer atau lapisan agar rokok ilegal bisa masuk menjadi legal.
"Nanti akan saya lihat lagi, kita galakkan lagi tuh operasi-operasi ke barang-barang yang ilegal. Kita akan masukkan yang ilegal, produksi yang ilegal, masuk ke legal dan menambah satu layer," tambahnya.
Aturan baru rokok ilegal itu diakui Purbaya sudah selesai di Kemenkeu. Tahap selanjutnya akan didiskusikan ke DPR.
Jika kebijakan ini resmi berjalan, Purbaya memastikan tidak ada ampun ke produsen rokok ilegal.
"Nanti begitu jalan, yang ilegal-ilegal enggak ada ampun lagi," jelasnya.
Baca Juga: Purbaya Bocorkan Strategi Pemerintah Jika Harga Minyak Dunia Terus Melonjak
Tag
Berita Terkait
-
Purbaya Bocorkan Strategi Pemerintah Jika Harga Minyak Dunia Terus Melonjak
-
Purbaya: Trump Jatuh Jika Minyak 150 USD per Barel, Bukan RI
-
Purbaya Serang Balik Ekonom Ferry Latuhihin: Dia Tak Pernah Pegang Data Ekonomi
-
Purbaya Pastikan Indonesia Aman dari Status Darurat Energi, Beda dari Filipina
-
Batas Pelaporan SPT Diperpanjang hingga 30 April 2026
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Pengendalian Industri Tembakau Picu Menjamurnya Rokok Ilegal
-
Perempuan Jadi Korban Jika Industri Tembakau Tertekan
-
Pemadaman Bergilir Akibat Pemangkasan RKAB Batubara oleh Kementerian ESDM
-
Hitung-hitungan Kerugian Negara dari Peredaran Rokok Ilegal
-
418 Ribu Penumpang Nikmati Diskon Kapal Feri, Kuota Masih Tersedia
-
Ternyata Kemasan Rokok Polos Melanggar Aturan
-
Prabowo Bakal Luncurkan BBM Baru, Segini Harganya
-
Begini Modus WNA Curi Emas di Wilayah Gunung Botak
-
Kemasan Rokok Polos Berisiko Gerus Penerimaan Negara hingga Puluhan Triliun
-
Patriot Bond Jadi Tempat Pencucian Uang, DPR: Insentif Menarik Investor