Bisnis / Energi
Senin, 30 Maret 2026 | 18:56 WIB
Petugas mengganti papan informasi harga BBM jenis Pertamax Turbo di sebuah SPBU di Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa (3/1/2023). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Kenaikan harga BBM non-subsidi Indonesia relatif terkendali akibat mekanisme pasar internasional terkini.
  • Ekonom Wisnu Wibowo menyatakan lonjakan BBM ini dipicu konflik geopolitik Timur Tengah per Minggu (29/03/2026).
  • Harga BBM Indonesia lebih rendah dibanding Singapura, Thailand, Vietnam, kecuali Malaysia yang memberi subsidi besar.

Suara.com - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di Indonesia dinilai masih relatif terkendali jika dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Ekonom Universitas Airlangga, Wisnu Wibowo menyebut, lonjakan harga BBM yang terjadi saat ini merupakan dampak dari kenaikan harga minyak global akibat memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.

"Kenaikan harga BBM non-subsidi dinilai sebagai konsekuensi logis karena skema penetapannya mengikuti harga pasar internasional," kata Wisnu Wibowo seperti dikutip, Senin (30/3/2026).

Meski mengalami kenaikan, Wisnu menilai penyesuaian harga BBM non-subsidi di Indonesia masih tergolong moderat, yakni berada di kisaran 5 hingga 10 persen.

Ilustrasi petugas SPBU tengah melayani pelanggan yang membeli Pertamax Series. [Dok Pertamina]

"Kenaikan BBM nonsubsidi saya prediksi masih di bawah 10 persen, sekitar 5 sampai 10 persen," ujarnya.

Jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, harga BBM di Indonesia masih relatif lebih rendah. Di Singapura misalnya, harga BBM jenis RON 95 bisa mencapai sekitar Rp 45.000 per liter, bahkan RON 98 berada di kisaran Rp 52.000 hingga Rp 55.000 per liter.

Sementara di Thailand dan Vietnam, harga BBM juga berada di atas Indonesia, terutama untuk jenis solar yang berkaitan langsung dengan sektor logistik dan industri.

Sebaliknya, Malaysia yang masih memberikan subsidi besar mampu menahan harga BBM tetap lebih rendah. Namun, kebijakan tersebut juga membuat beban fiskal negara menjadi lebih berat.

Wisnu menjelaskan, stabilitas harga BBM di Indonesia tidak lepas dari peran pemerintah yang masih menahan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar untuk menjaga daya beli masyarakat.

Baca Juga: Penggunaan Kendaraan Listrik Dinilai Lebih Hemat Ongkos 70%, Ini Hitungannya

Selain itu, mekanisme penyesuaian harga BBM non-subsidi di Indonesia juga dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan berbagai faktor, seperti harga acuan global, nilai tukar rupiah, serta komponen pajak.

"Variabel harga acuan dan kurs saat ini sangat dinamis, sehingga wajar jika terjadi penyesuaian harga di tingkat eceran," jelasnya.

Di tengah tekanan harga minyak dunia yang telah menembus di atas 100 dolar AS per barel, Indonesia dinilai masih berada pada posisi relatif stabil dibandingkan negara lain di kawasan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kebijakan energi nasional masih mampu menjaga keseimbangan antara mengikuti mekanisme pasar global dan melindungi daya beli masyarakat domestik.

Berikut ini komparasi harga BBM di ASEAN sejak krisis Selat Hormuz pada Maret 2026:

Indonesia (Pertamina)

Load More