- Kenaikan harga BBM non-subsidi Indonesia relatif terkendali akibat mekanisme pasar internasional terkini.
- Ekonom Wisnu Wibowo menyatakan lonjakan BBM ini dipicu konflik geopolitik Timur Tengah per Minggu (29/03/2026).
- Harga BBM Indonesia lebih rendah dibanding Singapura, Thailand, Vietnam, kecuali Malaysia yang memberi subsidi besar.
Suara.com - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di Indonesia dinilai masih relatif terkendali jika dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.
Ekonom Universitas Airlangga, Wisnu Wibowo menyebut, lonjakan harga BBM yang terjadi saat ini merupakan dampak dari kenaikan harga minyak global akibat memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.
"Kenaikan harga BBM non-subsidi dinilai sebagai konsekuensi logis karena skema penetapannya mengikuti harga pasar internasional," kata Wisnu Wibowo seperti dikutip, Senin (30/3/2026).
Meski mengalami kenaikan, Wisnu menilai penyesuaian harga BBM non-subsidi di Indonesia masih tergolong moderat, yakni berada di kisaran 5 hingga 10 persen.
"Kenaikan BBM nonsubsidi saya prediksi masih di bawah 10 persen, sekitar 5 sampai 10 persen," ujarnya.
Jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, harga BBM di Indonesia masih relatif lebih rendah. Di Singapura misalnya, harga BBM jenis RON 95 bisa mencapai sekitar Rp 45.000 per liter, bahkan RON 98 berada di kisaran Rp 52.000 hingga Rp 55.000 per liter.
Sementara di Thailand dan Vietnam, harga BBM juga berada di atas Indonesia, terutama untuk jenis solar yang berkaitan langsung dengan sektor logistik dan industri.
Sebaliknya, Malaysia yang masih memberikan subsidi besar mampu menahan harga BBM tetap lebih rendah. Namun, kebijakan tersebut juga membuat beban fiskal negara menjadi lebih berat.
Wisnu menjelaskan, stabilitas harga BBM di Indonesia tidak lepas dari peran pemerintah yang masih menahan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar untuk menjaga daya beli masyarakat.
Baca Juga: Penggunaan Kendaraan Listrik Dinilai Lebih Hemat Ongkos 70%, Ini Hitungannya
Selain itu, mekanisme penyesuaian harga BBM non-subsidi di Indonesia juga dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan berbagai faktor, seperti harga acuan global, nilai tukar rupiah, serta komponen pajak.
"Variabel harga acuan dan kurs saat ini sangat dinamis, sehingga wajar jika terjadi penyesuaian harga di tingkat eceran," jelasnya.
Di tengah tekanan harga minyak dunia yang telah menembus di atas 100 dolar AS per barel, Indonesia dinilai masih berada pada posisi relatif stabil dibandingkan negara lain di kawasan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kebijakan energi nasional masih mampu menjaga keseimbangan antara mengikuti mekanisme pasar global dan melindungi daya beli masyarakat domestik.
Berikut ini komparasi harga BBM di ASEAN sejak krisis Selat Hormuz pada Maret 2026:
Indonesia (Pertamina)
Berita Terkait
Terpopuler
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 5 Rekomendasi Smartwatch yang Bisa Balas WhatsApp, Mulai Rp400 Ribuan
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya
- Dua 'Pesawat Super' Milik AS Hancur, Kekuatan Militer Iran Kejutkan Dunia
Pilihan
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
-
Sesaat Lagi! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Bulgaria
-
Melihat 3 Pemain yang Bakal Jadi Senjata Utama Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria
-
Profil Sertu Farizal Rhomadhon, Prajurit TNI asal Kulon Progo yang Gugur di Lebanon
Terkini
-
Dari Limbah Jadi Energi, Biomassa Sawit RI Kuasai Pasar Jepang
-
Aset Kripto Jadi Pelarian Saat Saham Loyo, Tapi Tetap Berisiko
-
Negara-negara Asing Mulai Antre Beli Pupuk dari Indonesia
-
Wacana Kemasan Polos Disorot, Rokok Ilegal Diprediksi Melonjak Tajam
-
RI Dapat Berkah dari Perang AS dan Iran, Bisa Jadi Raja Eksportir Pupuk Urea
-
Pegadaian Tembus Pasar Global, Ekspansi ke Timor Leste di Usia 125 Tahun
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
DJP Hapus Sanksi Administratif Jika Lapor SPT Pajak Telat Lewati 31 Maret 2026
-
IHSG Masih Merosot Hari Ini, Saham-saham Energi Membara
-
B-LOG Bukukan Kinerja Positif di 2025, Perkuat Arah Pertumbuhan Berkelanjutan