Bisnis / Ekopol
Selasa, 31 Maret 2026 | 08:17 WIB
Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan keinginannya untuk menguasai cadangan minyak Iran dan sedang mempertimbangkan untuk merebut Pulau Kharg, titik nadi ekspor minyak negara tersebut. Foto ist.
Baca 10 detik
  • Trump incar Pulau Kharg Iran untuk kuasai 90% jalur ekspor minyak Negeri Para Mullah tersebut.
  • Presiden AS sebut pengkritik rencana 'rampas' minyak Iran sebagai orang bodoh.
  • Pulau Kharg adalah jantung ekonomi Iran yang memasok 4,5% kebutuhan minyak mentah dunia.

Suara.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memicu kontroversi global dengan pernyataan blak-blakannya terkait ambisi penguasaan sumber daya energi. Kali ini, Teheran berada dalam bidikan.

Trump secara terbuka menyatakan keinginannya untuk menguasai cadangan minyak Iran dan sedang mempertimbangkan untuk merebut Pulau Kharg, titik nadi ekspor minyak negara tersebut.

Dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari CNBC, Senin (30/3/2026), Trump tak segan melabeli pihak-pihak di dalam negerinya yang mempertanyakan kebijakan agresif tersebut sebagai orang bodoh.

"Sejujurnya, hal favorit saya adalah mengambil minyak di Iran, tetapi beberapa orang bodoh di AS mengatakan 'mengapa Anda melakukan itu?' Mereka orang bodoh," ujar Trump dengan nada khasnya.

Langkah ekstrem ini rupanya bukan tanpa preseden. Trump menyamakan rencana tersebut dengan ambisi AS menguasai industri minyak Venezuela, yang puncaknya terjadi saat penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada Januari 2026 lalu. Bagi Trump, penguasaan fisik atas aset energi negara lawan adalah opsi nyata yang ada di atas meja.

"Mungkin kita merebut Pulau Kharg, mungkin juga tidak. Kita punya banyak pilihan. Itu juga berarti kita harus berada di sana (di Pulau Kharg) untuk sementara waktu," tuturnya menambahkan.

Pulau Kharg bukanlah sekadar daratan karang biasa di Teluk Persia. Wilayah seluas sepertiga Manhattan ini adalah "jantung" yang memompa ekonomi Iran. Pasalnya, sekitar 90% ekspor minyak Iran dikelola melalui terminal di pulau ini. Iran memasok sekitar 4,5% minyak global dengan produksi harian mencapai 3,3 juta barel minyak mentah dan dikenal sebagai "Pulau Terlarang", kawasan ini dijaga ketat oleh militer karena urgensi ekonominya.

Sejak era 1980-an, dokumen intelijen (CIA) sudah mengidentifikasi Pulau Kharg sebagai fasilitas paling vital bagi kesejahteraan ekonomi Iran. Tak heran jika tokoh oposisi Israel, Yair Lapid, turut memanaskan suasana dengan menyebut bahwa penghancuran atau penguasaan terminal ini akan melumpuhkan rezim Teheran secara total.

Kini, dunia internasional menunggu apakah gertakan Trump ini akan berubah menjadi operasi militer nyata yang dapat menjungkirbalikkan pasar energi global.

Baca Juga: 3 Prajurit TNI Gugur Akibat Serangan Israel, Publik Menantikan Sikap Tegas Prabowo

Load More