- Gangguan Selat Hormuz ancam hilangnya devisa RI hingga USD 606,85 juta.
- Lonjakan harga migas bebani biaya produksi dan perlebar defisit neraca migas.
- Pelemahan ekonomi China, Jepang, dan India tekan permintaan komoditas Indonesia.
Suara.com - Peta geopolitik di Teluk Persia sedang berada di titik nadir. Konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat - Isarel Vs Iran kini bukan lagi sekadar urusan kedaulatan, melainkan ancaman nyata bagi urat nadi perdagangan dunia, termasuk Indonesia.
Selat Hormuz adalah jalur tunggal bagi delapan negara Teluk (UAE, Arab Saudi, Qatar, Oman, Irak, Iran, Kuwait, dan Bahrain). Tanpa jalur alternatif yang memadai, setiap gangguan di selat ini praktis mengunci arus keluar-masuk komoditas global.
Laporan terbaru dari CORE Insight bertajuk "Awas Efek Domino Konflik Timur Tengah" membedah bagaimana bara api di Hormuz bisa membakar neraca perdagangan RI.
"Kami mengestimasi melalui skema moderat, dengan asumsi gangguan di Selat Hormuz terjadi selama 6 minggu, volume lalu lintas selatterganggu 80%, Indonesia berpotensi kehilangan nilai ekspor dari kawasan Teluk Persia sebesarUSD606,85 juta," tulis laporan CORE Indonesia dikutip Sabtu (4/4/2026).
Pintu Ekspor yang Terancam Terkunci
Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi adalah pemain kunci bagi Indonesia di kawasan ini, dengan penguasaan 72% total perdagangan RI di Teluk Persia. Komoditas seperti minyak sawit, perhiasan, logam mulia, hingga suku cadang kendaraan kini berada di zona merah.
Khusus untuk UEA, Indonesia baru saja menikmati bulan madu lewat perjanjian IUAE-CEPA yang mendorong pertumbuhan ekspor hingga 31,6% pada 2025. Namun, blokade Hormuz bisa menghapus momentum tersebut. Estimasi moderat CORE menyebutkan: gangguan selama 6 minggu dengan penyusutan lalu lintas 80% berpotensi melenyapkan nilai ekspor RI sebesar USD 606,85 juta.
Efek Getar pada Mitra Dagang Utama
Dampak yang lebih mengerikan justru datang secara tidak langsung melalui pelemahan ekonomi mitra dagang utama RI seperti Tiongkok, Jepang, India, dan Korea Selatan.
Baca Juga: Tragedi Jembatan B1 Iran: Jumlah Korban Jiwa Serangan AS-Israel Kini Capai 13 Jiwa
Tiongkok sendiri sebagai mitra terbesar RI dengan share mencapai 23,7%.
"Tiongkok sangat bergantung pada energi dari Teluk. Lonjakan biaya energi akan memukul manufaktur mereka, yang berujung pada anjloknya permintaan bahan baku nikel dan batu bara dari Indonesia," sebut laporan itu.
Jepang sebagai 'Saudara Tua' Indonesia juga bernasib sama. Toyota bahkan sudah memangkas produksi 40.000 unit untuk pasar Timur Tengah. Jika Jepang goyah, permintaan komponen otomotif dari RI dipastikan merosot.
Begitu juga dengan India. Selain krisis energi, mereka bergantung pada remitansi 8-9 juta diaspora di Timur Tengah sebesar USD 51 miliar. Penurunan daya beli di India akan memukul ekspor kelapa sawit dan pupuk nasional.
Ancaman Investasi dan Impor Bahan Baku
Singapura, sebagai hub keuangan dan sumber FDI nomor satu bagi Indonesia (USD 17 miliar pada 2025), juga sangat rentan. Perlambatan di Singapura tidak hanya mengganggu logistik, tapi juga berisiko menghambat aliran investasi masuk ke tanah air.
Di sisi lain, Indonesia sebagai net-importir minyak akan menghadapi pembengkakan defisit neraca migas. Pelemahan manufaktur di Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan—tiga pemasok barang modal terbesar kita juga akan memicu kenaikan harga input produksi di dalam negeri. Secara struktural, ini adalah resep sempurna bagi inflasi biaya produksi.
Simpulan: Ancaman Stagflasi di Depan Mata?
Konflik Iran dan gangguan Selat Hormuz bukan sekadar masalah penurunan ekspor. Sebagai net-importir minyak, Indonesia juga harus menghadapi potensi pelebaran defisit neraca migas akibat lonjakan harga minyak dunia.
Di sisi lain, pelemahan kapasitas manufaktur di Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan akan mengganggu pasokan barang modal dan bahan baku industri nasional. Ini adalah resep sempurna bagi kenaikan harga input produksi secara struktural di dalam negeri.
Pemerintah dan pelaku usaha kini harus menatap layar radar dengan lebih waspada. Tanpa strategi diversifikasi pasar yang cepat dan penguatan ketahanan energi domestik, "Efek Domino" dari Selat Hormuz bisa mengubah optimisme ekonomi 2026 menjadi tantangan yang sangat melelahkan.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- Banyak Banget, Intip Hampers Tedak Siten Anak Erika Carlina
Pilihan
-
Hizbullah Klaim Hancurkan Kapal Militer Israel Sebelum Serang Lebanon
-
Jusuf Kalla Mau Laporkan Rismon Sianipar ke Polisi! Ini Masalahnya
-
Di Balik Lahan Hindoli, Seperti Apa Perkebunan yang Jadi Lokasi 11 Sumur Minyak Ilegal?
-
Traumatik Mendalam Jemaat POUK Tesalonika Tangerang: Kebebasan Beribadah Belum Terjamin?
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
Terkini
-
Rupiah Anjlok, Emas Logam Mulia Diramal Bisa Tembus Rp3 Juta per Gram
-
IHSG Diprediksi Berkutat di Level 7000 di Tengah Sinyal Damai Perang Iran
-
Pemerintah Bakal Tiru Rusun di Jakbar untuk Program 3 Juta Rumah
-
IHSG Berpotensi Melemah Awal Pekan, Saham-Saham Ini Bisa Untung
-
Fakta-fakta Harga Plastik Melonjak Drastis, Ini Penyebabnya
-
1.000 Unit Rusun Bakal Dibangun di Lahan Kampung Bandan Milik KAI Pakai Skema CSR
-
Aset IRRA Tembus Rp2,43 Triliun, Laba Bersih Naik 23,03 Persen pada 2025
-
Impor Barang Modal RI Melonjak 34 Persen
-
Laba Bersih Melonjak 79 Persen, Seabank Bakal Luncurkan Debit Card Tahun Ini
-
Neraca Dagang Indonesia Surplus USD 1,27 Miliar, Apa Saja Faktor Pendukungnya