- Upaya mediasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran menemui jalan buntu akibat penolakan keras pihak Teheran.
- Iran menolak perundingan karena menginginkan penghentian perang secara total, bukan sekadar gencatan senjata sementara yang ditawarkan Washington.
- Konflik militer yang terjadi memicu blokade di Selat Hormuz yang berpotensi menyebabkan krisis energi global dan kenaikan harga.
Suara.com - Harapan akan terciptanya perdamaian di Timur Tengah kini berada di ujung tanduk. Upaya negara-negara kawasan untuk memediasi gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan menemui jalan buntu, menyusul penolakan keras dari pihak Teheran.
Laporan terbaru dari The Wall Street Journal pada Jumat (01/03), mengungkapkan bahwa mediasi yang diusahakan berbagai pihak belum membuahkan hasil. Iran secara tegas menutup pintu dialog untuk saat ini.
"Iran telah memberi tahu para mediator tentang keengganannya untuk bertemu dengan pejabat AS di Pakistan dalam beberapa hari mendatang, karena menurut mereka tuntutan Washington tidak dapat diterima," tulis laporan tersebut mengutip sumber mediator.
Meski situasi mendingin di meja perundingan, Mesir dan Turki dilaporkan masih terus bergerak di balik layar. Kedua negara ini mencoba memfasilitasi dialog dengan menawarkan lokasi alternatif yang dianggap lebih netral guna mencairkan ketegangan.
Doha (Qatar) dan Istanbul (Turki) muncul sebagai kandidat kuat tempat pertemuan potensial bagi kedua musuh bebuyutan tersebut, sebagaimana dilaporkan oleh mediator.
Teheran Pilih Perang Berhenti Total, Bukan Gencatan Senjata
Sikap keras Iran didasari oleh prinsip diplomatik mereka yang enggan berkompromi pada solusi jangka pendek. Kepala misi diplomatik Iran di Kairo, Mojtaba Ferdosipour, menegaskan posisi negaranya kepada RIA Novosti.
Ia menyatakan bahwa "Iran hanya akan menyetujui pengakhiran perang sepenuhnya dan menentang gencatan senjata."
Senada dengan hal tersebut, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, pada Rabu (26/02) juga membantah klaim sepihak dari Presiden AS Donald Trump yang menyebut Teheran mulai goyah dan meminta gencatan senjata.
Baca Juga: Perombakan Besar Militer AS, Pete Hegseth Pecat Jenderal Randy George di Tengah Perang Iran
Ketegangan diplomatik ini merupakan buntut dari aksi militer terbuka. Pada 28 Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah target di Iran, termasuk ibu kota Teheran, yang memicu kerusakan signifikan dan jatuhnya korban sipil.
Iran membalas serangan tersebut dengan menghujani wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah dengan proyektil.
Kini, dunia mulai merasakan dampak nyata dari konflik ini. Eskalasi militer telah memicu blokade de facto di Selat Hormuz—urat nadi utama pengiriman minyak dan gas alam cair global. Jika blokade ini berlanjut, krisis energi global diprediksi akan semakin parah seiring meroketnya harga minyak dunia. (Antara/ Sputnik)
Berita Terkait
-
Trump Klaim Hancurkan Jembatan Terbesar Iran, Menlu Araqchi: Kehancuran Moral Amerika Serikat!
-
Klaim Trump Terbantahkan, Intelijen AS Ungkap Iran Masih Simpan 50 Persen Rudal dan Ribuan Drone
-
5 Kebijakan WFH Paling Nyeleneh di Dunia Imbas Perang, Indonesia Tak Ada Apa-apanya
-
Perombakan Besar Militer AS, Pete Hegseth Pecat Jenderal Randy George di Tengah Perang Iran
Terpopuler
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
- 5 Kipas Angin Sedingin AC Lebih Murah dan Irit Listrik
- Ramalan 12 Shio Bulan di Juli 2026: Peruntungan Karier, Keuangan, Asmara, dan Kesehatan
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Gara-gara Berkas Tak Lengkap! Kasus Heli Anggota DKPP Tio Aliansyah Resmi Dinyatakan Gugur
-
Penuhi Titah Prabowo, Pramono Siapkan Lahan 8 Hektare Bangun Sekolah Rakyat Permanen di Jakarta
-
Fakta-fakta Kebakaran TPA Jatiwaringin, Ratusan Orang Mengungsi
-
Korban Ketiga Operasi Narkoba Katingan: Aiptu Sumaryanto Ditemukan Meninggal
-
Pelayat Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Ingin Donald Trump Meninggal Dunia
-
Ada Tamu Negara! Simak Rute Penutupan Jalan di Jakarta Selama Kunjungan PM Singapura
-
Khofifah Lepas 4.015 Pelari MANTRA116 2026, Perkuat Posisi Jatim sebagai Destinasi Sport Tourism
-
Jurus Baru Roy Suryo: Ajukan Praperadilan Jilid 2 Demi Runtuhkan Dasar Tersangka UU ITE
-
Rugikan Nasabah Rp90 M, Kasus Akses Ilegal Mirae Asset Naik Penyidikan!
-
Melejit 300 Persen! Penumpang Stasiun JIS Membeludak di Akhir Pekan, Tiket Rp1 Jadi Magnet