- Aturan 1% dinilai efektif membatasi kerugian trader saat pasar bergejolak.
- “Jumat Berdarah Kripto” 2025 jadi bukti pentingnya manajemen risiko.
- Trader emosional dan overtrading berisiko kehilangan seluruh modal.
Suara.com - Gejolak pasar keuangan global kembali menjadi pengingat keras bagi para trader dan investor bahwa keuntungan besar selalu dibayangi risiko besar. Dalam dunia trading modern, terutama di pasar mata uang kripto yang sangat volatil, disiplin manajemen risiko kini dinilai jauh lebih penting dibanding sekadar mengejar cuan cepat.
Broker CFD global Elev8 menyoroti pentingnya penerapan “aturan 1%” sebagai strategi perlindungan modal di tengah ancaman peristiwa pasar ekstrem atau black swan. Salah satu contoh paling dramatis terjadi pada Oktober 2025 dalam peristiwa yang dijuluki “Jumat Berdarah Kripto”, ketika gelombang likuidasi global menghapus saldo akun para trader hanya dalam hitungan jam.
Dalam ilustrasi yang dipaparkan Elev8, seorang trader dengan nilai akun sekitar US$2 juta atau Rp34 miliar (kurs Rp17.000) sempat mengalami penurunan hingga tersisa US$900 ribu atau Rp15,3 miliar akibat overtrading. Meski kerugian itu masih bisa ditoleransi, kejatuhan pasar kripto pada Oktober 2025 akhirnya menghapus seluruh sisa modal akibat tidak adanya pengelolaan risiko yang memadai.
Aturan 1% sendiri merupakan prinsip manajemen risiko yang membatasi potensi kerugian maksimal hanya sebesar 1% dari total modal dalam setiap transaksi. Artinya, trader dengan modal US$100 ribu hanya diperbolehkan mengambil risiko maksimal US$1.000 per posisi.
Strategi ini dianggap mampu menjaga keberlangsungan modal jangka panjang di tengah volatilitas tinggi aset seperti Bitcoin, emas, maupun pasangan mata uang global. Dengan stop loss yang disiplin, trader dapat bertahan lebih lama meski mengalami serangkaian kerugian.
Elev8 menjelaskan, trader yang mempertaruhkan 1% modal per transaksi hanya mengalami penurunan sekitar 10% setelah 10 kali kerugian beruntun. Sebaliknya, trader yang mengambil risiko 5% per transaksi bisa mengalami drawdown hingga sekitar 40%, sehingga membutuhkan keuntungan besar hanya untuk kembali ke titik impas.
Analis pasar keuangan Elev8, Kar Yong Ang, mengatakan banyak trader gagal bukan karena strategi yang buruk, melainkan akibat perilaku emosional dan eksposur risiko yang berlebihan.
Menurut dia, kesalahan umum trader meliputi pengambilan risiko terlalu besar demi pertumbuhan cepat, mengubah stop loss karena emosi, hingga risiko korelasi tersembunyi yang membuat sejumlah posisi tampak terdiversifikasi padahal sebenarnya bertumpu pada eksposur pasar yang sama.
“Disiplin, strategi terstruktur, dan perhitungan risiko yang benar pada akhirnya menentukan keberlanjutan jangka panjang dalam trading,” ujar Kar Yong Ang.
Baca Juga: Cara Investasi SBN untuk Pemula Saat Suku Bunga Naik dan Berapa Minimal Belinya?
Elev8 menilai, fokus utama trader seharusnya bukan sekadar mengejar profit besar dalam satu transaksi, melainkan menjaga daya tahan modal agar tetap mampu bertahan di pasar dalam jangka panjang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
Pilihan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
Terkini
-
Lalamove Masuk Jerman, Bidik 3,4 Juta UKM dengan Logistik On-Demand
-
Purbaya Klaim Tahu Apa yang Terjadi di Dugaan Kasus Korupsi Dirjen Bea Cukai
-
Sosok di Balik Danantara Sumberdaya Indonesia, Direksinya Orang Asing
-
Cara Investasi SBN untuk Pemula Saat Suku Bunga Naik dan Berapa Minimal Belinya?
-
Ini Alasan Hulu Migas Dikecualikan dari Skema Ekspor DSI
-
Rupiah Melemah dan Suku Bunga Naik, Ini 3 Tipe Investasi untuk Pemula Amankan Tabungan
-
Profil Luke Thomas Mahony, WN Australia Eks Petinggi Vale Jadi Dirut PT DSI
-
Ekspor Mineral Disentralisasi ke Danantara, Bahlil Klaim Akhiri Modus Transfer Pricing
-
5 Jenis KPR untuk Solusi Cicilan Nasabah dan Dampaknya Jika BI Naikkan Suku Bunga
-
IHSG Anjlok Usai DSI Dibentuk, Purbaya Sebut Investor Belum Paham Badan Ekspor Baru