Bisnis / Keuangan
Selasa, 07 April 2026 | 09:27 WIB
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi [Suara.com/Rina A]
Baca 10 detik
  • Asing Net Sell Rp 23,34 Triliun. Terjadi pembalikan drastis dari net buy di Februari, dipicu ketidakpastian global. 
  • IHSG turun 14,42 persen secara bulanan, sementara yield SBN naik mencerminkan peningkatan risiko. 
  • Kinerja reksa dana tetap stabil dengan net subscription Rp 29,12 triliun, menunjukkan kepercayaan lokal masih kuat. 

Suara.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan banyak investor asing membawa kabur dananya dari pasar modal Indonesia. Hal ini seiring dengan kondisi geopolitik di Timur Tengah.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengatakan dengan kondisi itu membuat banyak investor asing jual saham RI secara massal.

"Investor asing membukukan net sell sebesar Rp 23,34 triliun di pasar saham pada Maret 2026. Angka tersebut berbalik tajam dibandingkan Februari 2026 yang masih mencatat net buy Rp 0,36 triliun. Lonjakan aksi jual ini dipicu transaksi di pasar negosiasi pada sejumlah saham emiten," ujarnya saat konferensi pers RDK Bulanan di kutip dari Youtube OJK, Selasa (6/3/2026).

Dia mengatakan tekanan tersebut turut menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup di level 7.048,22 pada akhir Maret 2026. Secara bulanan, IHSG terkoreksi 14,42 persen, sementara secara tahun berjalan melemah 18,49 persen.

Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (27/1/2026). [Suara.com/Rina]

Menurut Hasan, meningkatnya volatilitas pasar dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah, sehingga mendorong pelaku pasar cenderung mengambil sikap wait and see.

Dari sisi aktivitas perdagangan, Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) tercatat sebesar Rp 20,66 triliun, turun dibandingkan Februari 2026 yang mencapai Rp 25,62 triliun.

Meski demikian, likuiditas pasar dinilai masih terjaga dengan rata-rata bid-ask spread sebesar 1,55 kali.

Sementara itu, tekanan juga terjadi di pasar obligasi. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) ditutup di level 433,16, terkoreksi 2,03 persen secara bulanan dan 1,74 persen secara tahun berjalan.

Kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) rata-rata sebesar 44,47 basis poin secara bulanan dan 54,51 basis poin secara tahun berjalan mencerminkan meningkatnya persepsi risiko investor.

Baca Juga: IHSG Mulai Gaspol, Dibuka Menguat ke Level 7.001

Di pasar SBN, investor asing mencatatkan kasi jual Rp 21,80 triliun secara bulanan, sehingga total net sell sepanjang tahun berjalan mencapai Rp 25,09 triliun. Sebaliknya, di pasar obligasi korporasi, investor masih mencatat aksi beli Rp 0,92 triliun secara bulanan.

Di tengah tekanan pasar, kinerja industri pengelolaan investasi relatif lebih stabil. Nilai dana kelolaan atau Asset Under Management (AUM) tercatat sebesar Rp 1.084,10 triliun, turun 1,62 persen secara bulanan, namun masih tumbuh 3,97 persen secara tahun berjalan.

Adapun Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tercatat sebesar Rp 695,71 triliun, terkoreksi 2,51 persen secara bulanan, tetapi tetap mencatatkan pertumbuhan 3,02 persen secara tahun berjalan.

Hasan menambahkan, kinerja reksa dana yang masih terjaga didukung oleh tingginya minat investor, tercermin dari net subscription sebesar Rp 29,12 triliun sepanjang tahun berjalan.

"Hal ini menunjukkan kepercayaan investor domestik masih cukup kuat di tengah dinamika pasar global," pungkasnya.

Load More