- S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones naik seiring harapan meredanya konflik geopolitik.
- Pembicaraan antara AS dan Iran soal penghentian konflik dan pembukaan Selat Hormuz mengangkat optimisme investor.
- Lonjakan harga minyak dan ketidakpastian geopolitik membuat pasar tetap waspada.
Suara.com - Bursa saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street kembali ditutup menguat pada awal pekan, setelah ada harapan meredanya konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Mengutip laporan CNBC, indeks S&P 500 naik 0,44 persen dan ditutup di level 6.611,83, menandai kenaikan untuk sesi keempat berturut-turut.
Sementara itu, Nasdaq Composite menguat 0,54 persen ke level 21.996,34, dan Dow Jones Industrial Average naik 0,36 persen atau sekitar 165,21 poin ke posisi 46.669,88.
Penguatan pasar didorong oleh optimisme investor terhadap peluang tercapainya gencatan senjata antara AS dan Iran.
Sejumlah laporan menyebutkan kedua pihak tengah membahas skema penghentian konflik, termasuk potensi gencatan senjata selama 45 hari yang dapat menjadi jalan menuju perdamaian permanen.
Selain itu, terdapat pula laporan mengenai rencana pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan, yang menjadi krusial bagi kelancaran distribusi energi global.
Namun demikian, Presiden AS Donald Trump tetap mengeluarkan peringatan keras. Ia menegaskan akan menyerang infrastruktur penting Iran jika negara tersebut tidak membuka kembali jalur strategis tersebut sebelum tenggat waktu yang ditentukan.
Di tengah dinamika tersebut, harga minyak dunia bergerak fluktuatif. Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk Mei naik 0,78 persen menjadi 112,41 dolar AS per barel, sementara Brent menguat 0,68 persn ke level 109,77 dolar AS per barel.
Volatilitas pasar juga masih tinggi, tercermin dari indeks Volatilitas CBOE (VIX) yang bertahan di atas level 24 setelah pernyataan Trump.
Baca Juga: Harga Minyak Brent Tembus 111 Dolar AS, Iran Syaratkan Ganti Rugi Perang
Chief Investment Officer Angeles Investments, Michael Rosen, menilai pasar masih meremehkan dampak gangguan energi global terhadap perekonomian.
"Dampak langsung dan jangka menengah dari gangguan energi ini, menurut saya, kemungkinan besar diremehkan oleh pasar, yang berarti harga energi akan tetap tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama," ujarnya seperti dikutip CNBC, Selasa (7/4/2026).
Dengan kondisi tersebut, pergerakan pasar diperkirakan masih akan dipengaruhi perkembangan geopolitik dan fluktuasi harga energi dalam waktu dekat.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
- Bawa Energi Positif, Ini 7 Warna Cat Tembok yang Mendatangkan Hoki Menurut Feng Shui
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- 3 Bedak yang Mengandung Niacinamide, Bantu Cerahkan Wajah dan Kontrol Sebum
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
Mengerikan! BI Catat Defisit Transaksi Berjalan RI Melonjak Jadi Rp70 Triliun
-
Aset Kripto Berbasis Emas Kini Bisa Ditebus Jadi Koin Fisik
-
PNM Dukung Integrasi Ekosistem UMKM Melalui SAPA UMKM
-
Kemendag Keluarkan Regulasi Baru terkait Perdagangan Karet Alam
-
Airlangga Ungkap Isi Aturan DHE SDA, Devisa Ekspor Wajib Disimpan di Bank Negara
-
Wakil Dirut Pertamina: Peran NOC Jaga Ketahanan Energi Nasional dan Pertumbuhan Ekonomi
-
Ketidakpastian Kebijakan Pemerintah Seret Rupiah Semakin Melemah
-
Pertamina Goes To Campus 2026 Resmi Dibuka, Cari Mahasiswa Kreatif dan Inovatif
-
Harga Pangan Hari Ini: Cabai dan Daging Sapi Kompak Merangkak Naik, Beras hingga Telur Justru Turun
-
Pemangkasan Komisi Ojol Jadi 8% Bisa Ubah Arah Bisnis Aplikator