- CELIOS meminta program biodiesel dan bioetanol tidak dimasukkan dalam skema subsidi atau kompensasi energi.
- Subsidi biodiesel berpotensi membengkak hingga 89 persen dari total subsidi energi 2026.
- Pemerintah disarankan fokus pada penguatan transportasi publik untuk menekan impor BBM dan subsidi.
Suara.com - Center of Economic and Law Studies (CELIOS) memberikan catatan kritis terkait rencana pemerintah yang akan segera menerapkan mandatori biodiesel dan bioetanol.
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, mendorong agar implementasi dari kedua program tersebut tidak menggunakan subsidi maupun kompensasi.
Hal itu disampaikannya seiring langkah pemerintah yang ingin mempercepat pencampuran biofuel, 50 persen minyak sawit untuk solar atau B50, dan 10 persen etanol untuk bensin atau E10, sebagai respons atas gejolak geopolitik dan krisis pasokan energi di Timur Tengah akibat konflik Iran-Amerika Serikat.
"Jadi rekomendasinya, satu adalah kita berharap tidak memasukkan komponen biodiesel dan bioetanol dalam kompensasi dan subsidi energi," ujar Bhima dalam agenda diskusi daring pada Selasa (7/4/2026).
Bhima menilai, alasan pemerintah mempercepat penggunaan biofuel demi menghemat devisa impor BBM perlu dipertanyakan.
Dia khawatir, niat menyelamatkan anggaran dari subsidi energi justru akan menjerumuskan fiskal ke beban yang lebih besar.
"Ini seperti keluar dari mulut harimau, tapi masuk ke mulut buaya. Dianggap menyelamatkan subsidi energi, tapi sebenarnya masuk ke subsidi yang jauh lebih besar," bebernya.
Berdasarkan kajian CELIOS, jika dipaksakan, angka subsidi biodiesel dalam jangka panjang bisa mencapai 89 persen dari total anggaran subsidi energi tahun 2026.
Apalagi, kata Bhima, kondisi fiskal saat ini sangat sempit dengan defisit APBN yang mendekati angka 3 persen, bahkan diprediksi melampaui batas tersebut pada skenario 2026.
Baca Juga: Pemerintah Belanja Ekspansif Sembari Jaga Disiplin Fiskal, Ekonomi Beri Sinyal Positif
"Nah pada intinya adalah ini akan membutuhkan capital expenditure atau belanja modal yang sangat besar, ada potensi kehilangan pendapatan," ujarnya
CELIOS pun mengusulkan, pemerintah seharusnya pemerintah fokus mengoptimalkan akses transportasi publik sebagai solusi utama menekan subsidi energi dan impor BBM.
Penguatan penggunaan transportasi umum juga tidak boleh hanya terpusat di wilayah dengan mobilitas tinggi, tetapi harus menjangkau daerah-daerah yang infrastruktur kendaraan umumnya masih terbatas.
"Maka kuncinya adalah alokasi anggaran itu harusnya men-support pemerintah daerah untuk mempercepat sarana prasarana dan penambahan armada dari transportasi publik, jadi bukan dengan proyek-proyek seperti food estate," pungkas Bhima.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Misbakhun Nilai Pelemahan Rupiah Sekarang Tak Seburuk 1998
-
IHSG Bergejolak Karena Ekspor Dikendalikan Danantara, Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi
-
Isu Sejumlah Merek Kendaraan Dilarang Beli Pertalite, Pertamina: Hoaks!
-
Pasca-Blackout Sumatra, Pasokan Listrik 8,3 Juta Pelanggan Diklaim PLN Mulai Pulih
-
Indikasi Awal, PLN Sebut Gangguan Cuaca jadi Penyebab Blackout di Sumatera
-
LPS Ajak Generasi Muda Kuasai Teknologi dan Mitigasi Risiko Keuangan
-
Aceh hingga Jambi Mati Blackout, Dirut PLN Minta Maaf!
-
Menkeu Purbaya Dorong Peran Swasta, Optimis Ekonomi Indonesia Tumbuh Lebih Cepat
-
Purbaya Sebut Krisis 1998 Tak Akan Terulang, Optimis 6 Bulan Lagi Orang Susah Berkurang
-
Pertamina Dorong Perempuan Berkontribusi di Industri Energi