Bisnis / Energi
Selasa, 07 April 2026 | 17:58 WIB
Kementerian ESDM mengatakan pengujian BBM diesel B50 di alat berat berjalan sukses. [Dok Kementerian ESDM]
Baca 10 detik
  • Dirjen EBTKE Kementerian ESDM menyatakan uji coba biodiesel B50 pada mesin diesel alat berat pertambangan menunjukkan kinerja teknis yang stabil.
  • Pemerintah Indonesia berencana menerapkan penggunaan bahan bakar campuran B50 secara nasional pada Juli 2026 mendatang.
  • Kebijakan ini bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil serta menekan emisi gas rumah kaca.

Suara.com - Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi mengatakan hasil uji bahan bakar biodiesel atau B50 pada mesin diesel kendaraan pertambangan yang saat ini masih berlangsung menunjukkan kinerja yang baik, baik dari sisi operasional maupun teknis.

B50 merupakan bahan bakar campuran yang terdiri atas 50 persen biodiesel (B100) berbasis minyak nabati, seperti minyak kelapa sawit dengan 50 persen bahan bakar solar (B0).

Pemerintah berencana menerapkan B50 pada Juli 2026 sebagai upaya mengurangi impor BBM sekaligus menekan emisi gas rumah kaca. Sebelumnya pada 2025 lalu pemerintah mengimplementasikan B40 secara nasional.

"Hasil sementara uji penggunaan B50 pada mesin diesel di sektor pertambangan menunjukkan performa yang stabil dan tidak ditemukan gangguan signifikan pada mesin," terang Eniya.

Kebijakan ini dirancang untuk meningkatkan pemanfaatan energi baru terbarukan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil.

Dalam pelaksanaannya, uji penggunaan B50 pada sektor alat berat pertambangan dilakukan secara komprehensif, mencakup pengujian kualitas bahan bakar, kinerja mesin, ketahanan operasional, hingga stabilitas penyimpanan.

Hingga akhir Maret 2026, pengujian ketahanan dinamis telah mencapai lebih dari 900 jam operasional tanpa indikasi gangguan pada mesin yang disebabkan oleh kualitas bahan bakar.

Selain itu, hasil pengujian menunjukkan bahwa bahan bakar B50 telah memenuhi spesifikasi teknis yang disepakati para pemangku kepentingan sebagai standar bahan bakar uji, termasuk parameter kandungan air, stabilitas oksidasi, serta kandungan FAME.

Hal ini menegaskan kesiapan teknis B50 untuk diaplikasikan pada sektor non-otomotif dengan karakteristik beban kerja tinggi, seperti pertambangan.

Baca Juga: Lebih Irit Mesin Diesel atau Bensin? Ini Jawaban dan Pertimbangan sebelum Memilih

"Pengembangan B50 menjadi langkah penting dalam mendorong kemandirian energi nasional. Dengan memanfaatkan sumber daya domestik, kita tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional," tutur Eniya.

Ke depan, pemerintah akan terus melanjutkan rangkaian pengujian B50 pada berbagai sektor, termasuk transportasi, pembangkit listrik, kereta api, dan alat mesin pertanian. Dengan ini, maka Indonesia makin dekat dengan swasembada sektor energi.

Load More