- Rupiah stagnan di level Rp17.000 meski menguat 0,54% akibat sentimen gencatan senjata AS-Iran.
- Waspada! Cadangan devisa yang merosot 4 bulan berturut-turut ancam posisi rupiah ke depan.
- Penguatan rupiah kalah telak dibanding Baht dan Ringgit akibat kekhawatiran defisit anggaran.
Suara.com - Meski mencatatkan penguatan pada penutupan perdagangan Rabu (8/4/2026), posisi nilai tukar rupiah sejatinya masih berada dalam zona merah yang mengkhawatirkan. Mata uang Garuda tampak masih enggan beranjak dari level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS), di tengah bayang-bayang menipisnya cadangan devisa nasional.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah hari ini ditutup menguat ke level Rp17.012 per dolar AS. Jika dibandingkan dengan penutupan Selasa (7/4/2026) yang berada di posisi Rp17.105, terdapat kenaikan sebesar 0,54 persen. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia mematok posisi rupiah di angka Rp17.009 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan ini lebih didorong oleh faktor eksternal ketimbang fundamental dalam negeri yang solid. Gencatan senjata selama dua minggu antara AS dan Iran memicu sentimen risk-on di pasar global.
"Rupiah menguat terhadap dolar AS didukung oleh sentimen risk-on global yang kuat merespons gencatan senjata antara AS dan Iran," ujar Lukman kepada Suara.com, Rabu (8/4/2026).
Namun, Lukman memberikan peringatan keras bahwa tren positif ini hanyalah bersifat sementara. Kondisi internal Indonesia justru menunjukkan sinyal bahaya, terutama terkait amunisi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
"Penguatan terbatasi oleh data yang menunjukkan cadangan devisa Indonesia yang kembali turun, dan ini merupakan penurunan empat bulan berturut-turut," jelasnya ketus.
Lebih lanjut, Lukman menyoroti bahwa rupiah masih jauh dari kata ideal. Alih-alih kembali ke level Rp16.000, mata uang domestik justru "betah" di level Rp17.000. Tingginya harga minyak dunia juga menjadi beban tambahan yang mengancam defisit anggaran negara tetap membengkak.
Di kawasan Asia, penguatan rupiah tergolong loyo jika dibandingkan mata uang tetangga. Baht Thailand memimpin penguatan sebesar 1,60 persen, disusul Won Korea 1,57 persen, Peso Filipina 1,47 persen, dan Ringgit Malaysia 1,27 persen. Rendahnya persentase penguatan rupiah menunjukkan bahwa kepercayaan pasar terhadap mata uang Garuda belum sepenuhnya pulih.
Di sisi lain, indeks dolar AS terpantau melandai ke level 98,78 dari posisi sebelumnya 99,85. Namun, selama persoalan cadangan devisa dan defisit anggaran belum teratasi, penguatan rupiah hari ini tak lebih dari sekadar napas buatan di tengah tekanan ekonomi yang berat.
Baca Juga: Kronologi Kurs Rupiah Kembali ke Level Rp16.900 Setelah Sempat Tembus Rp17.100
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 5 Serum untuk Mengecilkan Pori-pori, Bikin Kulit Mulus Sesuai Review Pembeli
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
- 25 Kode Redeem FF Aktif 5 Juli 2026: Kesempatan Dapat Bundle BR Elite dan Item Premium
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
BACH dan EMMI Resmi Jadi Emiten BEI, Dana IPO Difokuskan untuk Ekspansi Bisnis
-
Rupiah Melemah, Dolar AS Mulai Dekati Level Rp18.000
-
Ketegangan AS - Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Kekhawatiran Gangguan Pasokan
-
Gagal Bayar Meningkat, Utang Masyarakat di Pinjol Tembus Rp103,73 Triliun
-
Titipan Politik di Kursi Komisaris dan Direksi Makin Kuat di BUMN, Ini Datanya
-
Modal Asing yang Kabur dari Pasar Modal Tembus Rp19,63 Triliun, Apa Penyebabnya?
-
Panen Raya Jadi Bukti! Teknologi Benih Dongkrak Produktivitas Jagung
-
OJK Tutup 36.191 Rekening Judi Online, Perbankan Diminta Perketat Pengawasan
-
Kementerian PU Jelaskan Kunker Menteri Dody dan Keluarga ke New York Jelang Final Piala Dunia
-
Sebanyak 81 BPR Akan Digabung Menjadi 24 hingga Juni 2026