Bisnis / Keuangan
Rabu, 08 April 2026 | 14:14 WIB
Cadangan devisa Indonesia pada Maret 2026 turun menjadi 148,2 miliar dolar AS, jumlah terendah dalam dua tahun terakhir. [Antara]
Baca 10 detik
  • Cadangan devisa Indonesia pada April 2026 turun menjadi 148,2 miliar dolar AS, jumlah terendah dalam dua tahun terakhir. 
  • Jumlah cadangan devisa tersebut masih memenuhi standar kecukupan internasional untuk membiayai enam bulan impor dan pembayaran utang.
  • Bank Indonesia meyakini posisi devisa tetap mampu menjaga stabilitas makroekonomi serta ketahanan sektor eksternal nasional secara berkelanjutan.

Suara.com - Bank Indonesia (BI) mengumumkan cadangan devisa kini tinggal 148,2 miliar dolar AS pada akhir Maret 2026, berkurang 3,7 miliar dolar AS seiring pembayaran utang luar negeri pemerintah dan upaya menjaga nilai tukar rupiah.

Menurut data Bloomberg, ini adalah jumlah devisa terendah Indonesia dalam dua tahun terakhir, terhitung sejak Juli 2024. Stok devisa Indonesia berkurang sekitar 8,3 miliar dolar AS dalam tiga bulan pertama 2026.

Sebelumnya pada Februari BI mencatat cadangan devisa tercatat sebesar 151,9 miliar dolar AS, turun dari sekitar 154,6 miliar dolar AS pada Januari.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (8/4/2026) menilai bahwa posisi cadangan devisa Maret 2026 tetap tinggi.

Posisi cadangan devisa pada akhir Maret 2026 setara dengan pembiayaan 6,0 bulan impor atau 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” kata Ramdan.

Bank sentral meyakini bahwa ke depan ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.

BI pun terus meningkatkan sinergi dengan pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Sementara itu nilai tukar rupiah turun 1,3 persen pada Maret lalu, akibat dampak perang di Timur Tengah yang membuat harga minyak melambung tinggi.

Baca Juga: Gejolak Ekonomi Belum Reda, BI Perkuat Pengelolaan Cadangan Devisa

Tetapi pada Rabu pagi nilai tukar rupiah menguat 120 poin atau 0,70 persen menjadi Rp16.985 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.105 per dolar AS, setelah Amerika Serikat dan Iran mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan ke depan.

Load More