Bisnis / Makro
Kamis, 09 April 2026 | 16:29 WIB
H&M mengumumkan bahwa sebanyak 160 gerai fisik dijadwalkan bakal gulung tikar sepanjang tahun 2026. (Pexels/Valeriia)
Baca 10 detik
  • H&M tutup 160 toko global pada 2026 demi efisiensi dan fokus ke e-commerce.
  • Laba kuartal I-2026 turun tipis akibat transisi penutupan lokasi fisik.
  • Belanja online kini sumbang 30% pendapatan, H&M incar profit lebih tinggi.

Suara.com - Raksasa ritel fesyen asal Swedia, H&M mengumumkan bahwa sebanyak 160 gerai fisik dijadwalkan bakal gulung tikar sepanjang tahun 2026. Langkah ekstrem ini disebut sebagai bagian dari transformasi besar-besaran perusahaan untuk beralih sepenuhnya ke ekosistem digital.

Mengutip laporan The Sun, Rabu (8/4/2026), kebijakan ini sebenarnya bukan barang baru. Sebelumnya, H&M telah mencoret 163 lokasi dari peta operasional global mereka. Strateginya jelas: tinggalkan toko yang "berdarah-darah" dan suntik modal ke lokasi yang paling mendatangkan cuan.

Keputusan pahit ini rupanya mulai terasa di pembukuan perusahaan. Pada kuartal I-2026, H&M mencatatkan sedikit penurunan laba. Manajemen mengakui bahwa proses bongkar pasang portofolio ini memang memakan biaya yang tidak sedikit.

"Optimalisasi portofolio toko telah berdampak agak negatif pada penjualan kuartal I-2026 karena penutupan dan pembangunan kembali toko," tulis manajemen H&M dalam laporan resminya.

Namun, manajemen tetap optimistis. Penutupan 160 toko ini diprediksi akan memberikan efek positif pada sisa tahun 2026. Targetnya sederhana namun krusial: menekan biaya operasional termasuk beban gaji karyawan—demi margin keuntungan yang lebih tebal.

Saat ini, belanja daring (online shopping) sudah menyumbang 30 persen dari total pendapatan H&M. Angka ini menjadi alasan kuat mengapa toko fisik kini dianggap sebagai beban jika tidak berkinerja maksimal.

Load More