- RI jadi satu-satunya negara ASEAN yang alami outflow obligasi.
- Investor asing tarik dana US$1,48 miliar dari pasar obligasi RI.
- BI dinilai agresif jaga rupiah lewat kenaikan suku bunga 5,25%.
Suara.com - Indonesia menjadi satu-satunya negara di kawasan yang mengalami arus keluar modal asing (capital outflow) di pasar obligasi. Kondisi ini dinilai menjadi sinyal meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek pasar keuangan domestik, terutama terkait arah kebijakan fiskal pemerintah.
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan tekanan di pasar obligasi menunjukkan investor global kini semakin sensitif terhadap kualitas kebijakan ekonomi suatu negara, bukan sekadar melihat angka pertumbuhan.
“Sedih banget. Hanya Indonesia yang mengalami outflow,” kata Josua dalam pelatihan wartawan Bank Indonesia (BI) di Makassar, Jumat (22/5/2026).
Menurut dia, kondisi pasar obligasi sangat erat kaitannya dengan persepsi investor terhadap kebijakan fiskal pemerintah serta arah investasi jangka pendek. Ketidakpastian kebijakan membuat investor memilih mengurangi eksposur di instrumen keuangan domestik.
Permata Bank mencatat investor asing masih membukukan net outflow sekitar 1,48 miliar dolar AS di pasar obligasi Indonesia sepanjang kuartal I 2026. Sementara itu, di pasar saham, arus modal keluar tercatat mencapai 1,95 miliar dolar AS.
“Memang semuanya mengalami outflow di sisi sahamnya, lalu di sisi bonds-nya pun juga hampir sama,” ujarnya.
Meski demikian, Josua menilai Bank Indonesia telah mengambil langkah agresif untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar rupiah. Salah satu langkah yang disorot ialah kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.
Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan respons bank sentral yang cepat dan antisipatif dalam meredam tekanan pasar.
“Kebijakan BI ini adalah salah satu kami melihatnya adalah kebijakan yang bold dan pre-emptive,” katanya.
Baca Juga: Saham Diborong, Smelter Dibangun: Inilah Tentakel Nikel Haji Isam
Josua menambahkan, investor kini tidak lagi hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi juga memperhatikan kualitas fundamental ekonomi serta konsistensi kebijakan pemerintah.
Di tengah ketidakpastian global dan gejolak pasar keuangan, pelaku pasar dinilai semakin selektif dalam menempatkan modalnya di negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Mereka juga sangat mempertimbangkan kualitasnya ketimbang melihat angka,” tegasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
- Mencekam! 50 Pria diduga Tentara Datangi Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Rumah Febrie Adriansyah
- Surat Edaran Rahasia Kejagung Bocor, Jaksa Diminta Waspada dan Dilarang Berkomentar soal Perkara
- Rumah Jampidsus Febrie Adriansyah Dijaga Ketat Tentara Usai Polisi Geledah Kafe deClan Signature
Pilihan
-
BREAKING NEWS: Penyidik Geledah Ruko di Cipete terkait 3 Perkara Korupsi
-
BREAKING NEWS! KPK Dikabarkan OTT Bupati Sukoharjo dan Sejumlah Orang
-
Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
-
Mobil Dinas TNI Tabrak Tiang Rambu di Depan DPR, Polisi Duga Pengemudi Microsleep
-
Bantah Isu TNI 'Serbu' Polda Metro Usai Ramai Kasus Jampidsus, Kapuspen: Waspada Provokator!
Terkini
-
Purbaya Ajak Investor Negara Islam Kembangkan Industri Halal di Indonesia
-
TikTok Donasi 200 Ribu Dolar AS untuk Sektor Pangan RI
-
Indonesia Dihantam 4 Tekanan Ekonomi Sekaligus, Apa Saja?
-
Program AURA BRI Peduli Cetak UMKM Perempuan Tangguh Dengan Peluang Ekonomi Olahan Pala
-
B50 Mulai Mengalir ke 57% SPBU Pertamina, Pemerintah Targetkan Transisi Tuntas dalam Dua Bulan
-
Bahlil Akan Preteli RKAB Perusahaan Tambang yang Ogah Pakai Solar B50
-
Polemik Pajak JHT, Kenapa Tabungan Hari Tua Bisa Dipotong Pajak hingga 30 Persen?
-
Konsumen Makin Pesimis, Penjualan Ritel Anjlok, Rupiah Ambruk ke Rp18.128 per Dolar AS
-
MSCI Masih Jadi Batu Sandungan, Rp75 T Dana Asing Kabur dari Bursa Meski Fiskal RI Menguat
-
Siap-siap! Tarif 52 Ruas Tol Berpotensi Naik Tahun Ini