Bisnis / Energi
Minggu, 12 April 2026 | 21:30 WIB
MoU untuk Percepatan Implementasi BESS di Indonesia (dok. Ist)
Baca 10 detik
  • Pemerintah Indonesia menerapkan teknologi Battery Energy Storage System untuk menstabilkan pasokan listrik dari sumber energi terbarukan yang fluktuatif.
  • INFIEN dan AMPACE menjalin kemitraan strategis untuk menghadirkan solusi penyimpanan energi andal guna mendukung target transisi energi nasional.
  • Penerapan teknologi baterai ini bertujuan mempercepat de-dieselisasi, mengoptimalkan biaya energi industri, serta meningkatkan kemandirian energi nasional secara bertahap.

Suara.com - Pemerintah terus tancap gas dalam mengejar target ambisius 100 GW energi terbarukan. Namun, di balik semangat transisi hijau ini, ada satu tantangan teknis yang membayangi: sifat energi surya dan angin yang fluktuatif (intermittent). Karena sangat bergantung pada cuaca, pasokan listrik bisa tidak stabil jika tidak dikelola dengan tepat.

Untuk memastikan jaringan listrik nasional tetap andal tanpa gangguan, teknologi Battery Energy Storage System (BESS) kini hadir sebagai solusi vital. BESS bertindak sebagai penyangga yang menyimpan energi saat produksi melimpah dan menyalurkannya kembali secara konsisten saat cuaca berubah atau beban puncak tiba.

Langkah Strategis Menjaga Stabilitas

Menyadari pentingnya infrastruktur pendukung, sinergi antara keahlian lokal dan teknologi baterai kelas dunia mulai dijalankan. Tujuannya jelas: membangun sistem ketenagalistrikan yang tidak hanya bersih, tapi juga tangguh bagi segmen utilitas maupun industri.

Muhammad Firmansyah, Founder & CEO INFIEN, menjelaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari penguatan fondasi energi nasional:

“Kemitraan ini merupakan langkah strategis dalam memperkuat infrastruktur energi berkelanjutan di Indonesia. Kami optimis dapat menghadirkan solusi penyimpanan energi yang aman serta andal, mendukung prioritas nasional, dan memberikan nilai ekonomi yang nyata.”

Menjawab Potensi Besar di Asia Tenggara

Indonesia dipandang sebagai salah satu titik pusat pertumbuhan energi hijau di kawasan. Dengan ribuan pulau dan kebutuhan industri yang besar, fleksibilitas baterai penyimpanan menjadi "harga mati" agar transisi energi tidak mengganggu operasional bisnis maupun kebutuhan rumah tangga.

Raymond Ye, Vice President ESS dari AMPACE, menambahkan pandangannya mengenai kesiapan pasar lokal:

Baca Juga: Agar Produk Lokal Dilirik Dunia, Indonesia Mulai Perketat Standar Sertifikat Energi Hijau

“Indonesia merupakan salah satu pasar BESS paling potensial di Asia Tenggara. Melalui kolaborasi ini, kami berkomitmen untuk menghadirkan solusi BESS yang andal dan berperforma tinggi, yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar lokal, sekaligus mendukung agenda transisi energi jangka panjang Indonesia.”

Menuju Visi Energi Mandiri

Melalui teknologi baterai yang memiliki siklus hidup panjang dan standar keamanan tinggi, Indonesia kini memiliki instrumen untuk "menjinakkan" sifat fluktuatif energi terbarukan.

Langkah ini diharapkan dapat mempercepat beberapa agenda besar:

  • De-dieselisasi: Mengganti pembangkit diesel di wilayah terpencil dengan energi bersih yang lebih stabil.
  • Optimalisasi Industri: Membantu sektor komersial mengelola biaya energi dengan lebih efisien dan mandiri.
  • Kemandirian Energi: Mengurangi ketergantungan pada energi fosil secara bertahap melalui sistem yang lebih andal.

Dengan teknologi penyimpanan yang tepat, impian Indonesia untuk memiliki sistem energi yang hijau namun tetap stabil kini menjadi target yang semakin realistis untuk dicapai.

Load More