- Konflik AS-Iran di Selat Hormuz picu defisit minyak 750.000 barel per hari.
- Harga Brent diproyeksi naik ke USD 82,85 per barel akibat kelangkaan pasokan.
- Kerusakan infrastruktur dan risiko sanksi hambat normalisasi distribusi minyak.
Suara.com - Pasar minyak global diprediksi bakal mengalami guncangan hebat sepanjang tahun ini. Para analis memperkirakan terjadinya defisit pasokan yang signifikan menyusul banyanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kian meruncing.
Kabar terbaru menyebutkan, upaya perundingan antara kedua negara yang digelar di Pakistan berakhir buntu tanpa membuahkan kesepakatan apa pun. Situasi kian memanas setelah serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu mengakibatkan Selat Hormuz jalur urat nadi yang memasok 20 persen kebutuhan minyak dunia lumpuh total.
Mengutip data Investing.com, hasil survei Reuters terhadap delapan analis menunjukkan bahwa permintaan minyak tahun ini akan melampaui pasokan dengan rata-rata 750.000 barel per hari (bpd). Kondisi ini berbanding terbalik dengan proyeksi September lalu yang sempat memperkirakan surplus sebesar 1,63 juta bpd untuk tahun 2026.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pasokan minyak menyusut hingga 11 juta barel per hari pada akhir Maret. Sementara itu, Bank ANZ memproyeksikan penurunan sebesar 9 juta bpd dari total pasokan global yang sebelumnya mencapai 106,6 juta bpd.
Defisit terdalam diperkirakan bakal menghantam pada kuartal kedua sebesar 3 juta bpd, sebelum diprediksi kembali surplus 1,4 juta bpd pada kuartal keempat. Namun, para ahli memperingatkan bahwa kondisi ini bisa memburuk tergantung pada seberapa lama gangguan di Selat Hormuz berlangsung.
"Masalahnya mencakup asuransi dan risiko pelanggaran sanksi saat bertransaksi dengan Iran, terutama terkait pembayaran bea masuk," ujar Vikas Dwivedi, Ahli Strategi Energi Global dari Macquarie Group. Dwivedi mencatat ada sekitar 136 juta barel minyak yang saat ini tertahan di kawasan Teluk.
Konflik ini telah memicu kenaikan prediksi harga tahunan terbesar dalam catatan survei Reuters. Analis terpaksa mengerek proyeksi harga minyak mentah Brent tahun 2026 sebesar 30 persen menjadi USD 82,85 per barel. Secara riil, dampak perang telah mengatrol harga minyak hingga sekitar 50 persen.
Proses pemulihan produksi ke level normal diprediksi memakan waktu berbulan-bulan. Meski ANZ memperkirakan adanya pemulihan parsial sekitar 2–3 juta bpd dalam jangka pendek, hambatan operasional dan kerusakan infrastruktur tetap menjadi momok.
"Gesekan operasional, infrastruktur yang rusak, dan hambatan ekspor berarti pemulihan kemungkinan besar tidak akan berjalan mulus," tulis laporan ANZ. Bahkan, ada potensi kehilangan kapasitas permanen sebesar 1–2 juta bpd yang akan memicu volatilitas harga di masa depan.
Baca Juga: Harga Minyak Goreng Makin Mahal, Telur dan Cabai Rawit Bagaimana?
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
Terkini
-
Harga Minyak Goreng Makin Mahal, Telur dan Cabai Rawit Bagaimana?
-
OKX Ventures dan HashKey Capital Resmi Suntik CAEX Vietnam, Siapkan Modal Rp6 Triliun
-
Ekspansi Agresif, Laba PT Multi Hanna Kreasindo (MHKI) Tumbuh Solid 24 Persen di 2025
-
Dolar AS Ngamuk Setelah Negosiasi Gagal, Rupiah Jadi Korban Melemah
-
Harga Emas Pegadaian Senin 13 April 2026: Antam, UBS, dan Galeri24 Bertahan Stabil
-
Emas Antam Lagi Diobral, Harganya Rp 2.818.000 Juta/Gram
-
Minyak Dunia Kembali ke Levei USD 100 Barel, Gimana Harga BBM?
-
IHSG Jatuh ke Jurang Lagi Senin Pagi
-
Nego AS-Iran Buntu! Harga Minyak Tembus US$ 104 Per Barel
-
Bidik Pasar Digital ASEAN, Perushaan RI Ekspansi ke Malaysia