- Harga minyak jenis Brent melonjak ke 102,80 dolar AS dan WTI ke 104,88 dolar AS per barel, sebuah kenaikan signifikan hampir 8 persen yang memberikan tekanan besar pada sektor energi.
- Pemerintah menjamin harga Pertalite dan Solar tetap stabil karena anggaran subsidi telah disesuaikan dengan asumsi harga minyak mentah tinggi dalam APBN 2026.
- Pertamina mengoptimalkan stok melalui negosiasi supplier, sementara pengamat menilai menahan harga BBM adalah langkah tepat untuk menjaga daya beli masyarakat yang dinilai belum pulih sepenuhnya dari dampak ekonomi global.
Suara.com - Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam di ujung tanduk mengalami kenaikan. Pasarnya pembentuk harga BBM yaitu harga minyak dunia yang kembali melonjak ke level USD 100 per barel AS.
Berdasarkan data Reuters, harga minyak mentah dunia jenis Brent berjangka naik USD 7,60, atau 7,98 persen menjadi USD 102,80 per barel.
Sementara, harga minyak mentah West Texas Intermediate AS berada di USD 104,88 per barel, naik USD 8,31, atau 8,61 persen.
Dengan kondisi ini akan sangat berpengaruh pada harga BBM di dalam energi. Meskipun, memang saat ini pemerintah masih menahan harga BBM baik subsidi dan non-subsidi.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar Subsidi tetap bertahan. Pasalnya, perhitungan harga minyak dunia atau crude sudah menggunakan asumsi 100 dolar AS per barel pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
"Jadi, subsidi terhadap BBM akan terus diadakan sampai dengan akhir tahun dan harga BBM bersubsidi tidak akan naik," ujar Purbaya seperti dikutip dari keterangannya di situs Kemenkeu.go.id, Senin (13/4/2026).
Sementara, Pertamina melalui Pertamina Patra Niaga juga memastikan bahwa hingga saat ini belum ada perintah untuk menaikan harga BBM Pertalite dan Solar Subsidi.
Pertamina juga melakukan upaya strategis seperti negosiasi dengan supplier dan optimalisasi distribusi BBM.
"Kami juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan energi secara bijak sesuai kebutuhan dan tidak terpengaruh oleh informasi yang dapat memicu panic buying," kata Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun.
Baca Juga: Siapa Yang Tanggung Tekor SPBU Swasta?
Sementara, Pengamat Energi, Hadi Ismoyo, menilai memang, kebijakan kenaikan BBM saat tidak tepat. Karena, kebijakan itu justru akan membuat daya beli semakin rendah.
"Menurut saya kebijakan kenaikan harga BBM saat ini bukan kebijakan yang tepat karena daya beli masyarakat kita masih rendah dan kondisi ekonomi kita belum pulih benar pasca covid," katanya saat dihubungi Suara.com.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- 5 HP Infinix Kamera Bagus dan RAM Besar, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- 5 HP Samsung Kamera Bagus dan RAM Besar, Pas buat Multitasking
Pilihan
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
Terkini
-
Timur Tengah Memanas, Rosan Roeslani Sebut RI Jadi 'Gadis Cantik' bagi Investor
-
IHSG Tahan Banting Justru Menguat ke Level 7.500 di Tengah Gonjang-Ganjing AS-Iran
-
Telkom Bekali 260 Perempuan Pelaku UMKM Jadi Kreator Digital untuk Pengembangan Bisnis
-
Purbaya Pernah Ancam Potong Anggaran Kemendag Gegara Lambat Urus Regulasi Impor
-
Realisasi Mudik Lebaran 2026 Tembus 147 Juta Orang, Lampaui Target Pemerintah
-
Mengapa Selat Malaka Bisa Jadi Senjata Indonesia Bebaskan Kapal Pertamina di Selat Hormuz?
-
Lebaran Berkah! BI Ramal Penjualan Eceran Maret 2026 Melesat 9,3 Persen
-
Kurs Rupiah Bertahan di Level Rp17.105 per Dolar, Ini Faktor Utama Penyokongnya
-
Rosan Optimistis Investasi Kuartal I-2026 Tembus Rp497 Triliun
-
Trump Kerahkan Militer Blokade Selat Hormuz, Iran Berikan Respon Dingin