Bisnis / Energi
Senin, 13 April 2026 | 17:50 WIB
Harga BBM terancam mengalami kenaikan, setelah harga minyak dunia di atas 100 dolar AS. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Harga minyak jenis Brent melonjak ke 102,80 dolar AS dan WTI ke 104,88 dolar AS per barel, sebuah kenaikan signifikan hampir 8 persen yang memberikan tekanan besar pada sektor energi.
  • Pemerintah menjamin harga Pertalite dan Solar tetap stabil karena anggaran subsidi telah disesuaikan dengan asumsi harga minyak mentah tinggi dalam APBN 2026.
  • Pertamina mengoptimalkan stok melalui negosiasi supplier, sementara pengamat menilai menahan harga BBM adalah langkah tepat untuk menjaga daya beli masyarakat yang dinilai belum pulih sepenuhnya dari dampak ekonomi global.

Suara.com - Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam di ujung tanduk mengalami kenaikan. Pasarnya pembentuk harga BBM yaitu harga minyak dunia yang kembali melonjak ke level USD 100 per barel AS.

Berdasarkan data Reuters, harga minyak mentah dunia jenis Brent berjangka naik USD 7,60, atau 7,98 persen menjadi USD 102,80 per barel.

Sementara, harga minyak mentah West Texas Intermediate AS berada di USD 104,88 per barel, naik USD 8,31, atau 8,61 persen.

Dengan kondisi ini akan sangat berpengaruh pada harga BBM di dalam energi. Meskipun, memang saat ini pemerintah masih menahan harga BBM baik subsidi dan non-subsidi.

Sejumlah kendaraan mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU di Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar Subsidi tetap bertahan. Pasalnya, perhitungan harga minyak dunia atau crude sudah menggunakan asumsi 100 dolar AS per barel pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

"Jadi, subsidi terhadap BBM akan terus diadakan sampai dengan akhir tahun dan harga BBM bersubsidi tidak akan naik," ujar Purbaya seperti dikutip dari keterangannya di situs Kemenkeu.go.id, Senin (13/4/2026).

Sementara, Pertamina melalui Pertamina Patra Niaga juga memastikan bahwa hingga saat ini belum ada perintah untuk menaikan harga BBM Pertalite dan Solar Subsidi.

Pertamina juga melakukan upaya strategis seperti negosiasi dengan supplier dan optimalisasi distribusi BBM.

"Kami juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan energi secara bijak sesuai kebutuhan dan tidak terpengaruh oleh informasi yang dapat memicu panic buying," kata Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun. 

Baca Juga: Siapa Yang Tanggung Tekor SPBU Swasta?

Sementara, Pengamat Energi, Hadi Ismoyo, menilai memang, kebijakan kenaikan BBM saat tidak tepat. Karena, kebijakan itu justru akan membuat daya beli semakin rendah.

"Menurut saya kebijakan kenaikan harga BBM saat ini bukan kebijakan yang tepat karena daya beli masyarakat kita masih rendah dan kondisi ekonomi kita belum pulih benar pasca covid," katanya saat dihubungi Suara.com.

Load More