Bisnis / Energi
Selasa, 14 April 2026 | 09:52 WIB
Pengendara sepeda motor mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU di Jakarta, Selasa (31/3/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Krisis BBM diprediksi melanda Malaysia mulai Juni 2026 akibat perang AS-Iran.
  • Petronas bantah ekspor solar ke Filipina demi amankan pasokan dalam negeri.
  • Cadangan BBM Indonesia naik jadi 32 hari berkat tambahan stok dari Karimun.

Suara.com - Malaysia secara terang-terangan memberikan sinyal waspada terkait potensi krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) yang diprediksi bakal menghantam mulai Juni 2026 mendatang.

Guncangan pasokan ini merupakan imbas nyata dari eskalasi konflik global, terutama perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang mengganggu jalur distribusi energi dunia.

Menteri Ekonomi Malaysia, Akmal Nasrullah Mohd Nasir, menegaskan bahwa periode pertengahan tahun ini akan menjadi ujian berat bagi Negeri Jiran.

"Juni dan Juli akan menjadi periode yang sangat kritis dalam memastikan pasokan bahan bakar tetap tersedia," ujar Akmal sebagaimana dikutip dari Bloomberg, Senin (13/4/2026).

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim sebelumnya juga telah mewanti-wanti bahwa ketidakpastian pasokan akan mulai terasa nyata di bulan tersebut. Meski pasokan untuk bulan April dan Mei diklaim masih aman, tantangan besar menanti di depan mata, termasuk untuk industri vital seperti farmasi dan alat kesehatan yang bergantung pada bahan baku minyak dan gas.

Di tengah isu tersebut, sempat beredar kabar bahwa Malaysia mengekspor 329 ribu barel solar ke Filipina. Namun, Petronas dengan tegas membantah laporan tersebut. Raksasa energi Malaysia itu menegaskan komitmennya untuk memprioritaskan kebutuhan domestik demi menjaga stabilitas nasional.

Lalu, Bagaimana dengan Indonesia?

Di tengah ancaman yang menghantui negara tetangga, Indonesia justru menunjukkan sinyal ketahanan yang lebih kuat. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa cadangan BBM nasional saat ini tengah mengalami tren peningkatan.

Jika sebelumnya cadangan BBM Indonesia berada di angka 21 hingga 25 hari, kini ketahanan energi kita bertambah kuat berkat pasokan tambahan dari fasilitas penyimpanan di Karimun, Provinsi Riau.

Baca Juga: Seenaknya Blokade Selat Hormuz, Iran Sebut AS Seperti Perompak di Mata Dunia

"Alhamdulillah penyangga energi kita sekarang ada penambahan lagi 7 hari dari Karimun," ungkap Bahlil di kantor Kementerian ESDM.

Dengan tambahan tersebut, Indonesia kini memiliki napas lebih panjang untuk menghadapi dinamika geopolitik Timur Tengah. Tak puas sampai di situ, pemerintah juga berencana menggenjot pembangunan infrastruktur energi baru pada Mei mendatang guna memastikan cadangan nasional bisa menyentuh target satu bulan penuh.

Melihat kontrasnya kondisi kedua negara, Indonesia tampaknya lebih siap "memasang tameng" melalui penguatan stok domestik, sementara Malaysia harus berpacu dengan waktu sebelum bulan kritis Juni tiba.

Load More