- BTN membangun Loan Factory di Jakarta untuk mempercepat proses, meningkatkan kapasitas, serta menjaga kualitas penyaluran kredit perumahan.
- Sistem terpusat ini mengintegrasikan seluruh tahapan kredit secara standar guna menggantikan proses desentralisasi yang sebelumnya tidak efisien.
- Implementasi Loan Factory menargetkan percepatan waktu pemrosesan kredit dan memperkuat tata kelola risiko melalui sistem berbasis otomatisasi.
Suara.com - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) atau BTN menyiapkan strategi untuk meningkatkan penyaluran kredit, termasuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Salah satunya pembangunan Loan Factory untuk mempercepat proses, meningkatkan kapasitas, serta menjaga kualitas portofolio
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan, pembangunan Loan Factory merupakan bagian dari roadmap transformasi BTN yang telah dimulai sejak 2019, seiring dengan kebutuhan untuk mengelola volume kredit dalam skala besar dengan standar yang seragam.
"BTN itu sehari sekitar 1.000 aplikasi KPR. Kalau mengandalkan cara kerja masing-masing orang, itu berbahaya. Jadi dalam skala sebesar ini, proses harus terstandarisasi dan dijalankan dengan sistem yang sama," ujar Nixon di Jakata, Selasa (14/4/2026).
Dia menuturkan, standardisasi menjadi kunci bagi BTN untuk memastikan kualitas layanan dan produk tetap konsisten di seluruh Indonesia.
"Kalau mau jadi perusahaan besar, prosesnya harus sama. Syaratnya sama, cara kerjanya sama, hasilnya juga harus konsisten," tegasnya.
Adapun, selama ini proses kredit konsumer BTN dilakukan secara desentralisasi di cabang, sebelum kemudian ditingkatkan melalui pembentukan Regional Loan Processing Center (RLPC) sejak 2019.
Transformasi tersebut terbukti meningkatkan kualitas proses dan standardisasi, sekaligus menurunkan berbagai potensi deviasi dalam proses kredit.
Melalui Loan Factory, BTN mengintegrasikan seluruh proses tersebut dalam satu model terpusat berbasis proses, mulai dari data input, verifikasi, analisa, hingga persetujuan dan pencairan kredit.
Pendekatan ini memungkinkan adanya spesialisasi fungsi di setiap tahapan, sehingga proses menjadi lebih efisien, akurat, dan konsisten.
Baca Juga: OJK Izinkan Punya Utang di Bawah Rp1 Juta Bisa Ajukan KPR, Ini Aturan Barunya
Saat ini, Loan Factory BTN turut mengimplementasikan decision engine pada proses credit scoring guna mempercepat analisa dan persetujuan kredit, sekaligus memperkuat standardisasi proses, kualitas keputusan, dan tata kelola yang lebih konsisten.
Seiring implementasi tersebut, BTN juga menargetkan percepatan waktu proses kredit dari sekitar 6 hari kerja menjadi lebih singkat, sejalan dengan penguatan proses dan integrasi melalui Loan Factory.
Menurut Nixon, Loan Factory memiliki peran strategis sebagai mesin pertumbuhan kredit, sekaligus penjaga kualitas risiko, serta penggerak peningkatan efisiensi operasional melalui standardisasi proses.
"Kalau hanya tumbuh tanpa kualitas, itu tidak acceptable. Tapi kalau kualitas bagus tanpa pertumbuhan, itu juga tidak cukup," jelasnya.
Sementara, Direktur Operations BTN I Nyoman Sugiri Yasa, menambahkan Loan Factory ini untuk menghilangkan inefisiensi proses yang sebelumnya terjadi akibat model kerja yang tersebar.
"Dengan Loan Factory, proses yang sebelumnya tersebar dan saling silang antar unit kerja kini menjadi lebih terstruktur dan terintegrasi. Ini membuat proses menjadi lebih efisien, mudah dimonitor, serta meningkatkan kualitas tata kelola dokumen dan underwriting," bebernya
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
Pilihan
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
Terkini
-
Rekor Buruk Rupiah Hari Ini
-
Shell Indonesia Tunjuk Andri Pratiwa Jadi Presiden Direktur Baru di Tengah Kelangkaan BBM
-
Langkah Kecil Berdampak Besar: Ibu Dewi, Kartini Masa Kini yang Menebar Manfaat untuk Lingkungan
-
Pengumuman Penting BCA
-
Misteri Hilangnya Minyakita di Pasar: Stok Gaib, Harga Bisa Tembus Rp40 Ribu!
-
Memalukan! Malapetaka IGRS Komdigi Bikin Developer Game Rugi Miliaran Rupiah
-
26 Ide Jualan di Bazar Modal Kecil yang Pasti Laris dan Menguntungkan
-
Fondasi Ekonomi Warga RI Mulai Retak, Tanda-tandanya Mulai Muncul
-
Bukan Sekadar Tabungan, Inilah 10 Tanda Keuangan Anda Aman dan Stabil
-
IHSG Terus Lari Kencang 2% di Sesi I, 537 Saham Menghijau