- Harga bahan baku plastik diprediksi melonjak 70% akibat konflik Timur Tengah yang memanas.
- Apindo peringatkan risiko stop produksi pada Mei 2026 karena kelangkaan bahan baku impor.
- Sektor makanan & minuman terancam akibat langkanya plastik untuk kemasan produksi.
Suara.com - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memproyeksikan harga bahan baku plastik bisa melonjak hingga 70%, yang berpotensi melumpuhkan aktivitas produksi industri nasional pada Mei mendatang.
Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam, mengungkapkan bahwa dampak eskalasi konflik di Timur Tengah telah menjalar ke seluruh sektor industri. Terutama, bagi sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor turunan minyak bumi seperti nafta dan gas.
"Bayangkan saja harga plastik bisa naik 60% hingga 70%. Padahal hampir semua produk menggunakan plastik, terutama untuk kemasan bahan makanan," ujar Bob dalam Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR RI, Selasa (14/4/2026)/
Bob menjelaskan bahwa lonjakan harga ini dipicu oleh terhambatnya rantai pasok global akibat situasi keamanan di jalur perdagangan internasional. Kelangkaan bahan baku kini mulai dirasakan nyata oleh para pelaku usaha. Menurutnya, industri saat ini berada di ambang ketidakpastian tinggi mengenai keberlanjutan operasional di bulan-bulan mendatang.
Bahkan, ia memberikan peringatan keras bahwa stok bahan baku plastik di pasar saat ini sudah mulai langka. Kondisi ini diprediksi akan mencapai titik krusial pada bulan depan.
"Kita tidak tahu April atau Mei ini masih bisa produksi atau tidak. Situasinya sangat berat. Sebagai contoh, bahan baku plastik ini sudah tidak ada, sudah langka," tegasnya.
Lebih lanjut, Apindo menyoroti sektor makanan dan minuman (mamin) sebagai sektor yang paling rentan terdampak. Mengingat plastik merupakan komponen kemasan utama, kenaikan harga bahan baku yang drastis akan langsung menekan margin keuntungan dan mengganggu struktur biaya produksi.
Bob mengingatkan bahwa jika ketahanan industri tidak segera diperkuat di tengah tekanan ekonomi global ini, risiko penghentian produksi massal menjadi ancaman yang nyata.
"Makanan dan minuman itu pakai plastik. Kalau hubungan (rantai pasok) kita tidak kuat, kita bisa celaka menghadapi situasi ekonomi yang sangat berat ini," pungkas Bob.
Baca Juga: Harga Bahan Baku Plastik: Momentum Tepat Berkreasi dengan Daun Pisang dan Anyaman Lokal
Berita Terkait
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
Terkini
-
Dana Asing Masuk Lagi ke Pasar Saham Rp54,47 Miliar, RANS dan ANTM Diborong
-
Tak Sesuai UUD 45, Purbaya Akui Realisasi Anggaran Pendidikan 2025 Tak Capai 20%
-
Peringkat Utang Aman, Mengapa Ekonomi Indonesia Tetap Terancam?
-
IHSG Masih Betah di Level 6.000 pada Sesi I, BMRI dan BBCA Diserbu
-
Pengabdian Menjadi Nilai Ibadah, PNM Berangkatkan Ratusan Karyawan ke Tanah Suci
-
Daftar Saham HSC: Update BEI, Emiten Prajogo Pangestu Ikut Masuk List
-
Purbaya: Prabowo Terus Pantau Kondisi Ekonomi RI, Diskusi Seminggu Sekali
-
Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp8.039 Triliun, Beban Pemerintah Terus Membengkak
-
Harga Cabai Anjlok hingga 13%, Beras dan Daging Ayam Justru Kompak Naik
-
KAI Mulai Gunakan Biodiesel B50 secara Bertahap pada Lokomotif