- 67% perusahaan tak rekrut karyawan baru & 50% pilih tidak ekspansi hingga 5 tahun ke depan.
- Investasi menjauhi sektor padat karya meski pengangguran masih tembus 7,35 juta orang.
- Biaya pesangon RI 240% lebih tinggi dari pesaing, picu relokasi industri ke luar negeri.
Suara.com - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengungkapkan kondisi mengkhawatirkan terkait penyerapan tenaga kerja nasional.
Dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi IX DPR RI, Selasa (14/4/2026), Apindo menyebutkan bahwa mayoritas perusahaan di Indonesia tidak berencana menambah karyawan dalam waktu dekat.
Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam, memaparkan data survei internal yang menunjukkan 67 persen perusahaan tidak berminat melakukan rekrutmen. Selain itu, sekitar 50 persen perusahaan menyatakan tidak akan melakukan ekspansi dalam lima tahun ke depan.
"Tren investasi saat ini bergeser menjauh dari sektor manufaktur padat karya. Padahal, struktur angkatan kerja kita didominasi tenaga kerja menengah ke bawah yang bergantung pada sektor tersebut," ujar Bob. Ia menekankan perlunya regulasi yang mampu memproteksi buruh tanpa menghambat masuknya investasi.
Senada dengan Apindo, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyoroti adanya tekanan struktural pada pasar kerja. Meski pertumbuhan ekonomi mencapai 5,39 persen, angka pengangguran masih menyentuh 7,35 juta orang dengan 57,7 persen pekerja berada di sektor informal berproduktivitas rendah.
Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Ketenagakerjaan, Subchan Gatot, menjelaskan bahwa daya saing Indonesia melemah akibat tingginya biaya non-upah, terutama pesangon yang mencapai 240 persen lebih tinggi dibanding negara pesaing.
"Di Indonesia, kewajiban pesangon bisa mencapai 19 bulan gaji, sementara di Vietnam hanya sekitar 5 bulan. Disparitas ini memicu relokasi industri ke negara seperti Vietnam dan Kamboja," kata Subchan. Selain itu, ketidaksesuaian antara upah minimum dengan kemampuan riil industri manufaktur membuat banyak perusahaan padat karya kesulitan beroperasi secara optimal.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
Terkini
-
Dolar 'Cekik' UMKM: Harga Kedelai Tembus Rp545 Ribu, Perajin Tahu Tempe Terpaksa 'Sunat' Ukuran
-
Putra SBY Jadi Bos Komite Kereta Cepat, Purbaya, Rosan hingga Nusron Wahid Jadi Anak Buah
-
Influencer hingga Selebgram Tak Bisa Lagi Nikmati Pajak UMKM 0,5%
-
Aturan Pajak Purbaya Makin Ketat, PP Baru Siap Kuras Kantong UMKM Beromzet Miliaran
-
Tok! Pemerintah Coret Influencer dan Selebgram dari Daftar PPh Final UMKM 0,5 Persen
-
Rupiah Terus Terpuruk, Djarot PDIP: Rakyat Desa Tak Pakai Dolar tapi Harga Sembako Melambung Tinggi!
-
BTN Kucurkan Kredit Rp1,5 Triliun ke Pindad, Sokong Produksi Maung MV3 Hingga Amunisi
-
Rupiah Sekarat Menuju Rp18.000: Kebijakan BI Dinilai Terlambat Jinakkan Bom Waktu Fiskal dan Global
-
Sindir Jakarta Sibuk Urus IHSG, Andi Widjajanto: Di Jogja Kami Mikir Republik!
-
Harga Kakao Melonjak Tajam Efek Selat Hormuz Ditutup, Kemendag Rilis Patokan Baru