- APTRI menyoroti kebijakan pemerintah di tingkat hulu yang tidak realistis serta keterbatasan akses pupuk dan pembiayaan petani.
- Kesenjangan teknologi produksi menyebabkan biaya operasional tinggi sehingga target swasembada gula nasional menjadi semakin sulit dicapai pemerintah.
- Berbagai hambatan di hulu seperti pupuk, KUR, hingga teknologi membuat daya saing lemah.
Suara.com - Industri gula nasional saat ini menjadi sorotan setelah mencuatnya kerugian yang dialami BUMN PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) atau Sugar Co sebesar Rp 680 miliar. Kerugian ini dinilai bukan sekadar persoalan bisnis, melainkan mencerminkan carut-marut tata kelola industri gula dari hulu hingga hilir.
Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Soemitro Samadikoen, menilai kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa target swasembada gula semakin sulit dicapai jika tidak ada pembenahan menyeluruh.
"SGN itu kan milik rakyat. Kenapa bisa rugi sebanyak itu? Apakah di setiap periode atau interval waktu tidak diadakan evaluasi?" ujar Soemitro di Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Ia menyebut, kegagalan industri gula nasional selama ini tidak bisa terus-menerus dikaitkan dengan faktor impor. Menurutnya, persoalan utama justru terletak pada manajemen dan kebijakan yang tidak tepat.
"Taruhlah sekarang misalnya PT SGN (Sinergi Gula Nusantara) rugi Rp 680 miliar. Kenapa? Karena gula impor? Ya enggak lah. Ya karena nggak bisa, manajemennya nggak bisa kerja," tukas Soemitro.
Karena itu, ia menekankan pentingnya pembenahan dari sisi regulasi dan kebijakan agar produksi gula nasional dapat meningkat dan lebih kompetitif.
"Yang harus dibenahi kebijakannya, dan regulasinya," sambung dia.
Di sisi lain, persoalan di tingkat hulu juga dinilai semakin memperburuk kondisi industri. Kebijakan pemerintah seperti intensifikasi dan ekstensifikasi lahan disebut tidak realistis dan tidak sesuai kondisi lapangan.
"Tahun lalu di bulan Agustus tiba-tiba dicanangkan bongkar ratoon 100 ribu hektar, itu enggak rasional. Sudah bulan Agustus, di mana cari lahannya?" kritiknya.
Baca Juga: Pemerintah Kebut Restrukturisasi BUMN, 15 Perusahaan Logistik Akan Digabung Jadi Satu
Masalah lain yang dihadapi petani adalah keterbatasan pupuk bersubsidi yang hanya diberikan maksimal untuk 2 hektare per Kartu Keluarga. Sementara harga pupuk non-subsidi terus meningkat saat musim tanam.
Selain itu, akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga dinilai belum fleksibel. Batas plafon pinjaman yang ada dinilai menyulitkan petani untuk memperluas lahan.
"Akses perolehan pendanaan ini harus dijaga. Petani yang dikelola tambah luas kok enggak boleh utang lagi karena BI checking? Mana kita bisa nambah area lebih luas kalau dibatasi?" keluh Soemitro.
Di tengah berbagai kendala tersebut, Indonesia juga dinilai tertinggal dari negara lain dalam hal teknologi dan efisiensi produksi gula. Negara seperti Brasil, Australia, hingga Vietnam telah menggunakan mekanisasi penuh, sementara petani Indonesia masih bergantung pada tenaga manual.
Kondisi ini membuat biaya produksi gula nasional tetap tinggi dan sulit bersaing dengan gula impor. Akibatnya, target swasembada gula semakin menjauh.
Soemitro pun meminta pemerintah untuk melibatkan petani dalam setiap penyusunan kebijakan agar solusi yang diambil lebih tepat sasaran.
"Jadikan kita subjek setiap bikin peraturan. Jangan merasa kalau karena sudah sekolah tinggi, S2 atau S3, terus merasa tahu segalanya. Serius enggak pemerintah ini mau swasembada?" pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Sopir Main HP, Truk Molen Terjepit di Jembatan Matraman Sampai Ban Harus Dikempiskan
-
Chemical atau Physical? Ini Jenis Sunscreen Terbaik untuk Anak Menurut Dokter
-
Lionel Messi Bantah Argentina 'Anak Emas' FIFA: Kami ke Final karena Kerja Keras
-
Menembus Pelosok Desa, Kiprah Mantri BRI Perkuat Pertumbuhan Ekonomi Kerakyatan
-
Menapaki Jalan Berlumpur hingga Pelosok Desa, Mantri BRI Menjadi Penggerak Ekonomi Rakyat
-
5 HP Samsung Galaxy A Series Termurah: Layar Super AMOLED, 5G hingga NFC
-
6 Cara Mencuci Sepatu Suede yang Benar, agar Tidak Kusam dan "Botak"
-
Animal Farm dan Cermin Politik Modern: Saat Kesetaraan Hanya Menjadi Slogan
-
Dari Medan Berlumpur hingga Desa Terpencil, Mantri BRI Hadir Menggerakkan Ekonomi Kerakyatan
-
GeForce RTX 3060 Hidup Kembali, GPU 12GB untuk Gaming 1080p dan AI Lokal