- Menteri ESDM menerbitkan Kepmen Nomor 144 Tahun 2026 yang mengatur pedoman harga patokan mineral nikel dan bauksit.
- Reformasi kebijakan ini meningkatkan harga acuan secara signifikan serta memperkuat dasar harga bagi para penambang nikel nasional.
- Penerapan regulasi ini memicu kenaikan harga nikel global, namun menyebabkan tekanan margin keuntungan bagi industri smelter HPAL.
Suara.com - Keputusan Menteri ESDM Nomor 144 Tahun 2026 resmi diterbitkan sebagai perubahan atas Kepmen ESDM Nomor 268.K/2025.
Regulasi terbaru mengenai pedoman harga patokan mineral (HPM) logam dan batubara ini membawa perubahan fundamental pada perhitungan harga komoditas nikel dan bauksit.
Setidaknya dalam regulasi terbaru tersebut terdapat tiga perubahan yang signifikan, yakni penyesuaian mineral ikutan, perubahan formula bauksit, dan perubahan satuan harga.
Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) menilai melalui kebijakan RKAB dan reformasi HPM yang mulai berlaku April ini, menjadi sinyal bahwa Indonesia tidak lagi sekadar mengikuti pasar, tetapi mulai mengatur keseimbangan supply dan pricing secara aktif.
"Reformasi HPM (harga patokan mineral) ini sangat signifikan karena harga acuan naik antara 100 persen hingga 140 persen. Sekarang tidak hanya berbasis nikel, tetapi juga memasukkan kobalt, besi, dan krom sebagai bagian dari valuasi," kata Sekretaris Umum APNI, Meidy Katrin Lengkey lewat keterangannya pada Rabu (15/4/2026).
Selain itu sejak diterbitkan Kepmen ESDM Nomor 144 Tahun 2026 langsung berdampak terhadap harga nikel di bursa London Metal Exchange (LME).
"Harga nikel di bursa LME naik beberapa jam setelah rilis HPM baru, dari USD 17.090 menjadi USD 17.680. Untuk penambang, ini memperkuat dasar harga (price floor)," kata Katrin.
Meski menjadi angin segar bagi penambang karena memperkuat dasar harga (price floor), Meidy memperingatkan adanya tekanan di sisi hilir.
Industri smelter, terutama yang menggunakan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL), kini menghadapi tantangan margin compression atau penyusutan margin keuntungan.
Baca Juga: Indonesia Cari Pasokan Energi Baru, Bahlil Temui Menteri Energi Rusia
"Untuk smelter, terutama HPAL, ini menambah tekanan biaya produksi. Jadi yang terjadi saat ini adalah, bukan kenaikan margin, tapi justru margin compression di tengah rantai industri," katanya.
Di samping itu, APNI mengungkap sejumlah tantangan yang dihadapi industri pertambangan nikel. Saat ini pasar nikel global masih berada dalam fase oversupply jangka pendek, terutama dipicu oleh lemahnya permintaan baterai dari China.
Kemudian harga sulfur yang naik signifikan di atas USD 900 per ton yang berdampak terhadap HPAL karena menyebabkan adanya tambahan biaya sekitar USD 4.000 per ton nikel. Lalu, ketergantungan Indonesia pada pada impor sulfur, ketika terdapat gangguan geopolitik dapat langsung mempengaruhi produksi nasional.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
Pilihan
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
Terkini
-
Program 3 Juta Rumah Libatkan 185 Industri dan Serap Tenaga Kerja
-
Program Gentengisasi Digeber, 40 Ribu Rumah di Jabar Dapat Bantuan
-
Anggaran Subsidi Energi Terus Bengkak, Insentif EV Perlu Diberlakukan Lagi?
-
Alasan Harga Emas Justru Turun di Tengah Konflik
-
Di saat Harga Avtur Melambung, Maskapai Vietnam Justru Agresif Tambah Frekuensi Penerbangan
-
Pemerintah Umumkan Respons Pembelaan Investigasi Dagang AS Hari Ini
-
Airlangga Akui AS Penyumbang Surplus Perdagangan dan Destinasi Ekspor Terbesar RI
-
Airlangga Ungkap Alasan Cicilan Kopdes Merah Putih Dibayar dari APBN
-
Rumah Murah di Bawah Rp 100 Juta Mulai Diburu Masyarakat
-
Utang Luar Negeri RI Tembus Rp 7.509 Triliun per Februari, Masih Aman?