Bisnis / Energi
Senin, 20 April 2026 | 16:15 WIB
Petugas mengangkat nozzle mesin pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax Turbo usai melayani pelanggan di SPBU COCO Jalan Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah. [ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/tom].
Baca 10 detik
  • Pertamina menaikkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex secara signifikan pada tahun 2026.
  • Kenaikan harga BBM nonsubsidi tersebut tidak memengaruhi tingkat konsumsi masyarakat secara luas karena pangsa pasarnya terbatas.
  • Riset BRI Danareksa menyatakan kenaikan harga ini hanya memberikan dampak inflasi marginal bagi ekonomi secara keseluruhan.

Suara.com - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mulai jadi bahan gunjingan masyarakat. Namun, kali ini bukan BBM jenis Pertamax yang naik, melainkan Pertamax Turbo dan Solar nonsubsidi atau Dexlite Series.

Adapun, harga BBM Pertamax Turbo naik tajam dari Rp 13.100 menjadi Rp 19.400 per liter. Sedangkan, harga Dexlite telah tembus Rp 23.600 per liter dan Pertamina Dex dibanderol Rp 23.900 liter.

Kenaikan juga terjadi di SPBU swasta yang harga BBM nonsubsidi meroket tinggi.

Namun, kenaikan harga BBM nonsubsidi ini tampaknya tidak berpengaruh ke tingkat konsumsi. BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya menyebut,

BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya menyebut kenaikan harga BBM itu tak berpengaruh pada inflasi. Walaupun, BBM non-subsidi mencakup sekitar 44 persen dari total konsumsi, tapi umumnya dibeli oleh orang kaya atau berpenghasilan tinggi.

Petugas mengganti papan informasi harga BBM jenis Pertamax di sebuah SPBU di Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa (3/1/2023). [Suara.com/Alfian Winanto]

"Tekanan inflasi dari penyesuaian harga non-subsidi relatif lebih terbatas dan terutama beroperasi di margin, daripada menjadi pendorong utama inflasi secara keseluruhan," Tulis BRI Danareksa dalam risetnya, Senin (20/4/2026).

Secara historis, setiap kenaikan Rp 1.000 pada BBM kelas atas tersebut hanya berkontribusi sekitar 0,02 hingga 0,15 poin persentase terhadap inflasi jauh lebih rendah dibandingkan dampak dari BBM bersubsidi.

Bahkan, berdasarkan perhitungan linear, kenaikan harga terbaru diperkirakan hanya memberikan tambahan inflasi sekitar 0,17 hingga 1,26 poin persentase. Namun dampak riil yang dirasakan kemungkinan lebih kecil, mendekati batas bawah dari estimasi tersebut.

BRI Danareksa juga menilai pola kenaikan harga tahun ini berbeda dengan 2022. Kala itu, penyesuaian harga dilakukan secara bertahap dalam beberapa bulan, sebelum akhirnya mereda dalam waktu relatif singkat.

Baca Juga: Kuat di Domestik, Kompetitif di Pasar Global: 4.090 Pelaut Indonesia Jadi Tulang Punggung Pertamina

Sebaliknya, pada 2026 kenaikan harga terjadi lebih cepat dan terkonsentrasi di awal, sehingga memicu guncangan jangka pendek yang lebih tajam, namun tetap terkendali.

"Dengan basis pengguna yang lebih sempit dan keterkaitan yang terbatas dengan konsumsi massal, kenaikan ini seharusnya hanya menambah tekanan inflasi marginal," tulis riset tersebut.

Load More