- Aliansi BRICS kini menguasai lebih dari 6.000 ton emas untuk memperkuat kedaulatan moneter serta mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
- Sanksi ekonomi terhadap Rusia pada tahun 2022 memicu BRICS beralih ke emas guna menghindari risiko pembekuan aset luar negeri.
- Aksi beli emas oleh BRICS menekan dominasi dolar AS dan memicu potensi krisis pendanaan defisit serta inflasi Amerika.
Suara.com - Negara-negara yang tergabung dalam aliansi BRICS (akronim awal dari Brazil, Russia, India, China, dan South Africa) semakin agresif menimbun cadangan emas fisik dalam beberapa tahun terakhir.
Harga emas dunia saat ini, Selasa (21/4/2026) bergerak menguat di angka US$ 4.822. Menguat tipis secara kontinyu.
Langkah borong emas ini kian menekan Amerika Serikat karena berkaitan dengan de-dolarisasi, sementara AS masih sibuk membakar anggaran dengan perang melawan Iran.
Saat ini, blok ekonomi yang telah berekspansi menjadi 10 negara tersebut menyumbang sekitar 40% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dunia dan mewakili hampir 50% populasi global.
Secara kumulatif, BRICS+ kini diperkirakan menguasai cadangan emas lebih dari 6.000 ton. Di tengah lonjakan harga emas global, manuver ini bukan lagi sekadar strategi diversifikasi portofolio investasi biasa.
Langkah ini merupakan sinyal nyata dari pergeseran fundamental mengenai cara negara-negara berkembang (emerging markets) mendefinisikan ulang kedaulatan moneter dan keamanan sistem keuangan global mereka.
Dorongan utama di balik aksi borong emas ini adalah sentimen de-dolarisasi. Selama beberapa dekade pasca-Perjanjian Bretton Woods, dolar Amerika Serikat (AS) memonopoli cadangan devisa dunia.
Namun, data menunjukkan dominasi tersebut terus tergerus, menyusut dari 71% pada tahun 1999 menjadi sekitar 57% pada hari ini.
Alih-alih beralih ke mata uang fiat lain seperti Euro atau Yuan, BRICS memilih emas karena aset ini tidak memiliki kewajiban pihak lawan (counterparty risk) dan tidak terikat pada kebijakan bank sentral mana pun.
Baca Juga: Alasan Harga Emas Justru Turun di Tengah Konflik
Momentum krusial dari pergeseran ini terjadi pada tahun 2022, ketika negara-negara Barat menjatuhkan sanksi ekonomi dengan membekukan sekitar US$300 miliar cadangan devisa milik Rusia.
Peristiwa ini mengirimkan pesan peringatan keras kepada negara-negara berkembang bahwa cadangan devisa dalam bentuk instrumen dolar AS dapat dipersenjatai (weaponized) secara geopolitik.
Emas fisik yang disimpan di brankas domestik menawarkan kekebalan dari ancaman tersebut, memastikan bahwa kekayaan negara tidak dapat disita atau "Dibekukan" oleh otoritas asing.
Analisis Ekonomi: Efek Domino bagi Amerika Serikat
Dari kacamata makroekonomi, aksi BRICS membuang dolar dan menggantinya dengan emas membawa dampak serius bagi perekonomian Amerika Serikat.
Hal ini dapat dibedah melalui Dilema Triffin (Triffin Dilemma), sebuah konsep dari ekonom Robert Triffin. Konsep ini menjelaskan konflik kepentingan ketika mata uang nasional (dolar AS) berfungsi sebagai mata uang cadangan global. Untuk menyediakan likuiditas dunia, AS harus terus mencetak dolar dan mengalami defisit perdagangan.
Berita Terkait
-
Waduh! Harga Emas Antam Terjun Bebas Rp44 Ribu, Cek Rinciannya Hari Ini
-
Kurs Rupiah Hari Ini Menguat ke Rp17.172 per Dolar AS, Ini Penyebabnya
-
Harga Emas Antam Terus Anjlok Hari Ini
-
Update Harga Emas Pegadaian 20 April 2026: Antam, UBS, dan Galeri24
-
Bareskrim Bongkar Jaringan Dolar AS Palsu di Banten: 5 Pelaku Ditangkap, Ratusan Lembar Disita
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan