Bisnis / Keuangan
Senin, 20 April 2026 | 09:41 WIB
Petugas menunjukkan mata uang Rupiah dan Dolar AS di tempat penukaran uang. [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • Nilai tukar rupiah menguat 0,10 persen ke level Rp17.172 per dolar AS pada perdagangan Senin, 20 April 2026.
  • Kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM non-subsidi menjadi faktor utama pendorong penguatan rupiah demi menjaga kesehatan fiskal negara.
  • Ketidakpastian geopolitik di Selat Hormuz serta perundingan AS-Iran membatasi laju penguatan rupiah dalam rentang Rp17.100 hingga Rp17.200.

Suara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau bergerak menguat tipis pada perdagangan hari ini.

Sentimen positif dari kebijakan domestik terkait harga energi. Sebab, harga energi menjadi penopang utama, di tengah ketidakpastian geopolitik global yang masih membayangi.

Berdasarkan, data Bloomberg, rupiah dibuka Rp17.172. Level ini membuat rupiah menguat 0,10 persen dibandingkan perdagangan Jumat (17/4/2026) di level Rp17.188

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa penguatan rupiah didorong oleh langkah pemerintah yang menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi. Kebijakan ini dinilai pasar sebagai langkah strategis untuk menjaga kesehatan fiskal.

"Rupiah menguat terhadap dolar AS menyusul langkah pemerintah menaikkan harga BBM non-subsidi yang dianggap dapat mengurangi beban APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara)," kata Lukman Leong saat dihubungi Suara.com.

Meski bergerak di zona hijau, penguatan rupiah cenderung terbatas. Lukman menjelaskan ada beberapa faktor eksternal yang menahan laju apresiasi mata uang Garuda. Salah satunya adalah ketidakpastian situasi di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia.

Selat Hormuz

Selain itu, pelaku pasar saat ini tengah berada dalam posisi wait and see atau menunggu kepastian terkait perundingan antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, kabar mengenai perundingan yang dijadwalkan pada hari Senin tersebut masih simpang siur dan belum dapat dipastikan kebenarannya.

"Ketidakpastian seputar status Selat Hormuz membatasi penguatan. Investor juga masih cenderung menunggu hasil perundingan AS-Iran yang statusnya masih belum pasti atau simpang siur," tambah Lukman.

Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang akan berlangsung pada Rabu mendatang. Keputusan terkait kebijakan moneter dan suku bunga acuan (BI Rate) diprediksi akan menjadi arah baru bagi pergerakan rupiah di sisa pekan ini.

Baca Juga: Di Tengah Rupiah Melemah, Prodia Justru Gas Bisnis Stem Cell

Dengan berbagai sentimen tersebut, Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang yang cukup lebar hari ini.

"Pergerakan rupiah hari ini diperkirakan berada di kisaran (range) Rp17.100 hingga Rp17.200 per dolar AS," pungkasnya. Sementara itu beberapa mata uang Asia mengalami pelemahan.

Salah satunya, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah anjlok 0,94 persen. Disusul, baht Thailand yang ambles 0,31 persen.

Lalu, ada dolar Singapura turun 0,24 persen dan yen Jepang tertekan 0,14 persen. Lalu yuan China yang terkoreksi 0,02 persen. Berikutnya, dolar Hong Kong tergelincir 0,02 persen dan ringgit Malaysia melemah tipis 0,008 persen.

Sedangkan, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,26 persen. Diikuti, peso Filipina yang menguat tipis 0,05 persen terhadap the greenback.

Load More