- Pengembang hadapi tekanan suku bunga tinggi, regulasi, dan perubahan tren pasar.
- CEO Steven Kusumo tekankan perencanaan disiplin dan keputusan terukur hadapi ketidakpastian.
- Sinergi dan ketepatan membaca pasar jadi modal utama keberlanjutan proyek properti.
Suara.com - Industri properti nasional resmi memasuki fase "new normal" yang penuh dengan ranjau ekonomi dan regulasi. Suku bunga yang masih nangkring di level tinggi, fluktuasi nilai tukar yang liar, hingga daya beli masyarakat yang loyo memaksa para pengembang untuk memutar otak lebih keras dalam mengeksekusi proyek.
Meski Bank Indonesia (BI) berupaya menjaga stabilitas moneter dan pemerintah mengguyur insentif sektor perumahan, nyatanya "obat" tersebut belum sepenuhnya ampuh meredam ketidakpastian di lapangan. Kondisi ini diperumit dengan pergeseran selera konsumen yang kini lebih melirik kawasan terpadu (mixed-use) dengan fasilitas komplet, ketimbang sekadar hunian konvensional.
CEO Agung Sedayu Group (ASG), Steven Kusumo, mengakui bahwa kompleksitas telah menjadi musuh utama sekaligus tantangan terbesar bagi para pengembang saat ini. Menurutnya, industri properti tidak lagi bisa berjalan dengan gaya lama yang spekulatif.
“Tantangan terbesar sebagai developer saat ini adalah kompleksitas. Mulai dari dinamika ekonomi, perubahan regulasi, hingga ekspektasi pasar yang semakin tinggi,” ujar Steven dalam keterangannya, Jumat (24/4/2026).
Steven menekankan bahwa tekanan yang datang dari berbagai arah ini harus diantisipasi secara simultan sejak tahap perencanaan. Baginya, kunci untuk bertahan di tengah badai ekonomi adalah kedisiplinan dalam mengambil keputusan bisnis.
“Kami menyikapinya dengan perencanaan yang disiplin dan pengambilan keputusan yang terukur,” tegasnya.
Selain disiplin internal, Steven menilai kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) menjadi strategi krusial. Sinergi ini dianggap mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan pasar yang dinamis dengan visi pengembangan jangka panjang perusahaan.
Di tengah persaingan yang makin sengit, kecepatan beradaptasi terhadap tren bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Ketepatan dalam membaca arah pasar akan menentukan apakah sebuah proyek properti tetap relevan atau justru ditinggalkan oleh konsumen yang semakin selektif.
Baca Juga: BI Kembali Pertahankan Suku Bunga Acuan di 4,75 Persen
Berita Terkait
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
Terkini
-
Menakar Kemandirian Ekonomi Perempuan RI
-
KIPP Harita Group Dorong Rekor Pertumbuhan Ekonomi Kayong Utara Tembus 5,89% di 2025
-
Harga Minyak Brent Tembus 106 Dolar AS, Dipicu Ketegangan Geopolitik dan Aksi Militer Iran
-
Rupiah Hari Ini Menguat Tipis ke Rp17.284 per Dolar AS
-
Update Harga Pangan 24 April 2026: Cabai Rawit dan Bawang Putih Anjlok
-
BI Guyur Insentif Rp427,9 Triliun Buat Perbankan, Bank Asing Juga Kebagian
-
IHSG Masih Rungkad di Jumat Pagi ke level 7.378
-
Emas Antam Stagnan, Harganya Masih Rp 2.805.000/Gram
-
Tak Ada Prioritas, Danantara Pastikan Semua Merger BUMN Rampung Tahun Ini
-
Kisah Inspiratif! Istri Nelayan Raup Penghasilan Berkat Program Harita Group