- Josua Pardede prediksi suku bunga BI bertahan 4,75% demi jaga Rupiah.
- Rupiah tembus Rp17.127 jadi alasan utama BI fokus stabilitas daripada pelonggaran.
- Cadangan devisa USD148,3 M jadi modal kuat BI hadapi ketidakpastian global.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) diprediksi akan mengambil langkah konservatif dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini. Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memperkirakan bank sentral akan mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen demi membentengi nilai tukar Rupiah yang tengah dihantam ketidakpastian global.
Langkah ini dinilai paling rasional di tengah kondisi pasar yang penuh drama. Menurut Josua, prioritas kebijakan moneter saat ini bukan lagi soal melonggarkan likuiditas demi genjot ekonomi, melainkan murni soal perlindungan terhadap volatilitas eksternal.
Fokus utama BI saat ini adalah memperkuat "bantalan" nilai tukar. Bukan tanpa alasan, kurs USD/IDR sempat menyentuh angka Rp17.127 pada pertengahan April 2026. Meskipun pasar sempat terlihat tenang di awal pekan, fondasinya dianggap masih sangat rapuh.
"Pasar masih menakar risiko geopolitik yang fluktuatif. Sifatnya masih bergantung pada berita harian," ujar Josua kepada wartawan, Rabu (22/4/2026).
Selain faktor global, kenaikan harga BBM nonsubsidi juga masuk dalam radar pantauan. BI diyakini tetap waspada terhadap efek domino pada biaya logistik dan ekspektasi inflasi masyarakat, meskipun dampak langsungnya masih terbatas.
Harapan pasar untuk melihat suku bunga turun tampaknya harus disimpan dulu. Josua menegaskan, ruang penurunan BI Rate praktis tertutup jika harga minyak dunia bertahan di rata-rata USD80 per barel dan rupiah terus "nyaman" mendekati level psikologis Rp17.000.
Meski dibayangi tekanan, ekonomi domestik sebenarnya masih menunjukkan tajinya. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) kokoh di level 122,9 dan PMI Manufaktur masih berada di zona ekspansi (50,1).
BI juga punya modal kuat dengan cadangan devisa sebesar USD148,3 miliar per akhir Maret 2026. Namun, amunisi ini kemungkinan besar tidak akan dipakai untuk memangkas bunga, melainkan untuk intervensi pasar melalui instrumen DNDF, pasar spot, dan lelang SRBI.
"Skenario mempertahankan stabilitas moneter menjadi alasan utama mengapa posisi BI Rate April 2026 diperkirakan belum akan berubah," tandas Josua.
Baca Juga: Rupiah Terus Menguat pada Rabu Sore, BI Perlu Naikkan Suku Bunga untuk Jaga Momentum
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
Terkini
-
Gantikan Nanik, Sudaryono Bisa Bereskan BGN dalam Dua Bulan Saja
-
Donald Trump: Iran Mau Banget Bertemu, Tapi Amerika Tak Tertarik
-
Buntut Ucapan Lu Punya Otak Gak?, Hotman Paris Resmi Dipolisikan PWI Malang Raya
-
Review Serum Viva untuk Flek Hitam dan Anti-Aging, Usia 40 Tahun ke Atas Wajib Tahu!
-
7 Macam Gorengan Korea Buat Teman Makan Tteokbokki, Gurih dan Renyah!
-
Mengapa Kritik Akademik Lebih Sibuk Dipersoalkan daripada Masalahnya?
-
Sudaryono Siap Jadi Kepala BGN Gantikan Nanik S Deyang: Doakan Saya Amanah
-
6 Rekomendasi Sunscreen yang Aman untuk Ibu Hamil sesuai Review dan Harga
-
Densus 88 Sikat Provokator Digital di Lampung
-
Anak 16 Tahun Mau Bakar Gereja, Diduga Diperintahkan ISIS